Zionis, Obama, dan Tanah 3 Agama

Liputan6.com, Jakarta – Oleh: Elin Yunita Kristanti, Alexander Lumbantobing, Tanti Yulianingsih, Rizki Gunawan, Fathi Mahmud

Sebuah surat datang dari Gaza, untuk dunia. Penulisnya yang emosional mengisahkan cerita duka akibat invasi darat: tubuh-tubuh yang terkoyak, bercucuran darah, menggigil, sekarat, dan akhirnya tewas.

Korbannya adalah rakyat Palestina dari segala usia, nyaris semuanya penduduk sipil yang tak punya dosa. Manusia — ia tulis dengan huruf kapital — sekali lagi diperlakukan seperti binatang. Oleh tentara (yang mengaku) paling bermoral di dunia, Israel.

Sang penulis menjadi saksi hidup orkestra mesin perang Israel, sebuah simfoni mengerikan salvo artileri dari kapal perang di ujung pantai, deru jet tempur F-16, suara drone yang bikin merinding, ditingkahi gemuruh Apache. Semua dibuat dan dibiayai Amerika Serikat — sekutu abadi Tel Aviv.

Seruan pun ditujukan kepada Presiden AS Barack Obama yang mendukung agresi itu, dengan alasan ‘pembelaan diri’ Israel dari roket Hamas.

“Mr Obama – apakah Anda punya hati?

Saya mengundang Anda, menghabiskan satu malam — hanya semalam — dengan kami di Shifa. Menyamar sebagai tukang bersih-bersih, mungkin.

Saya yakin, 100 persen, itu akan mengubah sejarah.

Tak seorang pun, yang punya hati dan kuasa yang bisa melalui malam di Shifa tanpa bertekad untuk mengakhiri pembantaian rakyat Palestina…

Tolong. Lakukan apa yang Anda bisa. Ini tak boleh dibiarkan.”

Pengirimnya bukan orang Palestina, melainkan seorang dokter yang menjadi relawan di RS al-Shifa, Gaza. Namanya, Mads Gilbert, MD PhD. Pria 67 tahun itu sudah berkali-kali mengabdi di Gaza, 17 tahun bolak-balik. Ia datang dari negara di mana rakyatnya menikmati kegembiraan dan kebebasan: Norwegia.

Gilbert mengaku kemanusiaan yang menuntunnya datang, tanpa bayaran. Ke wilayah tepian Laut Tengah di mana ia menjadi saksi dari sebuah ‘pembantaian’. Meski saudara sebangsanya menuduh kesaksiannya sebagai berita bohong.

Seperti halnya Rachel Corrie yang tewas karena menghadang buldozer Caterpillar D9R milik Israel yang akan menghancurkan permukiman rakyat Palestina. Gadis 23 tahun asal AS, beragama Kristen, itu dituding membela ‘teroris’.

Sementara itu, di Kensington High Street, London, Inggris. Sekelompok orang menggelar demonstrasi di depan Kedubes Israel. Termasuk 3 pria yang tampil mencolok dengan jubah hitam dan janggut panjang.

Mereka mengangkat poster. Salah satunya bisa dibaca: “Judaism rejects the Zionist state and condemns its criminal siege and occupation” —  “Yudaisme menolak negara Zionis dan mengutuk tindakan kriminal pengepungan dan pendudukan”. Mereka adalah rabi Yahudi. Yang mengutuk Israel.

Aksi serupa digelar di seluruh belahan dunia. Juga di Paris, Roma, New York, dan di muka Gedung Putih di Washington DC.

Di Ibukota AS, dalam orasinya, Rabi Dovid Feldman dari Jews United Against Zionism mengatakan, Amerika Serikat harus menghentikan dukungannya kepada Israel. “Kami memohon pada AS untuk menghentikan pertumpahan darah ini, “ kata dia sepertiLiputan6.com kutip dari CBS Local, Minggu, 20 Juli 2014.

“Kita harus paham, bahwa (serangan Israel) adalah salah. Kita harus mengerti bahwa itu berbahaya, tindakan kriminal, anti-agama, juga anti-Yahudi.”

Mengibarkan bendera Palestina, ribuan pendemo menyerukan pesan yang sama: bebaskan Palestina dan hentikan kekerasan di Gaza. Di barisan yang sama ada orang Amerika Serikat – putih dan berwarna, warga segala bangsa, umat Muslim, Kristen, Yahudi, …

Ada juga yang memilih cara lain. Pada 15 Juli 2014, umat Yahudi di Inggris berpuasa — bersama umat Muslim — menyerukan diakhirinya kekerasan.

Sayangnya, di Sarcelles, Prancis, demo menuntut kedamaian di Gaza berubah jadi ricuh. Aksi yang awalnya dalam berubah rusuh saat massa menyerang bisnis milik orang Yahudi, Minggu 20 Juli 2014.

Sejumlah toko dijarah, polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet ke arah kerumunan.

Aksi tersebut sebenarnya telah dilarang, di tengah kekhawatiran bahwa  komunitas Yahudi akan menjadi sasaran pengunjuk rasa — setelah akhir pekan lalu massa berupaya menyerbu 2 sinagog di Paris.

“Ketika Anda melampiaskan ke rumah ibadat, ketika Anda membakar toko di sudut jalan hanya karena itu milik Yahudi, Anda telah melakukan tindakan anti-Semit,” kata Menteri Dalam Negeri Prancis, Bernard Cazeneuve.

Sementara, di Maroko, seorang rabi Yahudi menjadi korban serangan. Siapa pun yang melakukannya, ia mungkin tak tahu Yahudi tak sama dengan Israel. Bahkan rabi sekali pun mengutuk negeri zionis.

Palestina: Tanah Tiga Agama

Agama memang tak sedang berperang di Gaza. Dan zionisme politik Israel tak sama dengan zionis religius — yang percaya bahwa kembali ke Tanah Perjanjian bukanlah sebuah tindakan ditentukan oleh manusia, apalagi menuding penjajahan, tetapi bahwa mereka akan kembali kapan dan bagaimana Tuhan lah yang memutuskan.

Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdawi menegaskan, konflik yang sedang terjadi di Gaza bukan soal keyakinan. Umat Islam, Kristen, dan Yahudi hidup rukun di Palestina. (Baca juga: INFOGRAFIS Angkara Israel atas Gaza)

“Ada lebih dari 1.500 orang Kristen di Gaza…bukan di seluruh Palestina. Karena di seluruh Palestina lebih banyak lagi orang Kristennya, di Bethlehem, Yerusalem,” kata dia saat diwawancara Liputan6.com.

“Ada juga warga Yahudi di Palestina, yang bukan pendatang dari Eropa. Sehingga, bukan menjadi bagian dari penjajah. Warga Yahudi ada di sepanjang sejarah kami, bahkan sebelum Israel didirikan.” Salah satunya bahkan menjadi anggota parlemen.

“Dan mereka sama sekali tidak menganggap diri mereka sebagai orang Israel. Mereka memandang dirinya sebagai orang Palestina,” kata Pak Dubes. “Jadi, siapa bilang ada masalah agama di Palestina?”

Alex Awad, pastor East Jerusalem Church mengkritik cara pandang Barat yang berat sebelah melihat konflik Israel-Palestina. “Mereka tidak tahu siapa yang menjajah siapa, siapa penindas, siapa yang menyita tanah, yang sedang membangun dinding untuk mencoba memisahkan orang-orang satu sama lain,” kata Alex Awad kepada The Christian Post.

Menurut Awad, akar konflik di Gaza tak sekedar penculikan dan pembunuhan 3 remaja Israel. Namun hukuman kolektif yang diberlakukan kepada seluruh rakyat Gaza – atas ekspresi kemarahan penduduk Palestina, dalam hal ini Hamas, yang menentang blokade dan penjajahan negeri zionis.

Ia juga menuding Israel menggunakan serangan ke Gaza sebagai pengalihan isu, ‘menutup-nutupi’ perluasan permukiman di Tepi Barat.

Awad menambahkan, orang-orang Kristen Palestina di Gaza sama menderitanya dengan kaum muslim di sana. Terancam bom, hanya mendapat jatah listrik 8 jam per hari, sulit mendapat air bersih.

Tak ada yang namanya ‘Kota Kristen’, umat di sana hidup bersama dengan warga lainnya. Di Jalur Gaza, tetapi juga di Tepi Barat. Mereka memilih netral, tak menjadi bagian dari pertempuran. “Kami tidak berjuang di sisi Hamas. Kami tidak berjuang di sisi Israel. Kebanyakan orang Kristen sangat netral,” kata Awad.

“Namun, di lubuk hati, kami berpihak pada saudara-saudara kami di Palestina, termasuk umat Islam. Karena kami tahu mereka lah korban dari pendudukan, ditindas, dan mendapat perlakuan yang  melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) lainnya,” kata Awad

Bantai Warga Palestina, Kebrutalan Israel Mirip Nazi?

Seorang bocah cilik Palestina, dengan luka di sekujur tubuh, mengerahkan semua kekuatannya untuk mencengkeram baju paramedis yang mencoba membaringkannya di tempat tidur rumah sakit. Foto yang merekam adegan menyedihkan itu menyebar luas di dunia maya.

Namun, ada yang tak bisa ditangkap dalam secarik potret itu. Jeritan sang anak: “Aku ingin ayah! Bawa ayahku ke sini!”

Foto itu juga tak mengungkap luka menganga di sisi kiri kepalanya, pecahan peluru besar di lehernya,  potongan-potongan kecil logam yang bersarang di dada, dan perutnya. Semua akibat serbuan artileri Israel.

Kisah di balik foto yang diambil di RS al-Shifa, Gaza City Kamis lalu diungkap oleh seorang dokter yunior Belal Dabour kepada The Electronic Intifada.

“Sekitar pukul 03.00, sekitar 8 atau 9 korban datang ke ruang gawat darurat sekaligus. Termasuk 4 bersaudara — dua di antaranya anak kecil berusia 3 tahun, yang menderita luka relatif dangkal,” kata dia, seperti Liputan6.com kutip dari Sydney Morning Herald, Senin 17 Juli 2014.

Kemudian datang yang tertua dari 4 bersaudara itu, seorang bocah lelaki di awal masa remaja. Kepala, juga wajahnya berlumuran darah. Ia menekankan lap ke kepalanya untuk menghentikan aliran cairan merah itu. Namun, pikirannya fokus ke hal lain. “Selamatkan adikku!,” teriak dia berkali-kali.

Sementara, anak laki-laki dalam foto itu menjerit dan berteriak memanggil ayahnya, saat paramedis membawanya ke ruang perawatan intensif.

“Setelah memeriksa luka dengan hati-hati, ternyata itu diakibatkan ledakan dari artileri yang menghancurkan dinding rumahnya. Beberapa luka-lukanya disebabkan oleh proyektil berkecepatan tinggi,” tulis Dr Dabour.

Pecahan peluru di leher anak itu nyaris mengenai arteri utama, potongan di dadanya hampir menusuk paru-paru, dan satu di perutnya hampir mencapai usus. Apapun, “anak itu beruntung,” kata Dr Dabour. Sang dokter telah melihat terlalu banyak kematian.

Dr Dabour tak tahu siapa nama anak dalam foto. Yang jelas, ia hanya salah satu dari sekian banyak korban yang datang. “Ada yang jasadnya terbelah jadi dua, beberapa terpenggal, ada yang hancur dan tak bisa dikenali. Ada juga yang bisa diselamatkan.”

Lantas bagaimana dengan nasib keluarga si bocah? “Saya tidak tahu apakah ia berhasil bertemu kembali dengan ayahnya, atau apa yang terjadi dengan keluarganya yang lain,” tulisnya.

“Tapi ada satu hal yang saya tahu pasti, yaitu bahwa ratusan anak-anak seperti dia menderita luka yang sama atau lebih buruk, dan sampai tulisan ini dibuat, hampir 80 bocah seperti dia tewas akibat serangan Israel yang tanpa ampun.

Senjata Berbahaya

Dalam invasi darat ke Gaza, Militer Israel dilaporkan menggunakan selongsong flechetteatau panah baja yang illegal, bahkan menurut aturan yang dikeluarkan organisasi hak asasi manusia negeri zionis.

Flechette umumnya ditembakkan tank. Selongsong mematikan itu meledak di udara, di atas target –mengirimkan ribuan anak panah baja kecil masing-masing tidak lebih dari 4 cm panjangnya. Demikian dilaporkan The Independent.

Menurut Palestinian Centre for Human Rights (PCHR), 6 peluru ditembakkan ke arah desa Khuzaa di Jalur Gaza pada 17 Juli. Seorang perempuan berusia 37 tahun, Nahla Khalil Najjar, menderita luka di dadanya akibat tembakan tersebut.

Saat dikonfirmasi, militer Israel tidak menyangkal menggunakan selongsong tersebut dalam konflik di Gaza. Namun, mereka berdalih hanya menggunakan senjata “yang sah di bawah aturan hukum internasional”.

Flechette pernah digunakan sebelumnya di Gaza dan dinyatakan legal oleh Mahkamah Agung Israel pada 2002. Tapi pada 2011, laporan kelompok hak asasi manusia Israel B’Tselem menyebut senjata itu, “mengandung potensi bahaya sangat tinggi yang merugikan warga sipil tak berdosa”. (Baca juga: Hamas Gunakan Bom Keledai?)

Sejauh ini nyawa warga Palestina yang terenggut sebanyak 507 orang, sejak Israel meluncurkan operasi ‘Protective Edge’ 8 Juli 2014 lalu hingga Senin 20 Juli 2014 — termasuk mereka yang gugur di Shaja’ia. Demikian menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Sementara korban luka mencapai total 3.000 orang.

“Israel telah melakukan kejahatan kemanusiaan,” kata juru bicara Hamas Sami Abu Zuhri kepada Al Jazeera. Sebab, kebanyakan dari mereka yang tewas di Shaja’ia adalah perempuan dan anak-anak.

Sebaliknya, militer Israel berdalih telah memperingatkan penduduk untuk meninggalkan Shaja’ia, yang dianggap area kunci peluncuran roket Hamas ke Israel.

Di sisi Israel, 13 prajurit tewas dalam pertempuran berdarah Minggu lalu — hari paling berdarah di Gaza dalam kurun waktu 5 tahun– menambah korban jiwa menjadi 18 orang, 2 di antaranya warga sipil.

Itu adalah jumlah terbesar tentara tewas dalam pertempuran sejak perang Lebanon 2006. Di antara mereka yang tewas adalah Max Steinberg, penduduk asli California, dan Sean Carmeli, seorang tentara IDF dari South Padre Island, Texas.

“Kami melakukan segala yang kami bisa untuk tidak merugikan rakyat Gaza,” kata PM Israel, Benjamin Netanyahu. Namun, “Hamas melakukan segala sesuatu yang mereka bisa untuk memastikan rakyat Gaza menderita.”

Tak Ada Tempat untuk Lari

Israel mengklaim telah memperingatkan warga sebelum memulai serangan, namun, bagi Enas Sisisalem, tak ada tempat untuk lari.

“Tak ada siapa pun yang dijamin bakal selamat, tak ada tempat untuk lari, karena di mana-mana menjadi target.” kata itu dua anak yang tinggal di permukiman al-Remal di Gaza City, kepada CNN. “Suara tembakan pasti membuat anak-anakku menangis.”

Warga Shaja’ia, kata dia, bukan tak berusaha lari. “Tapi tembakan terjadi tanpa henti,” kata Sisisalem. “Orang-orang lari dari rumah hanya membawa pakaian yang melekat, anak-anak mereka, dan apapun yang bisa diraih tangan.”

PBB memperkirakan bahwa sekitar 70% dari warga Palestina yang tewas di Gaza adalah warga sipil.

Lebih dari 100.000 orang terlantar akibat konflik, demikian menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Coordination of Humanitarian Affairs).

Sementara, lebih dari 83 ribu warga Gaza berlindung di sekolah-sekolah PBB, —  jumlahnya meningkat lebih dari 400% dalam hitungan hari, demikian menurut Chris Gunness, juru bicara United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees.

Dunia terbelah menanggapi konflik yang tak kunjung usai di Gaza. Menteri Luar Negeri AS John Kerry menyalahkan Hamas yang dianggap mengabadikan konflik, mendesak faksi tersebut untuk “bertanggung jawab dan menerima … gencatan senjata multilateral tanpa syarat”.

Sebaliknya, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menuduh Israel membunuh warga Palestina “tanpa ampun” dan mengecam Washington karena menutup mata terhadap penderitaan rakyat Gaza.

Ia bahkan menyebut, apa yang dilakukan Israel di Jalur Gaza lebih kejam dari apa yang dilakukan Adolf Hitler dan Nazi.

“Mereka mengutuk Hitler siang dan malam,” kata dia. “Namun tindakan barbar mereka bahkan melampaui apa yang dilakukan Hitler.” Dalam perbincangan telepon dengan Menlu AS John Kerry, PM Benjamin Netanyahu mengecam pernyataan Erdogan.

Tapi tak cuma Erdogan yang berpikiran seperti itu. African National Congress (ANC), partai yang didirikan mendiang Nelson Mandela, bahkan menyamakan tindakan Israel ke Gaza dengan apa yang dilakukan Nazi Jerman terhadap kaum Yahudi.

Afrika Selatan secara historis mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Bahkan, Mandela pernah menyamakan Israel dengan negara apartheid. Dan minggu lalu Wakil Sekretaris Jenderal ANC Jessie Duarte membandingkan Israel dengan Nazi Jerman.

“Kami tak merasa harus minta maaf, karena pernyataan kami mengungkap apa apa yang kami rasakan tentang Israel,” kata juru bicara ANC, Zizi Kodwa seperti Liputan6.comkutip dari situs eNCA. “Israel saat ini menggunakan apa yang disebut rudal dan kekuatannya, di balik itu ia didukung oleh negara-negara besar seperti Amerika Serikat.”

Alan Horwitz dari Stop the Jewish National Fund mengatakan, tak semua orang Yahudi sudi menerima Israel. “Warga dunia, termasuk Afsel, tak akan percaya dengan metode yang mereka gunakan atas nama pembebasan Yahudi,” kata dia

Siap Mati untuk Gaza

Wahyu Purnomo siap bertolak ke Gaza, Palestina yang bergolak. Meski nyawa jadi taruhan. Pria yang akrab disapa Ipung itu bahkan telah mendaftar di posko relawan Gaza di Masjid Gedhe Kauman pada Kamis 10 Juli 2014. Untuk jadi koki alias juru masak tanpa bayaran.

“Saya sudah niat. Wis (sudah) tekad bulat. Ya terserah orang bilang saya edan,” kata dia kepada Liputan6.com.

Ipung memang tak punya sertifikat chef, kursus saja tak pernah. Namun, pria kelahiran Yogyakarta 24 Maret 1982 itu mengaku, pengalaman menjadi relawan bagian dapur saat bencana Tsunami Aceh 2004, Gempa Yogya 2006, maupun erupsi Merapi tak boleh diremehkan. “Kalau disuruh masak, masakan saya jelas lebih enak dari istri saya,” kata dia, yakin.

Untuk mempersiapkan diri, Ipung sudah mencari referensi makanan khas Palestina. “Apa yang bisa saya masak, ya itu yang akan saya lakukan. Seperti roti gandum, tongseng kambing, itu saya bisa. Kebab kita bisa pakai gandum. Nanti juga saya kenalkan makanan khas Yogya atau Indonesia, oseng-oseng misalnya. Kalau nggak mau mereka, ya akan bikin khas sana saja,” kata dia.

Bapak beranak dua itu bahkan mengaku, keluarga sudah merelakannya pergi. Termasuk sang istri, bahkan kantor tempatnya bekerja. “Prinsip saya kemanusiaan. Kalau ada apa-apa di sana itu nanti jadi jihad saya,” kata pria yang pernah jadi sopir mobil jenazah selama 3 tahun itu.

Relawan lainnya yang  juga mendaftar pada tempat dan waktu sama adalah Irwan. Namun namanya tercatat sebagai tim medis di Gaza nanti. Meski tak punya latar belakang sebagai paramedis.

Irwan mengaku mendapat ilmu dari pengalaman, juga pelatihan medis dari Palang Merah Indonesia (PMI). “Pernah pengalaman jadi relawan di Poso, Ambon, Merapi dan gempa Yogya,” ujar dia.

Amputasi dengan Gergaji Kayu

Menjadi relawan di Tanah Air tentu saja berbeda dengan di wilayah konflik seperti Gaza. Hal itu dipahami benar oleh pendiri Mer-C, Joserizal Jurnalis.

Kali pertama ia masuk ke wilayah padat yang diblokade itu 6 tahun lalu. “Dua minggu di Mesir nunggu dulu sebelum ke Gaza. Sebelum gencatan sejata, 2-3 hari, baru diperbolehkan masuk ke kawasan itu,” ungkapnya mengenang kala itu.

Berada di medan perang seperti itu, ujar Jose, tentu saja harus siap dengan kondisi serba kekurangan saat mengobati korban. “Pasti kondisi gitu kurang semua-semua. Ya peralatan medis, obat-obatan, tapi harus siap,” katanya.

Untuk mengakalinya, beber Jose, semua korban diobati terlebih dahulu dengan alat dan obat seadanya.

“Pasien yang gawat, distabilkan dulu. Baru kami kirim ke luar. bisa dikirim rumah sakit keluar Gaza, atau di Rumah Sakit Sifa,” ungkapnya. “Itu saya pertama kali ke Gaza,” kenangnya.

Dalam mengobati para korban di lokasi konflik, sambung Jose, tentu saja banyak hal-hal mengerikan.

“Di Maluku saya pernah memotong tulang (mengamputasi) korban dengan gergaji kayu, sedangkan di Gaza ngobati orang-orang yang terkena mortir,” kata alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

“Yang terparah yang pernah saya tangani adalah anak kecil di Gaza. Dari panggul ke paha robek, somplak-somplak. Sudah dibius mau dioperasi. Tapi tak terselamatkan,” rincinya mengingat dirinya masa itu berada di medan perang.

Pria kelahiran Padang, Sumatera Barat itu mengungkapkan banyak yang trauma akibat bom-bom Israel. “Mengerikan,” ujar dia.

Dampak Konflik di Gaza

Bapak dari 3 orang anak ini mengungkapkan, rakyat Gaza benar-benar menderita dengan kondisi konflik seperti itu.

“Saat kondisi perang mereka ketakutan. Apalagi anak-anak. Cuma kan mereka ini punya orangtua dan ibu yang kuat,” paparnya.

“Jadi mereka mendidik anak-anak dengan kuat, berani, sabar dan tahan. Faktor keluarga, dan belajar agama,” jelas dia.

Kalau tak ada perang, anak-anak itu juga melakukan aktifitas seperti biasa. “Ya bermain dan berkumpul bersama anak-anak,” tuturnya.

Usaha orang-orang yang turut serta meringankan penderitaan warga Gaza pun terpampang di Facebooknya. “Kaleng yang dipakai Amora untuk galang dana di kompleknya. Amorita (kelas 5 SD berinisiatif sendiri tanpa sepengetahuan ayahnya) menggalang dana untuk Gaza dengan keliling komplek,” tulis Jose, disertai foto anak perempuan berkerudung berhati mulia itu.

“Perkumpulan tukang pulsa dan dari gereja sumbang Rumah Sakit Indonesia Gaza sebanyak Rp 38 jutaan. Mereka juga bantu counter isu fitnah terhadap MER-C,” demikian tulis Jose menginformasikan bantuan lainnya. (Tnt)