diki

Nilai IQ-nya 189. Lebih tinggi dari fisikawan Esinstein. Di usia 12 tahun dia menjadi mahasiswa universitas ternama Kanada. Ini kisah Diki, Einstein jenius Indonesia.

Dream – Kaos bocah itu terlihat kedodoran. Bergambar karakter tokoh kartun terkenal Donald Duck. Tapi dia tampak nyaman saja. Sebuah pin bendera Indonesia bersilang dengan Kanada tertancap di dada. Bercelana jins dan sepatu kets, bocah itu melangkah di jalan setapak halaman universitas.

Bocah itu tak sendirian. Ada seorang pria muda di hadapannya. Tingginya hampir dua kali dari si bocah. Kepalanya lebih banyak menunduk. Serius menatap wajah si bocah kecil berwajah Asia dan berkepala plontos.

Di halaman universitas, dua pria beda usia ini serius mengobrol. Kadang terkejut namun lebih banyak tawa keluar.

“ Saya suka komedi Amerika,” kata bocah itu memulai obrolan kepada pemuda yang diketahui bernama Greg Ross.

Ross bukan pria biasa. Dia jurnalis dari stasiun televisi Kanada, CBC News. Dengan kemeja dan mic terselip di kemaja, itu bukan obrolan biasa. Ross mendapat tugas mewawancara bocah kecil. Dianggap penting karena bocah itu luar biasa.

Ya, si bocah berkaos Donald Duck itu bernama Cendikiawan Suryaatmadja, 12 tahun. Dia orang Indonesia tulen. Dan Greg begitu kagum padanya.

Bocah belasan tahun itu orang pandai seperti namanya. Di usianya, Diki, panggilan Cedekiawan, sudah jadi mahasiswa di Universitas Waterloo, Kanada. Tepatnya seorang mahasiswa jurusan fisika.

Dan rekaman obrolan santai itu tayang belum lama ini. Dilihat banyak pasang mata pada 5 September 2016. Diunggah juga di laman resmi media tersebut di tanggal yang sama.

Peselancar dunia maya terkejut. Ada bocah kecil, usia baru 12 tahun, sudah menjadi mahasiswa. bocah Indonesia pula. Media lokal berebut saling menyorot. Kagum dengan ceritaDiki. Foto bocah itu terpampang di berbagai halaman koran. Banyak juga di media online. Seolah Einstein dari Indonesia baru lahir.


Diki termasu bocah ‘beruntung’ yang mendapat berkah luar biasa. Nilai IQ-nya 189. Nilai alat ukur kecerdasan itu Lebih tinggi dari Fisikawan ternama seantero dunia, Albert Einstein, yang cuma punya skor 162 di usia di bawah 18 tahun.

Kecerdasan Diki sudah terlihat sejak kecil. Bahkan hitungan hari sejak kelahirannya. Sang bunda, Hannie bercerita, putranya bocah yang lahir pada 1 Juli 2004 itu sudah menunjukkan gelagat berbeda.

Sang ibu pun sampai terheran. Di usia 4 hari, bayi mungil bernama Diki sudah bergerak lincah. Berubah posisi saat tubuhnya disiangi di bawah terik matahari pagi. Tak seperti biasanya.

Menginjak 6 bulan, bayi Diki punya kejutan baru. Dia sudah bisa berbicara. Dan belajar membaca saat menginjak umur 1 tahun. Saat usianya menginjak 2 tahun, Diki sudah lancar membaca.

“ Usia 2 tahun, saya masuk playgroup,” kata Diki.

Di usia inilah petualang Diki dimulai. Belajar berhitung bab penambahan. Ilmu itu dilahap hanya dalam hitungan bulan. Tak puas, Diki belajar bab pengurangan.

” Anak ini sudah sejak TK memang terlihat tanda-tanda luar biasanya. Sejak kecil IQ- nya luar biasa. Dia bisa menjawab pertanyaan yang seharusnya bukan dijawab anak TK,” kenang Agus Supangkat, kepala SMP Kesatuan Bogor.

Saat usianya genap tiga tahun, Diki sudah bisa menulis. Dia lalu mulai belajar materi perhitungan bab perkalian dan pembagian. Minat Diki belajar berhitung muncul karena membaca buku pelajaran matematika kakaknya yang sudah masuk Sekolah Dasar (SD).

Diki kecil memang anak yang selalu ingin tahu. Dia selalu bertanya apapun yang dilihatnya kepada orangtua. Pertanyaannya jarang dilontarkan bocah seusianya. Dia bertanya mengapa buah jatuh ke tanah, pohon bergoyang tertiup angin, dan pertanyaan lain yang bikin kepala orang tua pusing.

Menginjak 6 tahun, Diki masuk Sekolah Dasar (SD). Bukan 6 tahun, Diki cuma sekolah tiga tahun. Bukan tak pintar, Diki beberapa kali loncat kelas. Setelah kelas 1, Diki langsung jadi murid kelas 3. Sempat naik ke kelas 4, Diki pindah ke Singapura agar kemampuannya bisa tersalurkan.

Di negeri jiran itu Diki belajar cuma 6 bulan. Keluarga memboyongnya kembali ke Indonesia. Diki didaftarkan dalam program akselerasi Sekolah Menengah Atas pada 2014.

Agus, sang guru mengisahkan, pernah suatu waktu, guru fisika se-Bogor mengundang Diki untuk mempresentasikan sebuah teori.

” Dan paparannya bikin bengong, penjelasan dia di luar nalar tapi itu benar,” ucapnya bangga.

Lambat laun, kabar kegeniusan Diki sampai ke telinga Pakar Matematika dan Pendidikanterkenal, Yohanes Surya. Di tangannya lahir anak-anak jenius yang menembus aneka lomba olimpiade sains dunia. Rektor Universitas Surya itu akhirnya turun tangan menggembleng Diki.

Kecerdasan Diki terus melesat. Materi matematika tingkat SMA dilahap habis saat Diki baru berusia 10 tahun, Dia bahkan membuat persamaan matematika sendiri. Kemampuan yang belum tentu bisa dilakukan seorang mahasiswa Matematika.

Selain prestasi akademik yang cemerlang dan luar biasa, Diki ternyata punya kebanggaan lain. Sejumlah medali dan piala mampu diraihnya di pelbagai ajang olimpiade sains dan matematika baik dalam negeri maupun mancanegara.


Di tahun 2015, Diki melepas masa sebagai siswa SMA. Usianya baru 11 tahun. Dia ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri. Pilihannya jatuh ke Universitas Waterloo, Kanada.

Diki mempersiapkan segalanya agar bisa diterima di universitas tersebut. Salah satunya membuat paper ilmiah.

Hanya dalam sekejap, seluruh persyaratan untuk menjadi mahasiswa itu sudah masuk ke pengelola Universitas Waterloo. Tanpa pikiran apapun, staf bagian penerimaan mahasiswa baru universitas segera memproses aplikasi Diki. Tak tahu jika yang melamar baru bocah belasan tahun.

Pengelola Universitas Waterloo baru sadar beberapa bulan sebelum aktivitas perkuliahan dimulai. Mereka baru saja menerima seorang mahasiswa usia 12 tahun.

“ Ketika kami melakukan penilaian, kami tidak melihat pada gender, etnis, atau latar belakang. Kami benar-benar melihat pada sistem pendidikan jika mereka menjadi mahasiswa internasional dan dapat diterima,” ujar Kepala Bagian Registrasi Mahasiswa Universitas Waterloo, Andre Jardin.

“ Saat saya bertemu dia, hanya tersisa sedikit waktu. Dia sangat karismatik dan begitu ramah, jadi akan menjadi hal yang luar biasa saat bertemu dan melihat dia dapat berintegrasi dengan sangat baik,” lanjut Jardin.

Di universitas ini, Diki juga mengambil beberapa kelas lain di luar Fisika. Dia akan mengikuti perkuliahan kimia, dan matematika. Terbersit sebuah cita-cita dalam diri Diki, dia ingin menciptakan sumber energi terbarukan untuk bangsanya, Indonesia.

Indonesia beruntung memiliki Diki. Dia begitu cinta Nusantara. Berkah kecerdasan yang dimiliki akan disumbangkan untuk Indonesia.

” Saya pasti akan kembali ke Indonesia. Saya Ingin membuat hal yang baru, mempatenkan itu sendiri, mengambil uangnya, merekrut orang-orang pintar di seluruh dunia, dan mengubah dunia ini.” (Sah)

sumber : dream.co.id