Bismillahirrahmanirrahiim.

Baginda Rasulullah mengkaitkan antara lisan dan keimanan. Artinya, ada keterkaitan erat antara iman dengan sekedar lisan. Sehingga baginda Nabi bersabda, “Man kaana yu’minu billahi wal yaumil akhir fal-yaqul khairan au li-yasmut” (barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbicaralah dengan baik atau diam). Bahkan, orang se-sholih apapun, se-sunnah apapun, jika orang lain tidak selamat dari ketajaman lisannya, maka dia di pastikan oleh Baginda Rasulullah masuk neraka. Demikian pendidikan yang di ajarkan baginda Nabi kepada para sahabat-Nya.

Menjaga lisan adalah ciri akhlaq pengikut Salaf sejati. Utamanya, tidak menyakiti hati dan perasaan ummat islam meskipun mungkin tidak sekelompok dengan kita atau berbeda pendapat dengan kita soal cabang-cabang agama (furu’iyyah). Menjaga lisan, menjaga kehormatan, adalah manhaj salaf yang kini seolah luput dari para pengaku pengikut salaf itu sendiri. Dalil dari Al-Quran, As-Sunnah, dan atsar Salaful Ummah, kini bukan lagi di amalkan dalam keseharian, tetapi dijadikan bahan referensi untuk menyerang “lawan”. Demikianlah keadaannya.

Satu hari setelah silaturrahmi akbar yang di gelar di Masjid Istiqlal (ahad 18 september 2016) lalu, tersebar pernyataan Ustad Abu Yahya Badrussalam yang di sebarluaskankan oleh simpatisan Salafi melalui fan page “Hadits Shahih”. Berikut pernyataan yang di klaim sebagai pernyataan Ustad Abu Yahya Badrussalam itu:

” Siapa saja yang berjalan di atas jalan yang lurus, yaitu jalannya Rasulullah dan para sahabatnya, maka ia telah bersatu padu meskipun jumlahnya sedikit. Dan siapa saja yang menyimpang dari jalan tersebut dan mengikuti jalan-jalan lainnya, maka ia telah berpecah belah walaupun jumlahnya banyak. Bersatu tidak harus banyak “.

-selesai-

Yang menjadi pertanyaan besar kami, mengapa statemen ini di sebar luaskan dan di dengang-dengungkan satu hari setelah SILATURRAHMI AKBAR SELURUH ORMAS ISLAM MENOLAK AHOK di masjid istiqlal jakarta kemarin ?! Sebagai orang muslim yang menolak Ahok jadi pemimpin dan mendukung silaturrahmi akbar di istiqlal kemarin, tentu banyak elemen muslim yang tersakiti dengan statemen yang demikian sinis ini.

Memang, pernyataan Ustad Abu Yahya Badrusaalam ini tidaklah salah, tetapi juga tidak mutlak benar. Karena, tidak setiap yang sedikit mesti benar dan tidak pula setiap yang jumlahnya banyak mesti salah. Hendaknya kita korelasikan dalil-dalil yang ada dengan timbangan kebenaran (Al-Haq).

Jika statemen itu di pakai, lalu bagaimana dengan sabda Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

ان الله لا يجمع أمتي على ضلالة , و يد الله على الجماعة , من شد شد الى النار , رواه الترمذي , زاد ابن ماجه : فاذا وقع الاختلاف , فعليك بالسواد الأعظم , مع الحق و أهله…

“Sesungguhnya Allah tidak akan menyesatkan umatku secara keseluruhan. Tangan Allah berada diatas Jama’ah. Barangsiapa yang keluar (berpisah dari jama’ah kaum muslimin), maka ia akan terjerumus ke dalam api neraka”.

(HR. Imam Tirmidzi)

Ibnu Majah menambahkan: “jika terjadi perbedaan (di antara kalian), maka hendaklah kalian berpegang tegung pada “As-Sawad Al-Adhzam” (KAUM MAYORITAS) beserta al-haq dan ahlinya…”

Hadits ini menerangkan kepada kita bahwa kaum mayoritas tidak mungkin sepakat diatas kesesatan. Namun, Al-Quran mencela jumlah mayoritas (kebanyakan), tetapi pada konteks yang bagaimana dulu. Disinilah letak pentingnya kita mempelajari tafsir para ulama terkait ayat-ayat dan juga asbab nuzul (sebab turunnya) ayat-ayat itu.

Jika statemen Ustad Abu Yahya Badrussalam itu dianggap mutlak benar, yakni bahwa bersatu tidak mesti banyak, maka:

Ahmadiyyah juga tidak banyak, mereka sedikit…

Syi’ah di indonesia juga tidak banyak, mereka sedikit…

Aliran Gafatar juga tidak banyak, mereka sedikit…

LDII alias Islam Jama’ah juga tidak banyak, mereka sedikit…

Aliran sesat Inkar Sunnah juga tidak banyak, mereka sangat sedikit…

Aliran Lia Eden juga tidak banyak, mereka sangat sedikit…

Lantas, apakah mereka yang bersatu dalam jumlahnya yang sedikit ini berada dalam AL-HAQ (kebenaran) ?

Janganlah memanipulasi atau memonopoli “ghuroba” (kaum asing) itu hanya kelompok anda sendiri. Sebab, “ghuroba” itu sejatinya terasing karena ia diasingkan oleh pembenci ajaran Islam, musuh-musuh islam, yakni kaum musyrikin dan para penyembah thoghut. Bukan karena mengasingkan diri dari kaum muslimin lalu menyebut diri dan kelompok sendiri sebagai “ghuroba” (yakni kaum terasing yang berpegang teguh diatas Sunnah). Orang cerdas akan mampu membedakan antara ghuroba’ sejati (kaum yang dianggap asing) dengan kaum yang sengaja mengasingkan diri. Hitungan ghuroba adalah seluruh kaum muslimin sedunia, siapapun dia.. bukan hanya kaum persiradja (pendengar setia Radio Rodja) atau para pecinta Abu Yahya Badrussalam.

Mengapa kami katakan ini menyakitkan hati ummat islam?

Ya, karena sikap anda sendiri yang kurang mencerminkan akhlaq salaf sejati dalam menggauli manusia. Anggaplah pernyataan Ustad Abu Yahya Badrussalam itu benar, lantas mengapa kalian sebarluaskan pernyataan itu satu hari setelah ummat islam menggelar silaturrahmi akbar menolak Ahok di Istiqlal, wahai Saudara-saudaraku Salafiyyun..??

  • Dulu saat ummat islam dari berbagai ormas bersatu menggelar Parade Tauhid di Jakarta, kalian pun mengadakan Tabligh Akbar di masjid Istiqlal dengan mengundang Syaikh Ali Hasan Al-Halabi (ulama BNPT) dari Yordan. Apa maksudnya ini, wahai saudaraku ?

  • Dulu saat ummat islam sedunia (termasuk para Ulama timur tengah) berbela sungkawa atas musibah yang menimpa Syaikh DR. A’idh Al-Qarni yang di tembak oleh oknum Syi’ah di philipina, kalian sebarluaskan artikel Abu Yahya Badrussalam yang isinya mengatakan bahwa Syaikh A’idh Al-Qarni itu khawarij. Apa maksudnya ini, wahai saudaraku ?

  • Dulu saat ummat islam DKI Jakarta mengkritik Ahok dan bersatu melawan kezoliman Ahok (china kafir) secara terang-terangan, kalian sebarluaskan statement “Ahok itu ulil amri yang wajib di taati” lewat website Aslibumiayu. Apa maksudnya ini, wahai saudaraku ?

  • Dulu saat kaum muslimin bersama Front Pembela Islam (FPI) berdemo menuntut agar Ahok di periksa KPK, kalian sebarluaskan ceramah Riyadh Bajery yang mengatakan bahwa para demonstran itu halal darahnya. Apa maksudnya ini, wahai saudaraku ?

  • Dulu saat saya (Maaher At-Thuwailibi) gencar mengkritik prilaku kebanyakan Salafi yang standar ganda, kalian sebarluaskan artikel abal-abal yang di kumpulkan Abu Salma alias Muhammad Rachdi Pratama dengan judul “Tahdzir Asatidzah Untuk Ahat”. Tidak sampai disitu, kalian tuduh saya dengan tuduhan-tuduhan keji, kalian sebarluaskan aib-aib saya di masa lalu yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan aqidah, ibadah, dakwah, dan ilmiah. Apa maksudnya ini, wahai saudaraku ?

  • Dulu saat seorang da’i muda alumni LIPIA (yaitu Ustad Oemar Mita) mulai ‘naik daun’ di dunia dakwah dan kajian-kajiannya di gandrungi kaum ummahat, kalian sebarluaskan fitnah dan omongan-omongan kotor terhadap dirinya lewat broadcast dan jejaring sosial lainnya. Kalian sebut ia khawarij, hizbi, sesat, dst. Tidak sampai disitu, bahkan Indadari (istri Cesar Aditya mantan raja joget) mengadu bahwa dirinya diprovokasi untuk tidak mengaji ke Ustadz Oemar Mita. Apa maksudnya ini, wahai saudaraku ?

  • Sekarang, ummat islam berkumpul di Istiqlal jakarta, menanggalkan atribut harokah dan bendera organisasi mereka, menyatukan suara untuk tidak memilih orang kafir jadi pemimpin, kalian malah menyebarluaskan pernyataan Abu Yahya Badrussalam bahwa “bersatu tidak mesti banyak”. Apa maksud semua ini, wahai saudaraku ?

Jikapun anda enggan untuk bersatu bersama ummat islam dalam Silaturrahmi Akbar Menolak Ahok kemarin, maka hendaknya tahanlah lisan dan tulisan anda untuk MENYAKITI HATI UMMAT ISLAM.

Ingatlah sabda Nabi, “Kuffa ‘Alaika Haadza..” (Jagalah olehmu ini…) , Nabi bersabda sambil memegang lisannya.

Wallahul Musta’an_

✍ Maaher At-Thuwailibi_