Indonesia Mendadak Arab

In sha Allah msih segar dlm ingatan kita, 3 rangkaian peristiwa yang terjadi di negeri kita tercinta, Indonesia Raya.

Pertama, pidato politik seorang ketua umum partai yang mengatakan “kalau mau menjadi orang Islam jangan menjadi orang Arab”.

Kedua, seorang pemuda yg lugu nan polos di tangkap bak gembong teroris karena membawa bendera merah putih bertuliskan kalimat Tauhid. Kalimat itulah yang menjadi alasan bagi polisi menangkapnya dengan sangat dramatis, padahal kalimat di bendera itu adalah sebaik-baik kalimat di muka bumi.

Ketiga, tiga orang yang in sha Allah pilihan Allah untuk mempersatukan ummat Islam Indonesia bahkan mungkin dunia yang tengah dikriminalisasi oleh penguasa.
Ustadz Habibi Rizieq Syihab di Polda Jawa Barat, Ustadz Bahtiar Nasir di Polda Metro Jaya Jakarta, Ustadz Munarman di Polda Bali.

Analisa sederhana,

Kunjungan Raja Salman dari Kerajaan Arab Saudi ke Indonesia adalah tamparan halus tapi menghunjam langsung ke jantung sang Ibu ketum parpol karena beliau terpaksa hrus menelan ludah yang sangat pahit. Sebagaimana perkataan ibu ketum juga menusuk hati ummat Islam, karena kecintaan ummat Islam terhadap Arab adalah karena ikatan Aqidah yg dibawa oleh Rasulullah yang dipilih oleh Allah SWT dilahirkan di jazirah Arab.

Indonesia akan menyambut kedatangan Raja Salman dengan nuansa Arab.
Dan untuk sementara dari sebelum tanggal 1 sampai 9 Maret 2017 masyarakat Indonesia akan disuguhi hal-hal berbau Arab.
Di lini massa akan bertebaran berita seputar Arab dan semua tentang Arab.

Meski hanya sementara tp sepertinya sudah cukup bisa meresap di jiwa rakyat Indonesia umumnya dan ummat Islam khususnya untuk memunculkan rasa bangga menjadi bagian dari Arab. Dan mungkin setiap proyek hasil investasi Arab akan jadi pergunjingan warga “ini investasi Arab lho, bukan China”. Dan Indonesia mendadak Arab

Perkataan sang Ibu ketum yang tendensius dan penuh kebencian yang lahir dari hati yang penuh kebencian pula.
Meminjam istilah Aa Gym, teko hanya akan mengeluarkan isinya.
Jika isinya kopi maka akan keluar kopi, jika isinya susu maka keluarnya pun akan susu.
Nalar kita pun bisa bicara demikian. Jika isinya kopi sangat mustahil keluarnya adalah jus alpukat.
Jika isinya teh, sangat mustahil keluarnya adalah nasi kotak.

Sesungguhnya sudah nampak langsung kemurkaan Allah, ketika Ibu yang terhormat ini gagap mengucapkan “Subhanahu wata’ala” pada saat beliau hendak mengakhiri pidatonya, Isyarat bahwa Allah murka dan tdk bersedia Nama-Nya yang sempurna disebut oleh sang pendusta.

Yaa Rabb jika msih hidup saja Engkau sudah cabut kemampuan lisan untuk menyebut nama-Mu, bagaimana akan mampu mengucapkan nama-Mu di akhir hayat nanti.
Bukankah sebaik-baik kalimat penutup adalah kalimat Mu, nama-Mu?

Kunjungan Raja Salman ke Indonesia membuat Indonesia harus mengibarkan bendera kerajaan Arab Saudi lengkap dengan Tulisan Kalimat Tauhid “Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah” di sepanjang jalan protokol yang akan dilalui Raja Salman dalam kunjungannya ke Indonesia.

Ini seolah untuk menyindir halus akan kesalahan fatal yang telah dilakukan polisi dengan menangkap pemuda lugu pembawa bendera merah putih dengan tulisan kalimat Tauhid yang sama persis dengan kalimat yang ada di bendera Kerajaan Arab Saudi.

Dlm beberapa hari kedepan kita akan terbiasa melihat bendera bertuliskan kalimat Tauhid bersanding dengan bendera merah putih kita.

Jika kemarin Nur Fahmi di tangkap dengan bendera merah putih bertuliskan kalimat Tauhid dalam keadaan terhina, tapi sungguh Allah tidak terima dan dengan cara-Nya kalimat tauhid itu akan berkibar tegak di sepanjang jalan.
Dan akan disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia bahkan dunia.
Allahu Akbar.
Yaa Rabb Engkaulah sang Penguasa Jagad Raya.

Berikutnya adalah Istana Bogor, tempat presiden Jokowi hendak menjamu Raja Salman dengan nasi kebuli adalah di bawah koordinasi wilayah Polda Jawa Barat dimana ustadz Habib Rizieq Syihab ditersangkakan.

Istiqlal di Jakarta, tempat ustadz Bahtiar Nasir didakwa dengan TPPU.

Dimana sang raja juga akan mengadakan kunjungan singkat ke Masjid kebanggaan kita ini yang di bawah koordinasi wilayah Polda Metro Jaya Jakarta.

Bali, Raja Salman akan berlibur di daerah koordinasi wilayah Polda  Bali, di mana ustadz Munarman yang juga ditetapkan sebagai tersangka di Polda Bali.

Sederhana, ini adalah taktik yang di pakai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang in sha Allah bagian dari petunjuk Allah untuk membuat gentar kaum kafir yang sering mengusik ketenangan kaum muslimin di Madinah.
Apakah dengan langsung mengirim kan pasukan perang?
Tidak!

Tapi cukup dengan mengirimkan sejumlah kecil pasukan ekspedisi. Pasukan kecil inipun sudah cukup untuk membuat musuh gempar dan kalang kabut.

Raja Salman sangat mengetahui kondisi Ummat Islam di Indonesia, seperti yang disampaikan dubes Arab Saudi pada wawancara live di TV One.

Allahlah yang menggerakkan hati Raja Salman untuk mengunjungi Indonesia.

Allah pula yang menggerakkan Raja Salman dan rombongannya mengunjungi Bogor (Jabar),
Istiqlal (Jakarta ),
Nusa Dua (Bali) sebagai pasukan kecil ekspedisi untuk membuyarkan barisan musuh, merobek-robek kesombongan kaum munafikun, dan meluluh lantakkan harapan mereka untuk menguasai negeri kita tercinta ini.
in sha Allah.

Dan Allah pula yang menggerakkan Jokowi tanpa dia sadari untuk menunjukkan kepada Raja Salman tempat dimana dia membiarkan kriminalisasi terjadi terhadap para pemimpin dan ulama Islam Indonesia.

Yaa Rabb Engkaulah sebaik-baik pembuat makar, balaslah makar mereka dengan sebaik-baiknya pembalasan.

Wallahu a’lam