Allahu Akbar, Betapa Kerennya Jadi Ulama Di Rezim Ini

Amar Ar-Risalah

26 Juli, 1975 itu, para ulama berkumpul. Di antara mereka, ada sosok-sosok familiar: KH Imam Zarkasy dari Gontor, KH Abdullah Syafi’i dari Betawi, dan lain-lain. Balai Sidang Senayan gempita: hari itu, dengan perwakilan para ulama dari berbagai daerah dan ormas, dideklarasikanlah piagam pendirian Majelis Ulama Indonesia.

Sebagai Ketua Umum pertama, dipilihlah Prof. Dr. Hamka. Mereka, sepanjang sejarah, adalah ulama-ulama yang begitu tegas: mampu menjaga jarak dengan pemerintah, dan menjadi orang-orang gharib dalam menghadapi dunia.

Meskipun pada waktu itu Menteri Pertahanan hadir memberikan sambutan, dan dukungan juga datang dari Presiden Soeharto, mereka tetap garang. Buya Hamka beberapa tahun kemudian, tegas mengatakan keharaman merayakan natal bersama bagi muslim dengan dalil yang kuat.

Padahal, hari Natal Bersama kala itu dibuat sebagai program pemerintah-yang sebagaimana kita tahu-Orde Baru sangatlah kejam dan keras.

“Kebenaran,” katanya pada tahun 1981 itu, “Harus tetap tegak meskipun langit runtuh!”

Hamka sendiri adalah seorang ulama-sastrawan yang tegas. Ia pernah dipenjara hanya karena tegak mengatakan hal-hal yang merupakan hukum fikih, pada rezim Soekarno.

Di Jakarta pada dekade 80-an itu, terpilih sebagai Ketua MUI Jakarta dan juga Ketua 1 MUI Pusat, seorang yang namanya dijadikan nama jalan besar Kampung Melayu: KH Abdullah Syafi’i. Dia adalah ayah, dari ulama besar perempuan Betawi: Hj. Tutty Alawiyah dan pendiri Perguruan As-Syafi’iyah.

Pada masa itu, ayah Boy Sadikin, Gubernur Ali Sadikin, hendak membuat lokalisasi prostitusi. Kontan, KH Abdullah Syafi’i menentang keras rencana itu. Ia berteman dekat dengan Ali Sadikin, namun bisa menjaga jarak sebagaimana fitrah ulama: ia adalah pedang yang meluruskan kekuasaan.

Tak lama setelahnya, pada September 1984, pemerintahan Soeharto kembali menguji umat islam. Selain larangan jilbab di sekolah-sekolah, pemerintah menerapkan Asas Tunggal Pancasila bagi semua organisasi.

Serentak orasi dan ceramah untuk meluruskan pemerintah digaungkan di mana-mana, termasuk di mushala kecil di sebuah tempat di Koja, Tanjung Priok. Namun, sebuah insiden kecil, pencopotan pamplet anti asas tunggal dengan air got oleh aparat di mushala itu mengubahnya menjadi peristiwa mengerikan:

Ustadz Amir Biki bersama ribuan jamaah mengepung kantor aparat, namun di tengah jalan, mereka dicegat kendaraan lapis baja dan terjadilah pembantaian itu: Peristiwa Priok. 500 orang meninggal termasuk Ustadz Amir Biki.

Ulama Jakarta, MUI, para ulama seluruhnya di negeri ini adalah mereka yang mengasuh penguasa, namun dengan cara yang lugas dan tegas, tidak menjilat. Bagi mereka, dunia ini adalah permainan yang menipu, sebagaimana surat Al-Hadid ayat 20:

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan…”

Maka saksikanlah, dari zaman ke zaman ciri khas ulama berupa ketegasan terhadap penguasa ini mengalir dalam darah dan terus diwariskan.

Imam Malik-guru Imam Syafi’i dan pendiri Mazhab Maliki-dalam suatu kisah yang masyhur, berdebat dengan Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur mengenai suatu hadits yang difitnahkan orang padanya.

Namun, setegar gunung, ia bertahan pada pendapatnya sebagai seorang ulama dan memilih dihukum cambuk ketimbang menjadi kaki tangan penguasa dalam hal kebatilan.

Imam Hanafi, pendiri mazhab Hanbali, bahkan adalah seorang ulama yang lebih sering keluar masuk penjara daripada aktifis reformasi. Ia seringkali membuat fatwa yang bertentangan dengan keinginan penguasa dan juga para penegak hukum. Ia ditawari jabatan hakim tapi menolak.

Akibatnya bisa ditebak, ia dijebloskan ke penjara. “Andaikata tidak ada kekhawatiran terhadap hilangnya ilmu Allah, maka aku tidak akan berfatwa kepada siapapun!”

Imam Hanbali lebih heroik lagi. Ia-alkisah-dicambuk dengan empat kali cambukan, yang satu kali saja bisa membunuh seekor gajah, hanya karena ia menolak paham Mu’tazilah yang dianut oleh penguasa. Adalah Khalifah Al-Makmun, yang meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.

Ketika Imam Hanbali diarak sebagai tahanan dengan tubuh penuh luka, seorang pencuri menghampiri beliau dan berkata:

“Wahai imam! Aku adalah pencuri yang didera dengan banyak cambukan namun aku menolak mengaku kesalahanku padahal aku tahu itu salah. Maka janganlah kau gelisah menerima dera, sebab engkau dalam kebenaran!”

Maka hari ini, jika hanya karena sebuah petisi orang-orang berbalik di tumit mereka dan beralih menjadi buntut penguasa: bahkan lisan mereka tidak pantas menyebut nama para ulama.

Orang-orang yang membangun dan mengasuh umat islam selalu lahir dari lingkungan yang jelas garis demarkasinya dari penguasa. Mereka mampu menjaga jarak, hingga jarak terpendek hanyalah antara mereka dengan penjara.

Dan seandainya kelak MUI dibubarkan hanya dengan alasan konyol: agar Ahok bisa menang, maka saksikan, bahwa jelas batas antara mereka yang memegang teguh kebenaran, dengan yang menjual agamanya demi jabatan yang menipu.

Dan bukankah sejarah selalu berkisah yang itu-itu saja: ulama selalu berhadapan dengan makar agar penguasa bisa bertahan, ulama selalu mengangkat dagu di hadapan penguasa, hatta nyawa jaminannya.

Pada prosesi pemilihan kepala daerah waktu-waktu belakangan, kita jumpai hal yang dulu hanya dilakukan orang yang lain agama atau atheis pada para ulama. Belum pernah kita saksikan penghinaan yang demikian verbal pada ulama dan ahli ilmu. Belum pernah kita saksikan pengingkaran pada ayat-ayat Allah sejelas hari ini, hari-hari ketika umat dipaksa memilih wala’nya pada kebenaran atau kebatilan.

Maka jangan takut, dan jangan mundur. Karena memang begitulah jalan yang ada pada setiap zaman, yang menimpa para ulama. Mereka sekali-kali tidak akan mundur hanya karena iming-iming jabatan atau harta yang sedikit.

Bukankah dalam surat Al-Maidah 57 dan 58-surat yang sama yang menjadi bahan kita-dikatakan:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan di antara orang-orang kafir. Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.”
“Dan apabila kamu menyeru mereka untuk shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan, yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak berakal.”

Dua ayat di atas dengan tegas mengatakan, bagaimana harusnya sikap kita. Tanpa bermaksud membangkitkan sentimen, semestinya prosesi politik ini berjalan lebih menyenangkan dan damai. Namun, simbol-simbol agama sudah dipermainkan sebagai barang politik.

Bahwa islam dengan kesempurnaannya, selain mengatur urusan shalat dan zakat, juga kepemimpinan. Ia juga mengatur etika politik. Ia juga mengatur urusan-urusan adab. Itulah syumuliatul islam!

Mereka bisa saja mengatakan, jangan bawa agama kedalam politik. Jangan pakai Al-Qur’an itu untuk Pilkada, sedangkan ayat 58 surat Al-Maidah berbunyi:

“Katakanlah! “Wahai Ahli Kitab! Apakah kamu memandang kami salah, hanya karena kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya? Sungguh kebanyakan darimu adalah orang-orang yang fasik!”

Bukankah politik juga menjadi hak warga negara Indonesia, sebagai pemeluk islam?

Maka betapa kerennya jadi ulama di rezim ini, karena nyata mana kebenaran dan mana yang syubhat; mana orang yang memilih apa-apa yang samar dan mana yang memilih yang benar lagi tegas. Benarlah kata Nabi kita, bahwa dunia ini adalah penjara bagi orang-orang mukmin.

Maka betapa kerennya jadi ulama di rezim ini, karena mereka bertahan dari celaan orang-orang yang mencela, sebagaimana Al-Maidah 54; dan dengan tegas memberikan loyalitasnya pada Allah, Rasulullah, dan kitabnya, ketimbang lembaga survei atau pengusaha properti.

Dan saksikan bahwa kami, umat muslim, tetap berdiri di belakang ulama, apapun yang terjadi.

Teruslah berjuang, para ulama! Dan kami, insya Allah kan menjaga jalannya proses ini dengan damai dan santun.

“Beruntunglah mereka yang asing,” Kata Rasulullah, lalu ditanya “siapakah mereka?”

“Yaitu orang-orang yang saleh di antara orang-orang jahat yang jumlahnya banyak sekali!”