Betapa jahatnya, 7 penelitian yang berani korbankan nyawa kaum lemah

1

Ilmu pengetahuan adalah sebuah aspek yang akan selalu berkembang ke arah yang lebih baik. Kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi pun membawa peradaban manusia hidup dengan kualitas yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Untuk mendapat sebuah teknologi yang sempurna, dibutuhkan uji coba. berbagai uji coba yang dilewati sudah terbukti berhasil memproduksi teknologi yang mutakhir. Namun ternyata ada juga yang punya proyek percobaan ekstrem, yang ternyata tak segan-segan membuat para ilmuwannya mempertaruhkan nyawa objek percobaannya.

Hal mengerikan ini seringkali dilakukan kepada kaum-kaum yang justru tak mengerti apa yang terjadi dan minim perlawanan. Jadi hal ini merupakan hal yang menyedihkan dan merupakan sisi gelap dari majunya teknologi saat ini.

Berikut beberapa penelitian yang berani pertaruhkan nyawa mereka yang lemah.

1. Anak-anak yang ditipu untuk mau makan ‘sereal radioaktif’

Pada tahun 1940 an, merek yang kini kita kenal sebagai merek oatmeal Quaker Oat, ingin mengadakan sebuah penelitian yang akhirnya mendanai Massachusets Institute of Technology (MIT) untuk mengadakan penelitian yang Quacker inginkan. Motivasi Quacker melakukan hal ini adalah karena kompetitornya, Cream of Wheat, membanjiri media dengan iklan bahwa produk mereka mengandung nutrisi yang bisa tersebar ke seluruh tubuh.

Quacker sendiri ingin menyatakan hal yang sama, namun mereka ingin membuktikannya dulu. Sayangnya, cara yang dilakukan MIT untuk uji coba ini cukup mengerikan.

Mereka mengumpulkan 100 orang yatim piatu, yang sebagian besar dari mereka merupakan anak yang keterbelakangan mental. Anak-anak tersebut diberi makan semangkuk bubur oatmeal yang mengandung kalsium dan metal radioaktif. Pada akhirnya, besi radioaktif tersebut membuat anak-anak yang keterbelakangan mental tersebut berada pada kondisi yang mengerikan. Kebanyakan dari mereka ‘anfal.’

Karena terbukti membahayakan nyawa, Quacker Oat dan MIT dituntut di pengadilan dengan angka fantastis di kala itu, 1,85 juta dollar.

2

2. Pfizer membunuh 50 anak dengan obat uji coba

Di tahun 1996, perusahaan obat asal Amerika Serikat, Pfizer, menguji coba sebuah obat bernama Trovan. Obat ini adalah sebuah antibiotik yang pernah terbukti memicu penyakit lever pada 200 anak di Nigeria ketika mereka terserang wabah meningitis. Obat ini pun akhirnya dilarang untuk dikonsumsi di Amerika Serikat maupun di Uni Eropa. Akhirnya untuk uji coba, Pfizer kembali ke Nigeria.

Di percobaan kali ini hasilnya sama sekali tak membaik. Obat ini berakhir membunuh 50 anak dan membuat sebagian besar yang lain mengalami cacat mental dan cacat fisik.

Pfizer mati-matian membela diri di pengadilan karena pemerintah Nigeria merasa tidak mengizinkan perusahaan tersebut beruji coba di negaranya, Pfizer akhirnya harus membayar tuntutan sebesar 75 Juta Dollar.

3

3. Seorang dokter menularkan gonorrhea ke anak berumur 4 tahun untuk penelitian

Di abad ke 19 lalu, terdapat perdebatan alot di dunia medis tentang bagaimana cara penularan penyakit seksual gonorrhea, atau kencing nanah. banyak yang berpendapat bahwa gonorrhea tak bisa menyebar layaknya bakteri.

Akhirnya seorang ilmuwan dan dokter bernama Henry Heiman ingin melakukan percobaan. Masalahnya, dia tak ingin mencobanya ke tikus dan dapat hasil tak maksimal. Alih-alih, dia melakukannya ke anak keterbelakangan mental.

Heiman membawa dua anak keterbelakangan mental berumur 4 dan 16 tahun, dan menyuntikkannya dengan gonorrhea. Sang dokter juga menyuntikkan ke seorang pria berumur 26 tahun yang sedang sekarat.

Hal yang gila dari percobaan ini adalah percobaannya berhasil. Sang dokter gila ini berhasil menularkan gonorrhea dan membuktikan bahwa penyebaran gonorrhea layaknya bakteri. Permasalahan terbesarnya adalah Heiman tak punya obat untuk menyembuhkan gonorrhea.

4

4. Ilmuwan Rusia ingin seorang wanita dihamili primata

Seorang ahli biologi asal Rusia bernama Ilya Ivanov ternyata hanya punya satu obsesi dalam hidupnya: melihat seorang manusia mengandung seekor primata. Benar, hal ini sangat diupayakan untuk secara artifisial melakukan inseminasi sperma primata pada seorang wanita. Hal ini bahkan didukung oleh pemerintah Rusia dengan bantuan uang, dan salah satu Universitas di Perancis yang menawarkan simpanse.

Permasalahannya, tak ada satu pun wanita Perancis yang ingin dihamili primata. Ivanov punya ‘akal bulus’ untuk mencoba jadi ginekolog dan diam-diam menyuntikkan sperma simpanse ke tubuh wanita. Namun ide ini ditolak mentah-mentah oleh tim medis Perancis.

Akhirnya ia pulang ke Rusia dan entah mengapa, idenya bisa dilakukan di Rusia. Dia pun berhasil membawa seekor orangutan dan ada 5 orang relawan yang bisa dikecoh untuk dihamili primata. Dalam usahanya tersebut, sayangnya sang orangutan meninggal dan Ivanov juga meninggal yang diduga karena stres.

5

5. Jean-Antoine Nollet ‘menyetrum’ para biarawan untuk uji coba

Pada abad 18 silam, seorang fisikawan asal Perancis, Jean-Antoine Nollet, tertarik dengan eksperimen elektrik dari Benjamin Fraklin yang membuktikan apakah arus listrik benar-benar mengalir. Untuk membuktikannya sendiri, dia mengumpulkan banyak sekali biarawan dan disuruh berbaris sepanjang 1 kilometer. Semua biarawan diharuskan bergandengan tangan, biarawan di baris terakhir diharuskan memegang sebuah kawat.

Saat itu, konsep ‘kesetrum’ masih belum terlalu populer, dan arus listrik dianggap tak bisa mengalir secepat itu. Walhasil, ketika semua biarawan kesetrum sambil kesakitan, akhirnya Jean mengetahui bahwa kecepatan arus listrik dalam berpindah ternyata sangat cepat.

6

6. Raja Swedia membuktikan mitos kopi beracun pada terpidana mati

Di era kekuasaan King Gustav III, beredar mitos bahwa kopi adalah minuman beracun. Sang raja sendiri adalah orang yang paling percaya akan hal ini. Namun sejujurnya ada keraguan di dalam dirinya bahwa sebenarnya kopi hanya minuman biasa. Akhirnya dia ingin membuat uji coba akan hal ini.

Sang raja membuat uji coba dengan mengampuni dua orang terpidana mati. dua orang tersebut diampuni dengan satu syarat, satu orang disuruh meminum kopi tiga cangkir sehari seumur hidupnya, dan terpidana satunya disuruh minum 3 cangkir teh seumur hidupnya.

Tentu yang diharapkan adalah si peminum kopi akan segera mati. Namun hasil sebaliknya justru muncul. Si peminum teh meninggal terlebih dulu di bertahun-tahun berikutnya di umur 83 tahun, lalu sang raja sendiri meninggal. Akhirnya kematian sang peminum kopi tak pernah ditelusuri lagi. Keinginan uji coba berbahaya ternyata tak berhasil.

7

7. Kelompok asli Amerika yang dilanda kelaparan justru jadi ‘kelinci percobaan’

Pada tahun 1942, Pemerintah Kanada mengadakan beberapa eksperimen yang sangat berbahaya para masyarakat asli Amerika atau Indian, yang bermukim di pemukiman asli Amerika yang memiliki sebutan ‘reservations.’ Eksperimen ini bermula ketika komunitas asli Amerika di Manitoba dilanda kelaparan.

Peneliti ingin menguji seberapa penting nutrisi dan vitamin tambahan untuk masyarakat. Sayangnya bencana kelaparan justru menjadikan pemerintah Kanada oportunis untuk melakukan percobaan ke komunitas asli Amerika.

Percobaan ini dilakukan dengan cara membagi dua objek komunitas dalam dua percobaan: kelompok pertama, mereka diberi asupan 1.500 kalori tanpa vitamin, dan kelompok kedua diberi vitamin namun memotong pasokan susu yang bisa merusak vitamin.

Semua kelompok dilarang menemui dokter maupun dokter gigi, karena takut merusak hasil eksperimen.

Hasilnya? Tidak dipublikasikan. Benar, hasil dari penelitian ini ditutup-tutupi dan menghasilkan asumsi bahwa penelitian ini membawa dampak buruk bagi kelompok asli Amerika yang jadi objek. Karena mereka adalah kaum minoritas yang terpinggirkan, hal ini bahkan tak jadi kasus.

 

Sumber : merdeka.com