Potret Keluarga dalam Al Qur’an

“Potret Keluarga dalam Al Qur’an”
oleh Ust. Budi Ashari Lc.

Dalam Al Quran, Allah menjelaskan ttg pengganti golongan orang yg diberi petunjuk dari keturunan Adam As. Ia adalah umat yg meninggalkan sholat; mengikuti hawa nafsu; kemudian mereka tersesat (QS. Al Maidah: 59). Allah sebutkan 3 hal ini berurutan karena di dalamnya ada sebab akibat. Orang yg melalaikan sholat, dalam hal ini juga termasuk ia yg tidak khusyuk dalam sholatnya. Maka akibat hal ini mengantarnya pada poin kedua, mengikuti hawa nafsu. Karena sholat baginya tak mampu lagi mencegah kemungkaran. Maka ketika syahwat sudah menjadi tujuan, pastilah ia akan tersesat. Setiap kata dalam Al Quran pasti mengandung makna.

Kita boleh mengambil pendidikan parenting dan keluarga dari pakar barat. Seperti Allah yg dalam Al Quran membenarkan perkataan Ratu Bilqis, meskipun ia seorang yg musyrik. Karena memang mengandung kebenaran. Tapi kita harus tahu dulu dasar pedoman dari agama  kita yaitu Al Qur’an agar tidak mudah disesatkan.

Dari 114 nama surat di Al Qur’an, tak ada satupun memakai nama yang tidak baik. Dalam bahasa Arab, ismun bisa berarti tanda; bisa juga sumu’ yg artinya tinggi. Maka tak pantas nama orang dzalim masa lalu menjadi bagian dari Al Quran. Sekali lagi, Al Quran selalu punya maksud pada setiap segi penciptaannya.

Dari 114 nama surat, hanya satu surat di mana Allah abadikan potret keluarga. Ialah Ali ‘Imran (keluarga Imran). Mengapa harus Imran? Ia bukan nabi atau Rasul. Karena dalam silsilah keluarganya terkandung banyak keagungan. Ialah Maryam, putri Imran. Wanita shalihah, Ibunda Isa As. Bahkan Rasulullaah Saw. pernah bersabda, “Dari kalangan laki-laki yang memiliki kesempurnaan banyak, tapi dari kalangan wanita tidak ada yang mulia selain Maryam.” Dari kisah Imran, kita bisa belajar bahwa bukan hanya Nabi dan Rasul yg mulia, agar kita yang manusia biasa tidak lari dari tanggung jawab dgn mengatakan, “gapapa saya begini, saya bukan Nabi.”

Dalam QS. Ali Imran: 33, Allah pilihkan 4 tokoh yang bisa kita ambil pelajaran. Ada Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, juga keluarga Imran. Dalam ayat ini Allah pilih kata Isthofa yg artinya memilih. Mengapa Allah tidak pilih kata Ikhtaro yg artinya memilih juga? Karena ishtofa itu maksudnya memilih utk diri sendiri. Lebih spesifik, Allah yg pilihkan langsung sebagai teladan. Mengapa pada kata Adam dan Nuh tidak disisipkan kata ‘keluarga’? Kita belajar dari keluarga Adam ttg kisah Qabil dan Habil. Kisah itu adalah perintis sifat hasad pertama kali. Juga pada kisah Nuh, kita saksikan pembangkangan Qan’an yg durhaka pada Nuh. Tidak kita pungkiri Adam dan Nuh adalah Nabi mulia. Tapi Allah tidak ingin kita mencontoh keluarganya. Sementara lagi, Allah sebutkan keluarga Imran juga Ibrahim sebagai potret yg harusnya kita teladani. Dari keluarga Ibrahim dgn Sarah, Allah karuniakan Ishak. Dari keluarga Ibrahim dgn Hajar, Allah karuniakan Ismail.

Dalam QS. Ibrahim: 37, Ibrahim berdoa gamblang yang menggambarkan visi jelas sebuah pondasi rumah tangga. Potret keluarga Abu Lahab dan istri juga bisa kita jadikan pelajaran. Abu Lahab yg parasnya tampan, istrinya cantik; hartanya yang melimpah; keturunannya banyak. Tapi Allah jadikan mereka sejoli yang langgeng hingga neraka. Karena poin diatas (paras, harta, keturunan) bukan tujuan akhir dari sebuah keluarga.

Allah beri kita teladan tentang seni mengingatkan orang lain. Dalam hal ini, Ibrahim menasihati sang Ayah. Ia bukan menyebutkan ‘Yaa Abi’ (Wahai Ayah). Tapi ‘Yaa Abati’, ada sisipan hurus ‘ta’ yg maksudnya kesayangan yg teramat sangat. Lalu pada lafaz berikutnya, Ibrahim menuntun lisannya dgn amat bijak, “Wahai Ayah, aku kedatangan ilmu yang Ayah belum datang kepadamu.” Pada statement ini, Ibrahim tidak menyombongkan diri, ia tetap merendah meski misinya adalah mendakwahi Ayahnya.

“Rumah Tangga Muslim dan Pendidikan Generasi”
oleh Ust. Herfi Ghulam Faizi

Ilmu itu hanya benda mati, implementasi dan mengajarkannya yang menyebabkan ia senantiasa hidup. Seperti Ibnu Zubair yg setiap kali mendapat kucuran wahyu dari Rasulullah, ia segera pulang lalu membagikan ilmu itu pada budaknya, sekalipun budak itu sedang tertidur maka akan ia bangunkan. Di sanalah letak kemuliaan dari muraja’ah.

Pada zaman kekhalifahan Umar, ada seorang Ayah yg mengadukan perihal kenakalan anaknya. Umar terdiam, lantas meminta sang anak utk menghadapnya juga. Anak itu berbalik bertanya pada Umar perihal hak seorang anak dari orangtuanya. Umar pun menjawab, hak seorang anak meliputi 1) memilih Ibu yg baik; 2) nama yang baik; 3) pelajaran Al Quran. Sang Anak pun mengatakan bahwa ia tidak mendapat semua itu. Hingga akhirnya Umar mengatakan bahwa Ayah itu telah durhaka pada anaknya sebelum anak utu mendurhakainya.

Betapa tugas menjadi orang tua adalah tugas mulia lagi berat. Seperti kata Ibnul Qayyim, ‘Kita akan ditanya Allah tentang tanggung jawab kita sebagai orang tua, sebelum peran kita sebagai anak’.

Dalam QS. Al A’raaf: 58, Allah menggambarkan ttg keluarga yg baik dengan lahan subur yg lantas akan menumbuhkan pohon yg baik.

Kembali lagi QS. Al ‘Ankabut: 41, Allah menggambarkan rumah laba-laba adalah rumah yg paling tidak kokoh. Padahal sarang laba-laba bisa 4 sampai 5 kali lebih kuat dari baja. Mengapa Allah gambarkan demikian? Karena pada kenyataannya, rumah laba-laba itu: betina yg membangun sarang; betina tak butuh lagi jantan setelah dibuahi, sementara si jantan akan lari; anak laba-laba akan memakan induk setelah dewasa. Allah tidak meridhoi hal ini terjadi, karena: kepemimpinan itu ada di tangan laki-laki; istri yang shalihah; suami istri bekerja sama mengasuh anaknya dgn baik; buah hati yg penyejuk mata di dunia serta tabungan di akhirat. (QS. Ar Ruum: 21)

Lima hal yang harus ditanamkan pada anak:
1. Pendidikan spiritual (ruh). Ruh yang tuma’ninah. Ini yang menyebabkan PR pendidikan di Indonesia tidak selesai-selesai, karena poin 1 belum terpenuhi.
2. Pendidikan akhlak. Ialah respon pertama saat kita menerima sesuatu. Misalnya latah, ini dapat mencerminkan akhlak kita.
3. Pendidikan sosial. Jika dalam keluarga tidak kuat, anak dgn karakter lemah akan mengikuti anak (tidak baik) dengan karakter dominan.
4. Pendidikan ekonomi. Dalam QS. Al Qolam: 17-32, Allah gambarkan kisah pemuda sholeh yg gelap mata sesaat akibat lalai dari limpahan harta.
5. Pendidikan militer, pertahanan diri. Wallahu a’lam bishshowab.