Konsep Imamah Syiah: Problematik – syiah

Konsep Imamah Syiah: Problematik (Bagian 2)

Fahmi Salim   10.01 AM   kajian

Silahkan baca dulu : Tulisan Bagian 1

Imamah dan Kenabian menurut al-Qur’an

Dalam artikel ini kita menyelidiki dasar yang Qur’ani mengenai konsep Imamah SDI. Dengan analisa penggunaan kata ”imam” dan bentuk jamaknya ”a’immah” di dalam al-Qur’an yang akan kita selidiki, apakah al-Qur’an menyediakan dasar bagi doktrin Imamah sebagaimana yang dirumuskan oleh teologi SDI.

Dalam membatasi penyelidikan kita pada al-Qur’an, bukanlah pendirian kami bahwa Sunnah tidaklah penting berkaitan dengan doktrin yang sedang dipersoalkan. Namun sebaliknya, adalah keluar dari keyakinan bahwa suatu isu doktrinal seperti Imamah, yang ulama Syi’ah menempatkannya di atas Nubuwwah, jika tidak didukung oleh dalil dari al-Qur’an. Betapapun, isu “yang sekunder” tentang Nubuwwah menemukan lebih dari dukungan yang besar di al-Qur’an. Tak seorangpun, setelah membaca dalil al-Qur’an yang jelas dan tidak samar-samar yang mana Allah memberikan penjelasan mengenai para Rasul dan Nabi-Nya, mengenai status mereka,

masing-masingnya kami lebihkan derajatnya di atas umat.  al-An‘am: 86

mengenai kisah mereka,

Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Taha: 9

Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. ash-Shu‘ara: 69

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini  kepadamu,.. Yusuf: 3

penyebutan secara eksplisit mengenai nama-nama mereka,

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,

dan Zakaria, Yahaya, ‘Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh,

dan Ismail, Ilyasa’, Yunus, dan Luth masing-masingnya kami lebihkan derajatnya di atas umat

al-An‘am: 83-86

dan pentingnya kepercayaan kepada mereka sebagai suatu bagian integral iman di dalam Islam,

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.  an-Nisa’: 136

Bolehkah secara rasional meragukan sesuatu yang al-Qur’an mendukungnya, atau melarang kepercayaan pada Nubuwwah?.

Pertanyaannya sekarang adalah: Adakah pegangan yang sama bagi kebenaran Imamah SDI? Jika Imamah lebih tinggi dari Nubuwwah, sebagaimana yang ulama SDI ajarkan, adalah sangat layak untuk mengharapkan al-Qur’an akan menguraikan terminologi yang sama tegasnya mengenai Imamah; dan jika tidak, paling tidak sebuah penjelasan atau gambaran yang tidak samar-samar mengenai apa itu ”Imamah” dan siapa para Imam tersebut, akan diuraikan oleh al-Qur’an.

Pemakaian  kata ”Imam” di dalam Qur’an

Berikutnya kita akan menyelidiki bagaimana kata “Imam” dan jamaknya “A’immah” telah digunakan di dalam al-Qur’an. Dengan cara sebagaimana Allah telah menggunakan kata tersebut di dalam al-Qur’an, akan menjadi kelihatan apakah konsep Imamah SDI yang telah diterangkan di atas, menemukan dukungan yang Qur’ani.

Kata Imam terulang 7 kali di dalam Qur’an, dan ketika dalam bentuk jamaknya, a’immah, muncul 5 kali.

Sebuah Kitab:

Pada 3 dari kasus ini menunjuk dengan tegas kepada sebuah Kitab:

Dan sebelumnya adalah Kitab Musa, suatu pemandu (imaaman) dan rahmat.  Hud: 17

Dan sebelumnya adalah Kitab Musa, suatu pemandu (imaaman) dan rahmat.  al-Ahqaf: 12

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam sebuah Kitab yang nyata (Imaamin mubiin).  Yasin: 12

Para pemuka orang kufr:

Pada 2 kasus lainnya berkaitan dengan para pemuka kufr:

maka perangilah para pemuka (a immatan) orang-orang kafir itu.  at-Tawbah: 12

Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin (a immatan) yang menyeru  ke neraka. al-Qasas: 41

Sebuah jalan:

Satu ayat yang secara jelas bermakna sebuah jalan yang dapat dilihat:

Dan sesungguhnya kedua kota itu benar-benar terletak di jalan umum yang terang (imaamin mubiin).  alHijr: 79

Kepemimpinan  Bangsa Israel

Pada sisanya di enam tempat di mana kata tersebut digunakan, kata itu digunakan dalam konteks arti harafiahnya, yaitu kepemimpinan. Di dalam Surah Al-Ambiya’ dinyatakan:

Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.

Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang saleh.

Kami telah menjadikan mereka itu sebagai imam-imam (a immatan) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah, Al-Ambiya’: 71-73.

Pada kutipan ayat di atas, telah sedikit diperluas agar para pembaca dapat melihat konteks yang lengkap penggunaan kata a’immah, yang dengan jelas kata tersebut berkaitan dengan fungsi para Nabi sebagai para pemimpin manusia, yang memandu mereka ke arah Allah. Hal ini tanpa ragu-ragu merupakan identifikasi bahwa a’immah tidak lain adalah para Nabi, yang mendorong kita untuk menyimpulkan bahwa yang disebutkan di dalam Surah as-Sajdah juga dimaksudkan para Nabi Bani Isra’il, dan bukan kategori manusia lainnya:

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat), maka janganlah kamu (Muhammad) ragu-ragu menerima ( al-Qur’an itu) dan Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil.

Dan Kami jadikan di antara mereka itu (bani Israil) imam-imam (a immatan) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. as-Sajdah: 23-24.

Sekalipun lingkup a’immah di dalam ayat ini diperluas yang meliputi orang-orang selain dari para Nabi, tidak ada keterangan apapun untuk membenarkan identifikasi sesuai dengan doktrin Imamah yang rumit sebagaimana yang dipahami oleh SDI.

Pada ayat ketiga Allah berbicara tentang rencanaNya untuk si tertindas Bangsa Israel di Mesir:

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka imam-imam (a immatan) dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi,.  al-Qasas: 5

Dalam rangka melihat kepada siapa kata a’immah itu dialamatkan dalam ayat ini, seseorang hanya harus melihat pada orang-orang yang kepadanya kehendak Ilahi ini datang terpenuhi. Yaitu terutama pada Nabi Musa dan Nabi-Raja lainnya dari Bani Isra’il seperti Nabi Dawud dan Nabi Sulayman ‘alayhimus salam yang kepemimpinannya disebutkan dalam ayat ini. Jika kadang-kadang mereka diperintah oleh manusia selain dari para Nabi, status para imam itu tidak pernah dilihat menjadi lebih berilmu dari pada tingkatan para Nabi. Ayat seperti tiga ayat di atas, terlepas dari menguraikan secara rinci tentang para Nabi Bani Isra’il, tidak sedikitpun mengindikasikan adanya suatu tingkatan seperti Imamah sebagaimana yang dipahami oleh SDI.

Kepemimpinan yang saleh

Masih terdapat 3 (tiga) lagi di mana kata imam disebutkan oleh Qur’an. Pada salah satu dari tiga tempat ini Allah berbicara tentang doa dari hamba-hamba Allah Yang Maha pengasih (‘ibaadurrahman):

Dan orang orang (yaitu, pada ayat 63 adalah hamba-hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Penyayang) yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam (imaaman) bagi orang-orang yang bertakwa. al-Furqan: 74.

Ayat ini membicarakan tentang orang-orang biasa yang tidak mempunyai kelas khusus seperti para Nabi, memohon kepada Allah untuk menjadikan mereka imam, dalam pengertian suri teladan kebaikan, seorang yang orang lain akan bekerja keras untuk menandingi. Adalah sangat jelas bahwa kata itu tidak bisa mengacu pada sekelompok “Imam yang ditetapkan”, dengan alasan karena pengangkatan para Imam pada ranking Imamah bukanlah karena doa mereka. Karena penetapan mereka, seperti para Nabi, semestinya telah ditetapkan sejak awal, tidak dapat dicapai melalui suatu usaha atau kebaktian agama.

Adalah menarik untuk memperhatikan bahwa ayat ini membuktikan menjadi sangat tidak menyenangkan bagi Syi’ah awal tertentu di mana mereka mengumumkan bahwa ayat tersebut telah diubah. Kisah berikut nampak di dalam tafsir Ali ibn Ibrahim al-Qummi, guru dari Abu Ja‘far al-Kulayni:

Telah dibacakan kepada Abu ‘Abdillah  yaitu Imam Ja‘far as-Sadiq:

Dan jadikan kami Imam-imam muttaqiin.

Ia berkata: “Itu merupakan sesuatu hal yang luar biasa bagi mereka memohon kepada Allah untuk menjadikan mereka Imam muttaqiin.” [Konsep SDI tentang Imam dimaksudkan, tentu saja, sejak Imam ditetapkan, dan tak seorangpun dapat menjadi seorang Imam dengan berdoa untuk itu].

Seseorang bertanya: “Bagaimana ayat itu diwahyukan, wahai putra Rasulullah?”

Ia menjawab: ”Ayat itu diwahyukan:

….dan jadikanlah bagi kami Imam-imam dari antara muttaqiin. (18)

Kisah ini, mendokumentasikan di dalam suatu tafsir yang sangat terkenal di antara tafsir awal Syi’ah, (suatu tafsir, yang pada kenyataannya, diuraikan oleh editornya pada abad ke-20 sebagai “pada kenyataannya komentar dari Imam Al-Baqir dan as-Sadiq,” (19) dan masing-masing dari perawinya dianggap handal dan dapat dipercaya oleh ahli hadith Syi’ah, (20) yang menjamin keasliannya sesuai standard Syi’ah) menyingkirkan perlunya suatu diskusi lebih lanjut sekitar arti dari kata Imam sebagaimana yang nampak pada ayat ini.

(Note: jika kita mengakui al-Quran hari ini masih asli, maka ayat al-Furqan: 74 mengungkapkan secara gamblang bahwa jika Allah mengabulkan do’a tersebut maka Imamah bukan monopoli Nabi Ibrahim dan keturunannya sebagaimana yang sering ditafsirkan oleh SDI terkait dengan ayat al-Baqoroh 124).

Pada Hari Penghakiman

Terdapat satu tempat di dalam Qur’an di mana kata Imam digunakan. Yaitu di Surah al-Isra’ di mana Allah Ta‘ala berfirman:

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan imam mereka (bi imaamihim);  al-Isra’: 71.

Imam yang dinyatakan dalam ayat ini dikenali oleh mufassirun Ahl as-Sunnah sebagai Kitab perbuatan atau Nabi yang kepadanya Ummah merujuk. Arti yang pertama lebih disukai oleh Ibn Kathir, (21) yang menyebutkan dukungan pada pilihannya adalah ayat di mana kata Imam digunakan dalam pengertian sebuah Kitab (lihat di atas). Arti seperti ini didukung lebih lanjut oleh ayat sisanya:

dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.

Arti yang kedua juga menemukan dukungannya di dalam Qur’an. Pada Ayat yang lain Allah berfirman:

Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).?  an-Nisa’:41

Pada ayat di atas posisi Nabi sallallahu ‘alayhi wasallam dibandingkan kepada posisi “para saksi” Ummah lainnya, sehingga kita hanya dapat menyimpulkan bahwa yang dirujuk oleh ayat tersebut adalah para Nabi. Oleh karena itu tiap-tiap Ummah akan dipanggil dengan nama Nabi mereka. Memanggil Ummah  masa lalu dengan nama Nabi yang diutus kepada mereka adalah suatu hal yang umum di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Kaum ‘Ad, sebagai contoh,  biasanya dikenal sebagai “ummah Hud”, demikian juga Banu Isra’il  dipanggil “ummah Musa”. Identifikasi Imam pada ayat yang sedang dibicarakan dengan Ambiya’ telah dijustifikasi baik oleh al-Qur’an meupun Sunnah.

Perihal klaim SDI bahwa ”imam” pada ayat itu mengacu pada 12 Imams, (22) maka klaim seperti ini tidak hanya kurang dukungan dari al-Qur’an, namun juga membatasi cakupan yang umum ayat tersebut. Tidakadanya dukungan Qur’ani adalah jelas dari diskusi di atas terutama pada pemakaian perkataan Imam di dalam al-Qur’an. Pembatasan lingkup yang umum dari ayat, muncul dari adanya perbedaan yang terjadi secara kronologis antara pada masa kehidupan 12 Imam, dan periode selama Ummah sebelumnya tumbuh berkembang. Jika kita berkata bahwa semua Ummah akan dipanggil sesuai dengan nama 12 Imam, maka bagaimana nasib Ummah yang hidup sebelum mereka? Dengan nama siapa mereka akan dipanggil? Betapapun, ayat berkata bahwa semua orang-orang akan dipanggil oleh para pemimpin mereka.

Sebagai tambahan, bilamana demi argumentasi yang kita berasumsi bahwa yang dimasud adalah kepada 12 Imam, maka kita mengalami suatu situasi yang agak ganjil. Sayyiduna ‘Ali, yang pertama dari 12 Imam, meninggal pada tahun 40 H. Putranya Sayyiduna Hasan meninggal sembilan tahun kemudian, pada tahun 49 H. Jika Sayyiduna ‘Ali adalah Imam bagi masyarakat waktu itu, maka ummah Sayyiduna Hasan hanyalah orang-orang yang dilahirkan selama sembilan tahun imamahnya. Semua orang selain waktu tersebut yang hidup selama waktu imamah bapaknya akan membentuk bagian sebagai kelompok bapaknya, dan bukan kelompok Hasan. Masa jabatan Imam ke-3 bertahan selama 22 tahun; Imam ke-4 selama 34 tahun; Imam ke-5 selama 19 tahun; Imam ke-6 selama 34 tahun; Imam ke-7 selama 35 tahun; Imam ke-8 selama 20 tahun; Imam ke-9 selama 17 tahun; Imam ke-10 selama 34 tahun; dan Imam ke-11 selama hanya 6 tahun. Namun tiba-tiba, Imam yang ke-12, Mahdi Yang ditunggu, mempunyai masa jabatan Imamah yang telah menjadi berjalan selama lebih dari 1200 tahun. Kelompok yang semestinya dipanggil dengan nama Imam ke-11, sebagai contoh, akan hanya meliputi orang-orang yang dilahirkan selama Imamahnya yang berjalan mulai dari tahun 254 hingga tahun 260, sedangkan jumlah dari mereka yang akan dipanggil dengan nama Imam ke-12 akan pada kenyataannya tidak dapat dihitung.

Bandingkan skenario yang ganjil ini dengan sitem yang jauh lebih sesuai dengan permintaan Qur’ani yang mempunyai berbagai kellompok Ummah yang dipanggil dengan nama Nabi-nabi mereka pada Hari Qiyamah, dan kemustahilan menggunakan ayah 71 Surah al-Isra’ untuk memperkuat doktrin Imamah sebagaimana yang dipahami oleh SDI akan terlihat nyata. Tidak dapat dipertanyaan lagi bahwa kata Imam dalam ayat ini tidak mengacu pada Duabelas Imam.

RINGKASAN

Kita sudah membahas di sini masing-masing dan tiap-tiap tempat di dalam al-Qur’an di mana kata Imam dan jamaknya A’immah digunakan oleh al-Qur’an. Hal itu menunjukkan bagaimana Allah Ta‘ala menggunakan kata ini merujuk kepada berbagai hal, yaitu

Sebuah kitab (3 kali)Pemuka Kufr (2 kali)Sebuah jalan (1 kali)Para pemimpin Bangsa IsraelPara pemimpin muttaqiinPara Nabi atau Kitab perbuatan

Usaha apapun oleh Syi’ah untuk mengidentifikasi dugaan Imamah mereka yang istimewa dengan Imamah Qur’an, secara total adalah aneh. Yang paling dekat dengan pendapat mereka adalah dengan menarik kesimpulan adanya suatu persamaan antara Imamah mereka dengan kepemimpinan Bangsa Israel. Bagaimanapun, persamaan seperti itu dengan seketika dapat ditolak ketika orang menganggap bahwa kepemimpinan Bangsa Israel ini dengan jelas dikenali di dalam al-Qur’an sebagai para Nabi Bani Isra’il. Al-Qur’an tidak menyediakan alasan apapun juga untuk mengidentifikasi kepemimpinan Bangsa Israel ini dengan seseorang kecuali para Nabi. Adalah tidak luar biasa menemukan SDI yang mengutip ayat-ayat seperti ayat 5 Surah al-Qasas untuk memperkuat kepercayaan Imamah mereka. Jika mereka hanya menjumpai masalah ketika membaca ayat ini sesuai konteknya yang sesuai, tanpa menambahkan terhadapnya teologi mereka sendiri, maka mereka akan melihat betapa identifikasi mereka tentang Imamah Qur’an dengan Imamah SDI benar-benar dibuat-buat. Pada al-Qasas:5 sebagai contoh, acuan dengan jelas kepada Musa dan ummahnya. Betapa mengherankan,  ayat itu diperluas kepada Ali ibn Abi Talib dan sebelas Imam dari keturunannya?

Usaha untuk menarik suatu perbandingan antara Kepemimpinan Qur’ani bagi Muttaqiin dan Imamah SDI, juga penuh dengan permasalahan. Telah dapat dilihat di atas bagaimana bentuk kepemimpinan ini adalah suatu kebaikan yang dicari dari Allah oleh para hamba ideal-Nya (’ibaadurrahman). Imamah  SDI, pada sisi lain, sebagaimana Nubuwwah, merupakan karunia Ilahiah, dan tidak bisa diinginkan oleh siapapun. Tidakadanya keselarasan antara bentuk kepemimpinan ini dan Imamah SDI adalah tidak adanya keterangan yang lebih jelas dibanding kandungan perkataan yang dinisbatkan kepada Imam Ja‘far as-Sadiq yang memberitahukan adanya perubahan teks Qur’an yang dilakukan oleh Sahabah radiyallahu ‘anhum sebagai penyebab perbedaan.

Satu-satunya arti lain al-Qur’an perihal kata Imam yang masih ada pada Syi’ah adalah yang mengacu pada Hari Qiyamah, ketika bangsa-bangsa akan dipanggil oleh “Imam” mereka. Mungkinkah bahwa kata “Imam” di sini dimaksudkan sebagai konsep Imamah Syi’ah? Sungguh sial bagi Syi’ah, sekali lagi ternyata juga tidak mungkin. Hal itu tidak mungkin karena dua pertimbangan :

Pertama, dengan membaca secara menyeluruh dengan mengikutkan ayat yang berikutnya, demikian juga ayat-ayat yang lain dari al-Qur’an, menekankan tanpa diraguklan lagi pada fakta bahwa Imamah yang dinyatakan di sini merujuk baik kepada para Nabi, dengan nama bangsanya tidak hanya dipanggil di hari kiamat, tetapi juga disebut di dalam al-Qur’an dan juga Sunnah, atau kepada Kitab catatan perbuatan mereka yang mana mereka akan dimintai pertanggung jawaban.

Kedua, mengidentifikasi ayat tersebut sebagai  konsep Imamah Syi’ah mendorong ke arah suatu distribusi bangsa-bangsa ke dalam berbagai Imam yang sangat problematik.

Kesimpulan :

Penggunaan kata “Imam” di dalam Al-Qur’an tidak ada satupun yang mendukung kepercayaan Imamah sebagaimana yang dipahami oleh SDI.

ACUAN

Asl ash-Syi’ah wa-Usuluha hal. 58 (Mu’ssasat al-A‘lami, Beirut).Al-Kafi vol. 8 (Rawdat al-Kafi) hal. 167 (Dar al-Adwa’, Beirut, 1992).Risalat al-I‘tiqad hal. 111-114, dikutip oleh al-Majlisi: Bihar al-Anwar vol 27 hal. 62 (Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Tehran, 1387).Al-Masa’il, dikutip di dalam Bihar al-Anwar vol. 8 hal. 366.Talkhis ash-Shafi vol. 4 hal. 131 (Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Qum, 3rd ed. 1394).Al-Alfayn hal. 3 (al-Maktabah al-Haydariyyah, Najaf, 3rd ed. 1388).Al-Jami‘ lish-Shara’i‘ hal. 371 (Mu’assasat Sayyid ash-Shuhada’ al-‘Ilmiyyah, Qum, 1405)Tahrir al-Wasilah vol. 2 hal. 72 (Mu’assasat Isma‘iliyan, Qum 1408).Asl ash-Syi’ah wa-Usuluha hal. 58-59.Al-Anwar al-Lami‘ah Sharh az-Ziyarat al-Jami‘ah hal. 176 (Mu‘assasat al-Bi‘thah, Mashhad, 1st ed. 1457).Bihar al-Anwar vol. 26 hal. 194-200.ibid. vol. 26 hal. 267-318.ibid. vol. 26 hal. 319-332.ibid. vol. 27 hal. 29-31.ibid. vol. 26 hal. 109-107.ibid. vol. 26 hal. 117-132.Al-Hukumat al-Islamiyyah hal. 52 (Kementerian Bimbingan, Iran).Tafsir (‘Ali ibn Ibrahim) al-Qummi vol.1 hal. 10 (ed. Sayyid Tayyib al-Musawi, 2nd edition, Kitabfarosh ‘Allameh, Qum 1968).ibid., introduksi oleh editor.Abu Talib at-Tajlil at-Tabrizi: Mu‘jam ath-Thiqat hal. 224 (Mu’assasat an-Nashr al-Islami, Qum 1404 AH). Dalam buku ini pengarang telah menghimpun daftar semua perawi hadith yang dapat dipercaya  oleh Syi’ah. Salah satu dari sumbernya adalah tafsir al-Qummi. Pada bab ketiga dari buku ini, ia memberikan daftar perawi yang kepadanya al-Qummi telah bersandar dalam menceriterakan material yang terdapat dalam tafsirnya, mengutip statemen al-Qummi dalam introduksi bukunya, yang “kami akan menyebutkan dan menginformasikan tentang itu yang mencapai kita, yang penasihat kami dan para perawi yang dapat dipercaya telah menceriterakan”. Ia kemudian mengutip pengarang Wasa’il ash-Syi’ah yang menyatakan bahwa “‘Ali ibn Ibrahim al-Qummi telah bersaksi bahwa tafsirnya diceriterakan dari Imam oleh perawi yang dapat dipercaya.”  (Wasa’il vol. 3 hal. 524).Tafsir Ibn Kathir vol. 3 hal. 52 (Maktabah Dar at-Turath, Cairo n.d.)Pada Al-Kafi volume yang pertama ayat ini digunakan tiga kali dalam kaitannya dengan Imam.

Sumber:  The Qur’an and Imamah by Abu Muhammad al-Afriqi                                       http://www.fahmisalim.com/2015/11/konsep-imamah-syiah-problematik-bagian-2.html