CARA IMAM AS-SYAFI’I MENGHADAPI ORANG JAHIL

CARA IMAM AS-SYAFI’I MENGHADAPI ORANG JAHIL

  • Imam Asy-Syafi’iy berkata :

ﻳُﺨَﺎﻃِﺒُﻨِﻲ ﺍﻟﺴَّﻔِﻴْﻪُ ﺑِﻜُﻞِّ ﻗُﺒْﺢٍ

Orang jahil berbicara kepadaku dengan segenap kejelekan

ﻓَﺄَﻛْﺮَﻩُ ﺃَﻥْ ﺃَﻛُﻮْﻥَ ﻟَﻪُ ﻣُﺠِﻴْﺒًﺎ

Akupun enggan untuk menjawabnya

ﻳَﺰِﻳْﺪُ ﺳَﻔَﺎﻫَﺔً ﻓَﺄَﺯِﻳْﺪُ ﺣُﻠْﻤًﺎ

Dia semakin bertambah kejahilan dan aku semakin bertambah kesabaran

ﻛَﻌُﻮْﺩٍ ﺯَﺍﺩَﻩُ ﺍﻟْﺈِﺣْﺮَﺍﻕُ ﻃِﻴْﺒًﺎ

Seperti gaharu dibakar, akan semakin menebar kewangian.

[Diwân Imam Asy-Syâfi’iy].

  • Imam Syafi’i berkata :

ﻣَﺎ ﻧَﺎﻇَﺮْﺕُ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻗَﻂُّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻐَﻠَﺒَﺔِ

“Aku tidak pernah berdebat untuk mencari kemenangan” [Tawali Ta’sis hlm.113 oleh Ibnu Hajar].

  • Imam Syafi’i berkata :

”Aku mampu berhujah dengan 10 orang yang berilmu, tetapi aku pasti kalah dengan seorang yang jahil, karena orang yang jahil itu tidak pernah faham landasan ilmu.”

  • Imam Syafi’i berkata :
    ﺍﺫَﺍ ﻧﻄَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻔِﻴْﻪُ ﻭَﺗُﺠِﻴْﺒُﻬُﻔَﺦَﻳْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺍِﺟَﺎﺑَﺘِﻪِ ﺍﻟﺴُّﻜُﻮْﺕُ

“Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap yang terbaik adalah diam, tidak menanggapi”

ﻓﺎِﻥْ ﻛَﻠِﻤَﺘَﻪُ ﻓَﺮَّﺟْﺖَ ﻋَﻨْﻬُﻮَﺍِﻥْ ﺧَﻠَّﻴْﺘُﻪُ ﻛَﻤَﺪًﺍ ﻳﻤُﻮْﺕُ

“Apabila kamu melayani, maka kamu akan susah sendiri. Dan bila kamu berteman dengannya, maka ia akan selalu menyakiti hati”

ﻗﺎﻟُﻮْﺍ ﺳﻜَﺖَّ ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﻮْﺻِﻤَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻬُﻤْﺎِﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏَ ﻟِﺒَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺮِ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡُ

“Apabila ada orang bertanya kepadaku,“jika ditantang oleh musuh, apakah engkau diam ??”

Jawabku kepadanya :

“Sesungguhnya untuk menangkal pintu-pintu kejahatan itu ada kuncinya.”

ﻭﺍﻟﺼﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟﺼﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ

“Sikap diam terhadap orang yang bodoh adalah suatu kemulia’an. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan”.

Lalu Imam Syafi’i berkata :

ﻭﺍﻟﻜﻠﺐُ ﻳُﺨْﺴَﻰ ﻟﻌﻤْﺮِﻯْ ﻭَﻫُﻮَ ﻧَﺒَّﺎﺡُ

“Apakah kamu tidak melihat bahwa seekor singa itu ditakuti lantaran ia pendiam ??

Sedangkan seekor anjing dibuat permainan karena ia suka menggonggong ??”

[“Diwan As-Syafi’i” karya Yusuf Asy-Syekh Muhammad Al-Baqa’i].

  • Imam Syafi’i rahimahullah berkata :

“Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek. Maka aku tidak ingin untuk menjawabnya. Dia bertambah pandir dan aku bertambah lembut, seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi” [Diwan Asy-Syafi’i hal. 156].

  • Imam Syafi’i juga berkata : ”Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, toh diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi Singa meladeni anjing”.

Wallahu alam