La Tahzan, Innallaha Ma’ana (QS, 9:40)

Selawat dan salam diucapkan kepada Junjungan Besar Nabi Muhammad s.a.w. , ahli keluarga dan sahabat-sahabat baginda dan mereka-mereka yang mengikuti mereka dari masa ke masa sehingga ke hari kiamat.

Semoga sahabat semua berada di dalam keadaan sihat wal-afiat, beriman, bertakwa dan bergembira di atas nikmat dan rahmat yang telah dikurniakan Allah s.w.t kepada kita semua.

Nabi s.a.w. berkata kepada Sayyidina Abu Bakar r.a. ketika Nabi dan beliau bersembunyi di Gua Tsur :
La Takhaf Wa La Tahzan. Innallaha Ma’ana
“Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati. Sesungguhnya Allah ada bersama kita”

Firman Allah s.w.t.
Maksudnya :”Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.”
(Surah Ali Imran Ayat 139)

Firman Allah s.w.t.
Maksudnya : ” Apakah manusia itu mengira bahawa mereka itu dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi.”

Apabila dilanda musibah atau kesedihan, Allah s.w.t. mengajar kita :
Firman Allah s.w.t maksudnya :
“(iaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan :’Innaa lilaahi wa innnaa ilaihi raji’uun.”
(Surah Al Baqarah ayat 156)

“Ingatlah hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
(Surah Al Ra’ad ayat 28)

”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(Surah Al Baqarah ayat 286)

Sahabat yang dimuliakan,
Di sini saya ingin paparkan kesedihan dan penderitaan puteri Nabi s.a.w. Fatimah Azzahrah sebelum akhir hayatnya :

Hari demi hari dilaluinya dengan penderitaan yang tak kunjung berakhir, badan puteri Nabi ini semakin teriris pedih dan tubuhnyapun semakin tak berdaya. Ketika kekuatan fisiknya semakin melemah kerana sakit yang dideritannya. Azzahra berupaya memandikan puteranya Al-Hasan dan Al-Husain, menggantikan pakaian mereka, kemudian mengirim mereka kepada sepupunya, walaupun demikian ia berupaya menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan kedua anakanya.

Kemudian Azzahra memanggil suami tercintanya ke sisinya seraya berkata, “Ali suamiku yang tercinta, kamu sangat mengetahui mengapa saya lakukan semua itu. Maafkan segala kesalahan saya, mereka telah demikian menderita bersama saya selama sakit saya, sehingga saya ingin melihat mereka bahagia pada hari terakhir hidupku. Wahai Ali kamu pun tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir saya. Saya gembira tetapi juga bersedih. Saya senang bahwa penderitaan saya akan segera berakhir dan saya akan bertemu dengan ayah saya, dan sedih kerana harus berpisah denganmu. Mohon wahai Ali catatlah apa yang akan saya katakan dan kerjakanlah apa yang saya inginkan. Sepeninggal saya kamu boleh menikahi siapa saja yang kamu sukai tetapi hendaklah kamu nikahi Yamamah sepupuku, ia mencintai anak-anakku, dan Husain sangat dekat kepadanya.

Wahai Ali kuburkan saya di malam hari dan jangan biarkan orang-orang yang telah sedemikian kejam kepada saya turut menyertai penguburan saya. Jangan biarkan kematian saya mengecilkan hatimu. Kamu harus melayani Islam dan kebenaran untuk waktu yang lama. Janganlah penderitaanku memahitkan kehidupanmu. Berjanjilah pada saya wahai Ali.” Dengan berlinang air mata, Ali menjawab, “Ya wahai istriku tercinta, aku berjanji.”

Fathimah lalu berkata lagi, “Ali, saya tahu betapa engkau sangat mencintai anak-anak saya. Namun, sangatlah berhati-hati dengan Husain, ia sangat mencintai saya dan ia akan sangat sedih kehilangan saya. Jadilah ibu baginya. Hingga menjelang sakit saya ini, ia biasa tidur ke dada saya, dan sekarang ia kehilangan itu.”

Ali sedang mengelus-elus tangan yang patah itu, tak kuasa menahan airmatanya hingga tetesannya terjatuh ke tangan istrinya. Fathimah mengangkat wajahnya seraya berkata, “Jangan menangis wahai suamiku, saya tahu dengan wajah lahirmu yang tampak kasar betapa lembut hatimu, engkau telah menderita terlalu banyak dan masih akan menderita lebih banyak lagi.”

Di malam terakhir kehidupunnya didunia yang fana ini, sambil menahan rasa sakit yang menimpanya, Sayyidah Fathimah Azzahra menengadahkan kedua tangannya ke langit dan berdoa untuk pengikut dan pencinta setia keluarga Nabi. Dengan menyebut ayah, suami, dan putera-puteranya beliau memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala’, “Wahai Tuhan-ku, sungguh aku memohon kepada-Mu melalui Muhammad al-Musthofa dan kerinduannya kepadaku, melalui suamiku Ali al-murtadho serta dukanya terhadapku, melalui al-Hasan al-Mujtaba dan tangisannya atasku, melalui puteraku al-Husain As Syahid dan kedukaannya terhadapku, melalui puteri-puteriku dan duka mereka semua atasku. Sungguh Engkaulah yang paling pengasih dari segala yang mengasihi. Tuhanku, Penghuluku, aku bermohon kepada-Mu melalui orang orang pilihan-Mu dan tangisan putera-puteraku kerana berpisah denganku, agar Engkau mengampuni para pendosa dan ahli maksiat dari pengikut keturunanku.”

Inilah satu kisah sedih yang berlaku kepada keluarga Nabi s.a.w di sa’at kematian Sayyidah Fatimah Azzahra. Setiap yang hidup akan mati , dan kematian akan datang bila-bila masa.

Oleh itu hadapilah segala ujian dan dugaan dan bersabar dan bertenanglah menghadapinya. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar”…..

Qatar Dikucilkan, Israel Bersorak, Palestina Merana

Genap dua pekan Qatar telah dikucilkan oleh tiga negara tentangganya di Teluk — Arab Saudi, Bahrain, dan Uni Emirat Arab (UEA).  Ditambah lagi oleh Mesir, Yaman, Libia, dan Maladewa. Hingga kini belum ada tanda-tanda kapan perseteruan ‘antarsaudara’ itu akan berakhir, meskipun beberapa pihak sudah menawarkan diri jadi penengah.

Lalu siapa yang diuntungkan bila pengucilan negeri kecil di semenanjung Teluk Persia itu terus berkepanjangan? Jawabannya jelas: Zionis Israel!

Mereka akan bersorak gembira setiap terjadi konflik atau perseteruan antarnegara Arab. Mereka, dari dulu hingga sekarang, menginginkan dunia Arab tercerai-berai, terpecah-belah. Mereka menghendaki negara-negara Arab lemah. Sebab bila mereka bersatu dan kuat, tentu tidak susah untuk mengganyang Israel. Maka benarlah peribahasa ‘bersatu kita kuat, bercerai kita runtuh’.

Coba simak data berikut. Negara-negara Arab berjumlah 22, yang tergabung dalam Liga Arab. Dihuni oleh lebih dari 200 juta jiwa. Sebagian sangat kaya. Terutama enam negara yang berserikat dalam Dewan Kerjasama Teluk (Majlis at Ta’awun al Khaliji): Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, Oman, dan Qatar.

Dengan fakta seperti itu rasanya tidak sulit untuk ‘menelan’ negara kecil Israel yang hanya berpenduduk sekitar 8 juta jiwa.  Apalagi negara-negara Arab setiap tahun menggelontorkan jutaan dolar untuk membeli berbagai jenis persenjataan canggih.

Sayangnya, kedigdayaan Arab itu menjadi sirna lantaran mereka berantem sendiri. Berbagai persenjataan canggih bukan untuk menghadapi Israel, tapi justru mempersenjatai diri untuk menghadapi ancaman negara-negara tetangga. Kalau tidak sesama negara Arab, maka dengan negara sesama anggota OKI (Organisasi Kerja Sama Islam), seperti Iran misalnya.

Memang, Israel didukung oleh negara super power Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara Barat. Lengkap dengan segala konspirasinya. Namun sayangnya, negara-negara Arab terpecah-belah dan tercerai-berai. Bahkan mereka — entah sadar atau tidak sadar — mengikuti saja langgam dan permainan konspirasi itu.

Dahulu, ketika Zionis Israel memproklamasikan kemerdekaannya pada 1948, konflik di Timur Tengah disebut sebagai konflik Israel dengan Arab. Namun, seiring perjalanan waktu konflik itu pun ditarik dan dipersempit menjadi hanya antara Israel dan Palestina. Ada kekhawatiran konflik ini pun akan diperkecil menjadi konflik antara Israel dan kelompok Hamas yang kini berkuasa di Gaza.

Hamas sendiri adalah akronim dari Harakat al Muqawwamah al Islamiyah. Ia merupakan kelompok perlawanan terhadap penjajah Israel. Kelompok inilah yang telah beberapa kali melancarkan intifadah alias perlawanan semesta rakyat yang membuat Zionis Israel kalang kabut. Kelompok ini pula yang dengan gagah berani melawan pendudukan Israel ketika menyerang Gaza.

Pada 2006, Hamas menjadi gerakan politik dan memenangkan pemilu, mengalahkan faksi Fatah. Setahun kemudian mereka berkuasa atas wilayah Gaza hingga sekarang. Pada perkembangannya kemudian, lantaran sering merepotkan kolonial Israel, Hamas pun dicap oleh kaum Zionis itu sebagai teroris. Klasifikasi Hamas sebagai kelompok teroris ini kemudian juga diikuti oleh negara-negara yang selama ini mendukung Israel, seperti AS dan beberapa negara Barat lainnya.

Yang menyedihkan, sejumlah negara Arab pun membebek klasifikasi itu, bahwa Hamas adalah kelompok teroris. Hanya Qatar yang tetap mendukung dan membantu Hamas. Bahkan mereka juga melindungi beberapa pimpinan teras yang wanted bagi Zionis Israel dan konco-konconya, untuk tinggal di Doha. Sikap Qatar terhadap Hamas inilah yang menjadi salah satu tuduhan bahwa negara kaya ini mendukung kelompok teroris.

Itu sebabnya pengucilan terhadap Qatar disambut gegap gempita oleh para pemimpin Zionis Israel. Kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu — ketika memperingati 50 tahun kemenangan Perang 1967 melawan negara-negara Arab —, telah terjadi perubahan penting bagaimana negara-negara di kawasan (Timur Tengah) memperlakukan Israel. Negara-negara ini, lanjutnya seperti dikutip media Aljazeera.net, bukan lagi menganggap Israel sebagai musuh, tapi sebagai partner melawan para teroris, yang ia sebut sebagai kelompok Islam radikal.

Bahkan dengan jumawanya Netanyahu juga menyatakan, negara-negara ini (maksudnya mereka yang memutuskan hubungan dengan Qatar) telah melihat kekuatan Israel, yang dibuktikan dengan kemenangan Perang Enam Hari pada 1967. Negara-negara ini dan negara-negara lain di dunia, lanjut Netanyahu, pun telah menghargai perjuangan dan sikap tegas Israel terhadap apa yang ia sebut sebagai teroris dan kelompok agresor. Yang terakhir ini tentu merujuk pada Hamas.

Pandangan yang sama juga disampaikan Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman. Menurutnya, apa yang terjadi — pengucilan Qatar — merupakan bukti lain bahwa, ’’Bahkan negara-negara Arab pun memahami bahaya sebenarnya di seluruh kawasan (Timur Tengah) adalah bukan Israel, bukan Yahudi, dan bukan Zionis, tapi teroris Islam radikal.’’

Lieberman, seperti dikutip media Aljazeera.net (edisi 13 Juni 2017), pun menyerukan agar Israel segera menormalisasi hubungan dengan, yang ia sebut, negara-negara Arab Suni moderat. Normalisasi ini, katanya, tanpa harus menunggu penyelesaian masalah bangsa Palestina.

Menteri Israel ini mencontohkan, normalisasi hubungan Israel dengan Mesir dan Yordania ternyata bisa terwujud tanpa perlu menunggu penyelesaian masalah bangsa Palestina.  Karena itu, katanya, normalisasi hubungan dengan negara-negara Suni moderat justeru akan mendorong percepatan penyelesaian bangsa Palestina baik di Tepi Barat maupun di Gaza.

Bila kita mengikuti logika Lieberman — dan juga para pemimpin Israel lainnya —, sudah semestinya penyelesaian bangsa Palestina menemukan tanda-tanda kesepakatan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Normalisasi hubungan Israel dengan Mesir dan Yordania sudah berlangsung sekian puluh tahun lalu, namun nasib dan kemerdekaan bangsa Palestina malah semakin tidak jelas.

Persoalannya, Zionis Israel selalu menolak berbagai solusi yang ditawarkan. Termasuk solusi yang paling moderat sekalipun. Di antaranya solusi dua negara yang saling mengakui eksistensi masing-masing. Yaitu Israel dan Palestina yang hidup berdampingan dengan wilayah Palestina sebelum Perang 1967, dengan ibukotanya Jerusalem Timur. Alih-alih mau berunding, Israel justru menancapkan pendudukannya di wilayah Palestina dengan membangun ribuan pemukiman Yahudi secara ilegal. Berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB pun mereka anggap sepi.

Sayangnya, negara-negara Arab selalu mengikuti lagu dan langgam yang dinyanyikan oleh Zionis Israel. Termasuk klasifikasi teroris. Juga klasifikasi lawan dan kawan. Bahkan penggunaan istilah pun mengikuti apa yang mereka diktekan. Dari konflik Israel-Arab, menjadi konflik dengan Palestina, dan akhirnya bisa saja diperkecil hanya konflik Israel-Hamas. Dan, karena Hamas sudah dicap teroris, maka Israel akan semakin bebas menduduki wilayah-wilayah Palestina.

Kita belum tahu bagaimana akhir dari drama pengucilan Qatar oleh saudara-saudaranya negara-negara Arab itu sendiri. Yang jelas, semakin lama pengucilan Qatar akan semakin menguntungkan Zionis Israel. Mereka akan bersorak gembira. Sebaliknya, nasib bangsa Palestina akan semakin merana. Kemerdekaan bangsa Palestina akan semakin jauh, manakala bangsa Arab tercerai-berai.

Oleh : Ikhwanul Kiram Mashuri, Republika.co.id

Raja Philip III Mengusir 300 Ribu Muslim Andalusia

Beberapa penaklukan yang berlangsung selama pemerintahan Dinasti Umayyah, Abbasiyah, dan Ottoman, memberi kontribusi besar dalam membentuk peradaban Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa. Namun demikian, proses ekspansi di bawah dinasti-dinasti Islam itu bukannya tanpa hambatan.

Sikap kebencian dan permusuhan yang mulai tumbuh di tengah-tengah masyarakat Barat, menjadi satu tantangan tersendiri yang dihadapi kaum Muslimin selama periode tersebut. Ketakutan terhadap pengaruh Islam yang semakin meluas mulai tertanam di kalangan masyarakat Barat untuk pertama kalinya semasa Perang Salib (antara 1095–1291) yang melibatkan tentara Muslim dan Kristen Eropa.

Pada masa-masa itu, Kekaisaran Bizantium dan Gereja Roma menggunakan propaganda sentimen anti-Islam untuk merebut Yerusalem dari tangan kaum Muslimin. “Para sejarawan mencatat, jumlah orang Islam dan Yahudi yang terbunuh di al-Quds (Yerusalem) selama berlangsungnya Perang Salib tidak kurang dari 70 ribu jiwa,” kata A Said Gul dalam tulisannya “History of Islamophobia and Anti-Islamism” yang dimuat oleh the Pen Magazine (2011). Pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah di Andalusia (Spanyol), beberapa jenis pertikaian yang terjadi antara penduduk Kristen dan Muslim  juga didasari oleh fobia terhadap Islam.

Puncak dari konflik itu adalah Reconquista, yakni penaklukan kembali Semenanjung Iberia oleh kaum Kristen Eropa yang ditandai dengan runtuhnya Emirat Granada pada 1492. Setelah runtuhnya Emirat Granada, penindasan yang dilakukan rezim Kristen terhadap penduduk Muslim meningkat di Eropa. Umat Islam yang tersisa di Andalusia diusir ke Afrika Utara atau dipaksa memeluk agama Kristen. Kebebasan mereka sebagai warga negara benar-benar juga dibatasi sejak itu.

Menurut catatan sejarah, Raja Philip III dari Spanyol mengusir 300 ribu Muslim Andalusia antara 1610 dan 1614 lewat titah yang ia keluarkan pada 22 September di 1609. Melalui praktik tersebut, rezim Barat berusaha melenyapkan semua jejak peradaban Islam yang nyata telah banyak memberikan kontribusi dalam proses pencerahan Eropa.

“Semua peristiwa yang dialami kaum Muslimin sejak Perang Salib hingga Reconquista jelas-jelas merupakan bagian dari wajah anti-Islamisme atau Islamofobia yang terus berevolusi di tengah-tengah masyarakat Barat, bahkan sampai hari ini,” ujar A Said Gul lagi.

Sumber : Republika.co.id

ROLLER COASTER VS PINBALL

Just L

Katamu,hidupku seperti roller coaster 😋.. Permainan yang memacu adrenalin dengan kuatnya. Walau dengan kecepatan tinggi, perjalanan itu kadang dalam track yang lurus, namun dengan segera berbelok curam, tertatih menanjak dan kemudian meluncur turun dengan cepatnya. Namun orang melihatku sebagai raga yang tenang. Karena apa katamu…karena aku yakin bahwa permainan ini akan tiba pada tujuannya dengan selamat. Yakin bahwa aku ditopang dengan sekian banyak tiang yang kokoh,yang tidak akan membiarkanku jatuh,terluka bahkan celaka.
Tahukah kamu,aku melihatmu seperti permainan pinball😄.  Walau tidak se ekstreme roller coaster, namun memiliki tingkat kesulitan yang tinggi untuk menaklukkannya. Sulit menurut sebagian besar orang yang belum sanggup membaca pikiranmu. Pantulan bola liar yang saat membentur bidang keras akan menjadi lebih lincah bergerak, tak terkontrol, bahkan cenderung  semaunya. Apalagi jika peran tuas penjaganya tidak waspada mengawasi arah pantulan bola, bisa dipastikan ia akan terperosok.  Namun akan ada masanya bola itu menyentuh media lunak dan akan memantul dengan…

View original post 97 more words