Renungan – Hormati Orang Tua mu

Renungan:

Semoga kita termasuk orang yang pandai berterimakasih pada orangtua kita…
yang dengan penuh kasih sayang meladeni kita tanpa bosan dan jemu…
Tanpa marah ataupun emosi…
Menghadapi kelucuan, kenakalan, kebandelan kita saat belum baligh dahulu…

Bisa jadi, kini kita sudah lebih….
Bahkan dari status orangtua kita…

Sudah jadi Bosss…
Sudah kaya raya…
Sudah disanjung orang…
Lalu MENCIBIRKAN, MERENDAHKAN atau bahkan MEMBENTAK dan MENGHARDIK orangtua kita…

Betapa ini adalah durhaka…
Dan suatu pintu petaka…

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. Pd. ~)

===

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan HENDAKLAH KAMU BERBUAT BAIK PADA IBU BAPAKMU DENGAN SEBAIK-BAIKNYA. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan JANGANLAH KAMU MEMBENTAK MEREKA DAN UCAPKANLAH KEPADA MEREKA PERKATAAN YANG MULIA.”
QS. Al-Isrő (17) : 23

===

BERSIKAP KASAR PADA ORANGTUA

Seorang bapak yang sudah sepuh duduk berdampingan dengan anak laki-lakinya yang berusia 21 tahun di sebuah taman yang indah…

Kala itu mendekatlah pada keduanya seekor burung, sembari berkicau dengan riangnya….

Bapak: “Suara apa ini?!”
Anak: “Burung.”

Sejenak kemudian…

Bapak: “Suara apa ini?!”
Anak: “Aku kan sudah bilang…. kalau itu suara burung, wahai bapakku.”

Sejenak kemudian…

Bapak: “Suara apa ini?!”
Anak: “Burung…. wahai bapakku…. buruuuuungg….”

Sejenak kemudian…

Bapak: “Suara apa ini?!”
Anak (dengan suara keras dan membentak): “Kenapa nanya lagi… nanya lagi, bapaaakk ?!… Bukankah aku sudah memberitahumu, berkali-kali bahwa itu buruuuuungggg….. kenapa nggak ngerti-ngertiiii…”

Anak: ” Mau pergi kemana kamu, bapak… ?!!”
Masih membentak, dan menjerit dengan suara yang keras…
Sang Bapak, tidak menjawabnya, ia pun beranjak pergi….

Sang Bapak pergi ke rumah, mengambil buku catatan diary-nya, lalu kembali ke taman tersebut dan duduk disamping anaknya…

Sang Bapak membuka buku diary-nya seraya meminta agar sang Anak membaca catatan diary tsb…

Bapak: “Bacalah dengan suara keras…”
Anak : membaca….

DIARY:
“Hari ini Umar anakku tepat berusia 3 tahun…
Dia duduk di taman bersamaku…
Saat itu seekor burung memghampiri kami…
Lalu bertanyalah anakku sampai 21 kali…

“Apa ini wahai bapakku ?”… Lalu aku menjawabnya 21 kali pula, “Ini adalah burung…”

Setiap kali anakku bertanya…
dengan pertanyaan yang sama…
Aku dekap dia, sambil kujawab setiap kalinya, tanpa aku merasa marah terhadap anakku yang lucu dan masih kecil itu…”

Maka sang Anak pun tersadar…
Menangislah ia…
Dipeluknyalah Bapaknya….
Seraya meminta maaf berulang-ulang….