Kerajaan Nasional yang Pertama di Indonesia

Image Posted on Updated on

Sriwijaya Area
Sriwijaya Area

 

Di dalam catatan sejarah Dinasti Tang dikatakan bahwa pada abad ke-7 di pantai timur Sumatera Selatan telah berdiri Kerajaan Sriwijaya (dalam bahasa cina yaitu Shih-li-fo-shih). Sumber sejarah yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya sendiri diperoleh dari enam buah prasasti yang tersebar di Sumatera bagian selatan dan Pulau Bangka. Dalam sejarah Indonesia klasik, Kerajaan Sriwijaya selalu disebut-sebut sebagai kerajaan yang megah dan jaya yang melambangkan kejayaan bangsa Indonesia di masa lalu.
Sumber-sumber asing yang menerangkan Kerajaan Sriwijaya cukup banyak. Sumber-sumber itu, antara lain prasasti Ligor (775 M) di pantai timur Thailand Selatan, prasasti Nalanda (pertengahan abad ke-9), dan prasasti Tanjore (1030 M) di India.
I. Faktor-Faktor Yang Mendorong Perkembangan Kerajaan Sriwijaya
Beberapa faktor yang mendorong perkembangan Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan besar antara lain sebagai berikut.
1.) Letaknya yang strategis di Selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran dan perdagangan internasional.
2.) Kemajuan kegiatan perdagangan antara India dan Cina yang melintasi Selat Malaka sehingga membawa keuntungan yang sangat besar bagi Sriwijaya.
3.) Keruntuhan Kerajaan Funan di Vietnam Selatan akibat serangan Kerajaan Kamboja memberikan kesempatan bagi perkembangan Sriwijaya sebagai negara maritim (sarwajala), yang selama abad ke-6 dipegang oleh Kerajaan Funan.
II.Prasasti-Prasasti Kerajaan Sriwijaya
Kebesaran Kerajaan Sriwijaya antara lain diberitakan dalam enam buah prasasti peninggalannya.
1.) Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti ini ditemukan di Kedukan Bukit, dekat Palembang, berangka tahun 605 Saka (±683 Masehi) menceritakan perjalan suci yang dilakukan oleh Dapunta Hyang dengan perahu. Ia berangkat dari Minangtamwan dengan membawa 20.000 tentara. Ia berhasil menaklukan beberapa daerah sehingga Sriwijaya menjadi makmur.
2.) Prasasti Talang Tuo
Prasasti Talang Tuo (dekat Palembang) yang berjangka tahun 684 Masehi berisi berita tentang pembuatan taman riksetra atas perintah Dapunta Hyang Sri Jayanegara untuk kemakmuran semua makhluk.
3.) Prasasti Kota Kapur
Prasasti yang berangka tahun 686 Masehi ini ditemukan di Kota Kapur, Pulau Bangka. Prasasti ini menyebutkan adanya ekspedisi Sriwijaya ke daerah seberang lautan (Pulau Jawa) untuk memperluas kekuasaannya dengan menundukkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, seperti Melayu, Tulangbawang, dan Tarumanegara.
4.) Prasasti Telaga Batu
Prasasti ini tidak berangka tahun. Isinya mengenai kutukan-kutukan yang seram terhadap siapa saja yang melakukan tindak kejahatan serta tidak mentaati Sang Raja.
5.) Prasasti Karang Berahi
Prasasti ini ditemukan di daerah Karang Berahi, Jambi Hulu. Berangka tahun 686 Masehi dengan isi permintaan kepada dewa yang menjaga Sriwijaya dan untuk menghukum setiap orang yang bermaksud jahat terhadap Sriwijaya.
6.) Prasasti Ligor
Prasasti berangka tahun 775 Masehi ini ditemukan di Tanah Genting Kra, Ligor. Menceritakan bahwa Raja Dharmasetu berhasil mengembangkan sayap kerajaan sampai ke Semenanjung Melayu. Hal ini juga dibuktikan dengan adanya pangkalan di Semenanjung Melayu, di daerah Ligor.
Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Balaputradewa. Beliau mengadakan hubungan dengan Raja Dewapadadewa dari India. Dalam Prasasti Nalanda yang berasal dari sekitar tahun 860 M disebutkan bahwa Balaputradewa mengajukan permintaan kepada Raja Dewapaladewa dari Benggala untuk mendirikan biara bagi para mahasiswa dan pendeta Sriwijaya yang belajar di Nalanda. Para pemuda Sriwijaya yang belajar agama Buddha tinggal di wihara tersebut untuk beberapa tahun lamanya. Seusai menempuh pendidikan di sana, mereka kembali ke Sriwijaya dan kemudian menyebarluaskan pengetahuan agama Buddha kepada masyarakat di Tanah Sriwijaya. Balaputradewa putra Samaratungga dari Dinasti Syailendra yang memerintah di Jawa Tengah tahun 812-824 M.
Kerajaan Sriwijaya ternyata juga menjalankan politik ekspansif (perluasan wilayah kekuasaan). Pada abad ke-9 Masehi  Raja Balaputradewa dapat memperluas wilayah Sriwijaya. Wilayah itu meliputi Sumatera, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Bangka, Belitung, Malaysia, Singapura, dan Thailand Selatan. Oleh karena itu, Sriwijaya dapat dikatakan sebagai negara nasional pertama Indonesia.
Kerajaan Sriwijaya terletak pada wilayah yang strategis, yaitu di jalur pelayaran India-Cina. Letak strategis di tepi selat Malaka ini memberi peluang untuk meningkatkan kemajuan di sektor ekonomi, terutama bidang perdagangan. Banyaknya kapal-kapal asing yang singgah menyebabkan Sriwijaya maju pesat. Untuk menjamin keamanan kawasan, Sriwijaya membangun armada laut yang sangat kuat. Hal ini membuat kapal-kapal asing yang lewat merasa aman dari gangguan perompak. Penguatan armada laut Sriwijaya di laut tersebut semula untuk tujuan melindungi kepentingan para pedagang. Lambat laun Sriwijaya berkembang menjadi sebuah kerajaan yang amat memperhatikan aspek bahari atau kelautan. Kondisi ini telah mewujudkan Sriwijaya sebagai negara maritim yang sangat kuat.
Sriwijaya pernah pula menjadi pusat pendidikan dan pengembangan agama Buddha. Seorang biksu Buddha dari Cina yang bernama I-Tsing tahun 671 berangkat dari Kanton ke India untuk bejalar agama Buddha. Beliau singgah di Sriwijaya selama enam bulan untuk belajar bahasa Sansekerta. Di Sriwijaya mengajar seorang guru agama Buddha terkenal bernama Sakyakirti yang menulis buku berjudul Hastadandasastra. Para biksu Cina yang hendak belajar agama Buddha ke India dianjurkan untuk belajar di Sriwijaya. selama satu atau dua tahun. Berikutnya pada tahun 717 dua pendeta Tantris bernama Wajrabodhi dan Amoghawajra datang ke Sriwijaya. Kemudian, antara tahun 1011-1023 M datang pula pendeta dari Tibet bernama Attisa untuk belajar agama Buddha kepada mahaguru di Sriwijaya bernama Dharmakirti. Salah satu peninggalan kerajaan Sriwijaya adalah Candi Muara Takus.
Kebesaran Kerajaan Sriwijaya mulai surut sejak abad ke-11 Masehi. Kemunduran itu bermula dari serangan besar-besaran yang digencarkan oleh Kerajaan Cola (India) di bawah pimpinan Raja Rajendra Coladewa pada tahun 1017 dan tahun 1025. Sebelum serangan itu terjadi, sebenarnya antara Sriwijaya (di masa pemerintahan Cudamaniwarmadewa) dan Cola telah terjalin hubungan persahabatan yang sangat baik. Namun, semenjak Sriwijaya menerapkan aturan yang sangat ketat di perariran Selat Malaka, perahu-perahu asing yang melewati wilayah itu mendapat perlakuan kurang baik. Perahu-perahu yang lewat dipaksa singgah di Pelabuhan Jambi. Perahu-perahu yang tidak mau singgah akan dikepung dan diserang. Perlakuan Sriwijaya tersebut dianggap oleh Kerajaan Cola sebagai permusuhan sebab telah menghambat kegiatan perdagangannya dengan Negeri Cina. Dalam serangan tersebut, Kerajaan Cola berhasil menawan Raja Sriwijaya, Sanggramawijayatunggawarman. Serangan Cola ternyata tidak dimaksudkan untuk menjadikan Kerajaan Sriwijaya sebagai negara bawahan. Oleh karena itu, Sriwijaya masih menyandang kedudukan sebagai negara merdeka, namun tetap mengalai kemunduran dan semakin melemah. Peristia serangan Kerajaan Cola dapat diketahui dari Prasasti Tonjore (1030).
Selain serangan Kerajaan Cola, kemunduran Sriwijaya juga disebabkan oleh ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Singasari pada tahun 1275. Ekspedisi Pamalayu merupakan misi Kerajaan Singasari di bawah Raja Kertanegara yang ingin melemahkan Sriwijaya dengan cara menjalin hubungan persahabatan dengan Melayu. Ekspedisi Pamalayu ternyata berhasil membangun kerja sama di antara kedua negara sehingga Melayu lepas dari Kerajaan Sriwijaya dan muncul sebagai kekuatan baru di Sumatera. Akibat ekspedisi Pamalayu, Sriwijaya terpotong wilyah kekuasaannya di sebelah utara dan timur. Dengan demikian, peranan Sriwijaya sebagai negara maritim dan pusat perdagangan semakin tenggelam akibat ekspedisi Pamalayu.
Selain itu, munculnya sebuah kerajaan baru di Sumatera, yakni Kerajaan Islam Samudera Pasai yang mengambil alih posisi Kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian, menyebabkan semakin menyempitnya wilayah dan memperkecil pengaruh Kerajaan Sriwijaya.
Serangan Kerajaan Majapahit, di bawah komando Adityawarman atas perintah Mahapatih Gajah Mada pada tahun 1477 M yang mengakibatkan Sriwijaya menjadi taklukan Majapahit.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s