Balada Pria Penata Mahkota

Balada Pria Penata Mahkota

Red: Karta Raharja Ucu (Republika.co.id)
Gumanti Awaliyah/ Republika

Hasanudin sedang merapikan rambut pelanggannya. Hasan merupakan satu-satunya tukang cukur DPR yang tersisa di kawasan sekitar Jatinegara.

Hasanudin sedang merapikan rambut pelanggannya. Hasan merupakan satu-satunya tukang cukur DPR yang tersisa di kawasan sekitar Jatinegara.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Gumanti Awaliyah, wartawan Republika.co.id

Jam di ponsel pintar menunjukkan pukul 09.00 WIB ketika saya melintasi jalur pedestrian di Jalan Urip Sumoharjo, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa, 11 April 2017. Di salah satu sisi pagar Gereja Koinonia saya bertemu Hasan, satu-satunya tukang cukur ‘DPR’ (di bawah pohon rindang) yang masih setia dengan profesinya.

“Hasanudin,” begitu pria berusia 60 tahun tersebut memperkenalkan diri. Ia adalah satu-satunya tukang cukur DPR di wilayah Jatinegara atau Mester yang tersisa. Tempat kerjanya bukan di ruang beratap, tapi mengharapkan rindangnya pohon belimbing yang tumbuh di atas jalur pedestrian. Pagi itu, Hasan bersedia membagi ceritanya selama puluhan tahun menekuni pekerjaannya sebagai seorang kapster.

“Saya Hasan, dari Leuwiliang, Bogor. Dulu di sini ada sekitar empat tukang cukur, tapi mereka berhenti,” kata Hasan membuka percakapan.

Pria yang pagi itu memakai baju biru dan topi merah mengaku sudah menghabiskan 45 tahun hidupnya sebagai tukang cukur. Lima belas tahun terakhir dia memilih mangkal di Jatinegara, setelah sebelumnya berkeliling menjajakan jasanya sebagai penata mahkota kepala.

Hasanudin sedang merapikan rambut pelanggannya. Hasan merupakan satu-satunya tukang cukur DPR yang tersisa di kawasan sekitar Jatinegara. (Gumanti Awaliyah/ Republika)
Saban hari, Hasan membawa-bawa koper hitam yang sudah lusuh kulitnya. Ia sempat memperlihatkan isi koper miliknya. Ada peralatan untuk mencukur pelanggan, seperti cermin berukuran 20×10 sentimeter, dan gunting. Ia juga membawa satu buah kursi lipat, tas slempang, sapu lidi dan karung plastik bekas beras berukuran ukuran 56×90 sentimeter. Karung itu digunakan untuk membuang rambut pelanggannya yang telah dipangkas.

Pelanggan yang datang dalam satu hari, kata Hasan, tidak menentu. “Sekarang mah sepi. Kadang hanya dapat lima kepala (pelanggan), tiga kepala atau tidak sama sekali,” ujar Hasan yang mengaku sudah membuka lapaknya sejak pukul delapan pagi.

Hasan memasang tarif untuk jasa cukur Rp 15 ribu per orang. “Tarif sebenarnya Rp 15 ribu, tapi suka ada yang ngasih Rp 10 ribu. Ya udah (tidak apa-apa),” ujar dia.

Itung-itung ngabantuan we, Neng (hitung-hitung membantu saja, Neng). Lumayan oge kan duitna (lumayan juga kan duitnya),” kata Hasan dalam bahasa Sunda.

Ia mengaku merantau ke Jakarta saat usianya baru menginjak 15 tahun. Hasan ikut pamannya yang membuka jasa cukur rambut di Jatinegara. “Bedanya paman punya lapak sendiri yang disewa dari orang lain,” ujar Hasan sembari memegang gunting rambut.

Sang paman menurunkan ilmu memangkas rambut kepada Hasan. Namun, setelah pamannya meninggal dunia, Hasan kelabakan meneruskan usaha yang sudah berjalan 30 tahun tersebut. “Uang sewanya nggak kebayar, jadi saya putuskan untuk berkeliling,” kata Hasan merawikan.

Ia mengaku berkeliling ke banyak tempat, seperti Tebet, Kampung Melayu, dan lain-lain. Hingga akhirnya, dia merasa tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menempuh perjalanan panjang seperti itu. “Ya, saya balik lagi ke Jatinegara. Saya lihat tempat depan gereja, lalu saya izin ke orang gerejanya. Alhamdulillah dapat izin sampai sekarang,” ujar ayah delapan anak tersebut.

Meski sudah banting tulang, Hasan mengakui pekerjaannya belum cukup untuk membiayai anak-anaknya sekolah. “Tapi anak saya itu suka bilang, ‘ya tidak apa-apa Pak, yang penting Bapak sudah usaha, kita berdoa saja’,” kata Hasan sembari tersenyum.

Perbincangan kami sempat terhenti saat seorang pria menghampiri Hasan. Hasan mempersilakan pelanggannya duduk di kursi lipat, menghadap cermin yang disandarkan di atas koper hitam lusuhnya yang digantung di sela-sela pagar gereja. Hasan terlihat tangkas memainkan ‘peralatan tempurnya’.

Sunarto, nama pelanggan Hasan. Pensiunan tentara itu mengaku sudah sering minta dicukur rambut pada Hasan. “Iya, yang penting rapi kalau cukur rambut itu,” kata Sunarto.

Hasan yang sudah menginjak usia 60 tahun, ternyata masih sangat lihai dan teliti dalam memotong rambut. Ada delapan alat cukur yang Hasan sediakan, yakni dua buah gunting stainless, sisir rambut kecil, kumis jenggot, satu buah pisau kecil, gunting kodok/gunting capit, spons pembersih rambut, dan terakhir sikat yang biasa dipakai mencuci, yang digunakan Hasan untuk membersihkan rambut pelanggannya.

Cukup 10 menit, rambut Sunarto pun sudah dipangkas rapi. “Enaknya di sini, nggak harus antre, dan memang sudah biasa juga minta cukurin ke Pak Hasan,” kata Sunarto.

Seperti ungkapan lawas, rambut adalah mahkota jiwa. Sehingga profesi pemangkas rambut seperti ‘penempa’ mahkota di atas kepala. Serasinya model rambut dengan bentuk wajah, akan membuat seseorang seperti mengenakan sebuah mahkota di kepala. Karena itulah, tak heran banyak orang yang menyerahkan rambutnya untuk dipangkas kepada tukang cukur kepercayaannya.

Meski di mata sebagian masyarakat profesi penata rambut di pandang remeh, tapi pekerjaan tersebut sebenarnya cukup bergengsi. Setidaknya, harkat dan martabat para tukang cukur terangkat saat beberapa di antaranya dipercaya menata mahkota para kepala negara.

Agus Wahidin, misalnya. Ia satu dari sedikit tukang cukur yang beruntung menjadi penata rambut seorang presiden. Demi menemui Agus, saya pun berangkat menuju Bekasi, salah satu kota satelit Jakarta.

Perjalanan selama sekitar tiga jam dari kantor menuju Gang Jengkol, Jalan Hankam, Ujung Aspal, Bekasi, Jawa Barat, harus saya tempuh untuk bertemu dengan salah satu tukang cukur andal dari Garut, Agus Wahidin. Jam di ponsel menunjukkan pukul 18.10 WIB, ketika saya sampai ke Pangkas Rambut Tiara 2, salah satu cabang pangkas rambut yang dimiliki Agus. Gerimis sore itu, mengiringi perjalanan saya ketika menyusuri Gang Jengkol.

Karena sudah memangut janji, Agus ternyata telah lama menunggu kedatangan saya di tenpat pangkas rambut yang berjarak sekitar 200 meter dari jalan raya itu. “Iya, Neng silakan masuk,” kata Agus sambil mempersilakan duduk di salah satu kursi tunggu di tempat pangkas rambut miliknya. Pangkas rambut tersebut tidak terlalu luas, hanya sekitar 10×3 meter persegi. Area itu hanya cukup menampung dua kursi untuk memangkas rambut pelanggannya.

Suara azan Magrib sudah berkumandang 15 menit lalu. Kami memutuskan menunaikan shalat Maghrib terlebih dahulu sebelum berbincang lebih lanjut. Ketika itu, Agus mempersilakan saya mengambil air wudhu di kamar mandi belakang di pangkas rambut tersebut. Saya pun mengangguk, tanda setuju.

Kios pangkas rambut itu terbagi menjadi tiga ruangan. Pertama, tempat pangkas rambut yang dilengkapi AC. Kedua, tempat tidur pekerja, dan terakhir kamar mandi.

Selepas menunaikan ibadah shalat Maghrib, kami pun kembali duduk di atas kursi tunggu. Agus yang mengaku akan berusia 47 tahun pada Agustus mendatang, memulai kisah unik dan inspiratif selama ia menjadi tukang cukur.

Sebenarnya, Agus memulai cerita, tidak pernah bermimpi menjadi tukang cukur. Karena dia tidak seperti tukang cukur kebanyakan, yakni mempunyai riwayat keturunan keluarga yang juga berprofesi sebagai tukang cukur.

“Ya, berbeda dengan yang lain, biasanya kan mereka ada turunan dari bapak atau siapa yang juga nyukur rambut. Nah, kalau saya tidak,” ujar Agus yang juga menjabat sebagai Ketua Paguyuban Pangkas Rambut Indonesia (PPRI).

Selepas sekolah, awalnya Agus mulai merantau dan bekerja di Bandung, di salah satu pabrik di daerah Bandung. Namun, setiap libur dirinya mengaku sering pergi ke Jakarta, mengunjungi kawan-kawan dari Garut, yang kebetulan berprofesi sebagai tukang cukur rambut.

Seringnya melihat pekerjaan teman-teman sebagai tukang cukur rambut, lambat laun Agus mulai tertarik menekuni profesi sebagai tukang cukur rambut. “Tahun 1987-lah, Neng, saya mulai ke Jakarta untuk nyukur, ikut Si Asep (rekannya). Dulu, tukang cukur kerjanya keliling, bawa kursi dan alat cukur rambut. Saya saat itu keliling hanya ke wilayah Pondok Pinang, Pondok Indah, Lebak Bulus, ya sekitaran itu,” kata Agus menceritakan.

Di sela-sela perbincangan, satu-dua orang masuk ke pangkas rambut Tiara 2, dengan maksud akan mencukur rambut. Agus melontarkan senyum pada pelanggan yang datang. Adapun untuk pengerjaan cukur rambut, dikerjakan dua orang pekerja, yang juga berasal dari kampung halamannya, Garut.

Di sekeliling dinding pangkas rambut tersebut, terpajang pula beberapa figura foto. Salah satunya ketika Agus sedang memangkas rambut Presiden keenam Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, mantan calon gubernur DKI Agus Yudhoyono, dan sejumlah ajudan SBY. Foto tersebut sepertinya sengaja dipasang agar pelanggan mengetahui tentang prestasi yang telah dicapai Agus, serta tidak meragukan lagi kemampuan tukang cukur Garut.

Foto Agus saat sedang memangkas rambut Presiden keenam RI, SBY. (Foto: Gumanti Awaliyah/ Republika)
Setelah menyapa pelanggan, Agus kembali fokus pada perbincangan. “Sampai mana tadi, Neng?” tanya Agus yang ketika itu mengenakan seragam Paguyuban Pangkas Rambut Indonesia (PPRI), yang berwarna putih dan biru langit.

Karena tertarik dengan foto yang dipajang, saya langsung melontarkan pertanyaan tentang awal mula Agus sampai ke Istana, dan mendapat kepercayaan mencukur rambut, orang nomor satu di Indonesia kala itu. “Oh iya, itu dulu yah,” kata dia sembari menunjuk foto di dinding.

“Karena saya kenal sama Pak Irfan Edison yang jadi Paspampres Pak SBY. Lalu saya iseng saja mengungkapkan keinginan untuk bisa mencukur rambut Pak SBY,” tutur Agus sambil tertawa. Namun sayangnya, saat itu, SBY sudah memiliki tukang cukur rambut langganan. Dan Agus pun harus rela untuk menahan keinginannya.

Seiring berjalannya waktu, pada April 2005, tepat enam bulan setelah dilantiknya SBY menjadi presiden keenam RI menggantikan Megawati Soekarnoputri, Agus tiba-tiba mendapat telepon dari salah satu ajudan presiden, Suripto. Suripto, atas saran Irfan Edison, meminta Agus datang ke Istana untuk menata mahkota kepala SBY.

Kabar yang mengejutkan sekaligus menggembirakan itu Agus anggap sebagai kesempatan emas. Saat itu, Agus dijemput sopir Istana ke tempat kerja Agus di Paxi Senayan. Tepat pukul 15.00 WIB Agus sampai di Wisma Negara.

Lalu bagaimana perasaan Agus saat hendak mencukur orang nomor satu di Indonesia? Agus mengaku tidak tegang atau khawatir. “Kan saya ditegur sama Paspampres. Kata dia, nanti jangan grogi. Ya, saya bilang enggak grogi. Justru saya lagi mikir, tipe rambut apa yang cocok untuk orang seperti Pak SBY,” kata Agus.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Agus bertemu dengan SBY secara langsung. Agus memulai pertemuan perdana dengan memperkenalkan diri, “Saya Agus, Pak. Dari Garut,” kata Agus menirukan perkenalan tersebut.

Tidak butuh waktu lama bagi Agus untuk menyelesaikan tugasnya memangkas rambut SBY. Dengan mempertimbangkan bentuk wajah, kepala, dan postur tubuh SBY, Agus sudah bisa menebak potongan rambut yang sesuai dengan presiden keenam tersebut. Pada saat mencukur rambut, selain dikelilingi pelayan dan ajudan SBY, ibu negara Ani Yudhoyono pun dengan setia menemani dan memperhatikan proses cukur rambut yang Agus lakukan.

Selama proses mencukur rambut, Agus menceritakan, obrolan dengan SBY hanya berkisar tentang keluarga, dan hal-hal sewajarnya. Setelah selesai mencukur rambut, Ani Yudhoyono menghampiri Agus dan berkata, “Agus, nanti kalau mencukur Bapak, modelnya begitu lagi ya,” ujar Agus menirukan ucapan Ani Yudhoyono.

Setelah panggilan mencukur rambut saat itu, Agus tidak pernah berpikir akan dipanggil lagi oleh SBY. “Iya kan saat itu saya hanya menggantikan tukang cukur rambut Pak SBY yang sedang sakit,” ujar Agus.

Sampai di rumah, Agus mengaku tidak bisa tidur. Agus memang pernah mempunyai ambisi untuk bisa mencukur rambut SBY. Hingga akhirnya, kata dia, Allah subhanahu wa ta’ala benar-benar memberikan jalan pada Agus, sehingga dia bisa menembus Istana. “Istilahnya mah teu ngimpi-ngimpi acan (tidak pernah bermimpi), Neng,” kata Agus semangat.

“Jangan pernah menyepelekan pengabdian tukang cukur,” kata Agus. Seperti halnya SBY, di balik kegagahan, kerapian SBY, sepintas pastinya orang tidak akan tahu tentang jasa seorang tukang cukur rambut. Namun, kenyataannya, tukang cukur rambut juga sedikit banyak telah memberikan kontribusi terhadap kerapian SBY.

Selama mengenal dan menjadi salah satu ‘orang yang berani memegang kepala presiden’, Agus menggambarkan SBY sebagai orang yang sangat sederhana. “Saya pernah lihat Pak SBY, kalau di rumah masak nasi goreng sendiri. Kesukaannya juga hanya tempe goreng, makanan yang merakyat,” ujar Agus.

Hingga sekarang, selang waktu tiga pekan sampai satu bulan sekali, Agus rutin datang menemui SBY untuk mencukur rambut SBY. Agus pun kini bisa merasakan hasil perjuangannya setelah bertahun-tahun mengenyam pahit manisnya menjadi tukang cukur di Ibu Kota.

Pengalaman menata rambut presiden tidak hanya milik Agus. Saya mendapatkan cerita yang tak kalah menakjubkan dari seorang pria yang sudah mendedikasikan 50 tahun usianya menjadi seorang pemangkas rambut. Muhammad Nasyim, nama pria tersebut yang dipercaya menjadi penata mahkota kepala Presiden ketiga RI, BJ Habibie.

Jatuh-bangun serta asam-manis menjadi tukang cukur sudah dikunyah pria yang usianya tahun ini mencapai angka 77. Guna mendapatkan kisah pengalaman berharganya, saya pun menemui Nasyim di tempat kerjanya di selatan Jakarta keesokan harinya, Rabu, 12 April 2017.

Cuaca berawan menemani perjalanan saya menuju komplek Grand Wijaya, Jalan Wijaya II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sanalah Nasyim, tukang cukur rambut yang dipercaya Habibie, bekerja.

Tepat pukul 08.30 saya menginjakkan kaki di Pax Wijaya. Di depan Pax Wijaya, terlihat dua mobil Toyota Avanza berwarna putih terparkir di lahan parkir yang tersedia. Betul saja, saat pintu dibuka, terdapat dua pelanggan sudah mengantre dan duduk menghadap kaca besar. Keduanya terlihat santai, menikmati helai demi-demi helai rambutnya terjatuh.

Oh, mau ke Pak Nasyim. Iya-iya, itu orangnya sedang ada pelanggan,” kata seorang penjaga, sambil menunjuk ke arah kursi pojok dekat pintu masuk.

Saya mengikuti instruksi penjaga tersebut, dan mulai berjalan menuju pria yang sedang fokus mencukur rambut seorang pelanggan. “Kenapa Mbak?” tanya Nasyim sambil tersenyum. Saya pun mengenalkan diri sembari menjulurkan tangan seraya mengajak bersalaman. Dari situ lah, kami mulai berkenalan.

Perbincangan, kami teruskan setelah dia selesai mencukur rambut pelanggannya. Nasyim, berasal dari salah satu sudut bumi Parahyangan, Karawang. Perjalanan selama lima dekade Nasyim, membuatnya didapuk sebagai legenda di Barbershop Pax Wijaya.

Di sofa ruang tunggu, saya mendengarkan cerita pengalaman Nasyim mencari nafkah dari memangkas rambut. Sepak terjang Nasyim dalam menekuni profesinya saat ini, diakuinya tidak mudah. Seusai tamat SMP, Nasyim memilih mengadu nasib di Ibu Kota. “Awalnya bekerja di gedung DPR sana, jadi pekerja paling rendah, Neng,” ujar Nasyim sambil tertawa lirih, mengenang masa lalu.

Ayah empat anak yang sudah memasuki usia senja itu menuturkan, dari penghasilannya bekerja di gedung DPR sama sekali tidak dapat menyejahterakan hidupnya. Ketika terjadi gerakan pemberontakan PKI pada 30 September 1965 ia memutuskan angkat kaki dari DPR dan memilih bekerja dengan memanfaatkan kemampuan dalam mencukur rambut. Lalu, di Pax Wijaya itulah Nasyim memulai debut kariernya sebagai tukang cukur.

Hari menjelang siang, satu per satu pelanggan berdatangan. Biasanya orang yang datang ke Pax Wijaya, sudah punya langganan tukang cukurnya masing-masing. “Pak, mau dirapikan nih,” ujar pria muda, yang datang ketika kami sedang berbincang. Dengan ramah, Nasyim langsung menyapa pelanggannya. Nasyim yang hari itu memakai seragam Pax Wijya berwarna krem itu pun sempat mengenalkan pria tersebut pada saya.

“Ini nih, pelanggan saya juga, pengacara muda, Neng,” ujar Nasyim sembari memakaikan jubah pada badan pria tersebut. Ia pamit sebentar untuk memangkas rambut pelanggannya.

“Creek, creek,” bunyi gunting beradu dengan sisir dan rambut pelanggannya terdengar. Ia terlihat cekatan saat menggunting rambut pelanggannya. Tangan tua berkeriput yang memegang gunting dan sisir itu seolah menari lincah di hamparan rambut hitam pelanggannya tersebut. Dan tidak sampai 10 menit, dia pun menyelesaikan tugasnya. Nampak senyum lebar terurai dari bibir pria muda berkulit putih tersebut, mengisyaratkan kepuasan akan hasil cukuran Nasyim.

Saat membereskan alat-alat cukur yang telah dipakai, Nasyim menunjukkan potret dirinya bersama BJ Habibie kepada saya. Gambar beku itu dipajang di bawah cermin besar di depan kursi cukurnya.

“Ini foto saya sama Pak Habibie, diambil setelah cukur rambut beliau, di rumahnya,” kata Nasyim penuh bangga.

Nasyim bercerita, pada mulanya, adik Habibie, Suyatim ‘Timmie’ Habibie, yang menjadi langganan dan secara rutin ke Pax Wijaya, selalu ingin dicukur rambut oleh Nasyim. Lalu, pada 22 Mei 2010, Ainun Habibie, istri Habibie meninggal dunia.

Menurut penuturan Nasyim, selama hidup, Habibie selalu dicukur rambut oleh istrinya. Hingga akhirnya, beberapa bulan kemudian, pascameninggalnya Ainun, Habibie merasa dirinya membutuhkan jasa tukang cukur rambut.

Pada saat itu, kata Nasyim, Timmie merekomendasikan Nasyim mencukur kepala kakaknya. Tidak berselang lama, Pax Wijaya menerima telepon dari ajudan Habibie.

“Dulu pas ada telepon itu, saya segera diperintahkan untuk siap-siap akan ada yang jemput, untuk datang kerja rumah Pak Habibie, dan mencukur rambutnya,” tutur Nasyim.

Sebelum pertemuan perdananya dengan Habibie, Nasyim mengaku grogi. Ia mengaku serba salah tidak tahu harus bersikap bagaimana. Namun, Hasyim mengaku pasrah dan akan berusaha melakukan yang terbaik.

Sesampainya di rumah Habibie, di bilangan Kuningan, Jakarta, Nasyim langsung dipersilakan masuk ke ruangan tengah, dekat kamar Habibie. Di sana, kata Nasyim, sudah disediakan kursi dan cermin besar, serta Habibie yang telah siap dicukur rambutnya.

“Saya berkenalan, ya biasa gitu, Pak Habibie nanya orang mana, anak berapa,” ungkap Nasyim sambil terus coba mengingat sedikit demi sedikit memori ketika pertama kali menyambangi rumah Habibie. Bagi Nasyim yang telah punya pengalaman lama menjadi tukang cukur, sekilas melihat bentuk wajah, rambut, dan kepala Habibie, ia mengaku sudah tidak pusing lagi harus dicukur seperti apa.

“Pak Habibie kan sudah tua, ya jadi potong biasa saja, disesuaikan dengan bentuk wajahnya,” kata pria yang sebagian rambutnya sudah memerak tersebut. Kala itu, Habibie sudah merasa cocok dengan Nasyim, hingga akhirnya sampai sekarang, setiap dua bulan sekali Nasyim datang ke rumah Habibie.

Sambil tertawa Nasyim mengingat kenangan paling berkesan saat bersama Habibie. “Dulu saya pernah disuruh nonton filmnya di bioskop. Eh kan saya bilang gak punya duit, tiba-tiba dikasih uang buat nonton. Kan jadi malu,” ucap Nasyim yang saat tertawa guratan keriput di wajahnya semakin terlihat.

Sekali mencukur rambut Habibie, Nasyim mendapat upah Rp 500 ribu. Nasyim mengaku, bangga dan bersyukur bisa dipercaya mencukur rambut Habibie. “Kan kalau orang gede yang butuh kita gampang, kita dipanggil ke sana. Saya kan orang kecil, jadi bangga bisa dapat kepercayaan beliau,” kata Nasyim menutup perbincangan.

Sejarah para penata rambut di Tanah Air merentang teramat panjang, sampai ke zaman Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Lewat cerita dari Alwi Shahab, sejarawan DKI Jakarta, saya pun berhasil mengupas riwayat tukang cukur di Indonesia.

Ditemui di ruang kerjanya, Abah Alwi, begitu pria 80 tahun itu biasa disapa membuka cerita dari sejarah gedung Museum Bank Mandiri di Jalan Pintu Besar, Jakarta Kota. Pada masa kolonial gedung itu bernama De Javasche Bank. Namun, pada 1953 setelah di nasionalisasi, gedung itu bersalin nama menjadi Bank Indonesia.

De Javasche Bank berdiri di Batavia, pada 24 Januari 1828, di tanah bekas rumah sakit (Binnenhospitaal) yang terletak persis di sebelah dalam kota tua. Ketika rumah sakit tersebut didirikan pada pertengahan abad ke-18, pengobatan belum secanggih sekarang. Tidak heran, pasien yang dirawat lebih dari 50 persen meninggal dunia, sehingga Batavia mendapat gelar ‘kuburan orang Belanda’ setelah sebelumnya dijuluki ‘Ratu dari Timur’.

Tapi, yang meninggal tanpa pengobatan di rumah sakit lebih banyak lagi. Abah berkata, dalam sejumlah buku tentang Kota Tua dituliskan, bukan suatu mengherankan teman yang pada pagi harinya makan bersama kita keesokan harinya dikabarkan meninggal dunia. “Di pojok jalan rumah sakit kala itu terdapat gereja milik rumah sakit yang digunakan umat Nasrani berbahasa Melayu,” kata Abah Alwi, Jumat, 14 April 2014.

Namun, kata Abah Alwi, ada yang tidak masuk akal di rumah sakit yang dibangun pemerintah kolonial Belanda itu. Karena, etnis Tionghoa juga membangun rumah sakit yang tidak kalah hebatnya dengan RS Belanda. “Letaknya di Jalan Tiang Bendera, sekitar satu kilometer dari RS Belanda,” ucap dia.

Di kedua rumah sakit itu memang tersedia beberapa orang dokter. Namun di rumah sakit pemerintah yang pasiennya kebanyakan orang Belanda dan Eropa, yang melakukan operasi adalah tukang cukur. “Ya, tukang cukur. Seperti cara di Eropa ketika itu, pisau cukur lebih dulu dibakar, agar steril, kemudian dipakai untuk membedah tubuh pasien,” ujar kakek 16 cucu ini.

“Sayangnya,” kata Abah Alwi melanjutkan, “ketika itu obat bius tidak secanggih sekarang. Jadi saat itu menjadi hal biasa saat dan setelah dioperasi pasien meraung-raung, dan didengar pasien-pasien lain.”

Setelah operasi, menurut Abah Alwi, banyak pasien yang meninggal karena infeksi akut. Belum ada obat sejenis penisilin ketika itu. “Jadi, ketika itu tukang cukur punya profesi tambahan: dokter bedah,” kata Abah sembari tersenyum.

Pra dan pascakemerdekaan, ceritanya lain lagi. Pada medio 1940, 1950 sampai awal 1960-an, di pinggir-pinggir jalan di bawah pohon, banyak tukang-tukang cukur membuka lapaknya. “Waktu itu tukang cukur tidak pernah ada razia. Di zaman Belanda belum ada razia. Mereka dibiarkan kerja. Karena waktu itu mereka tidak mampu membangun bangunan. Di Kwitang misalnya, ada beberapa tukang cukur yang membuka lapaknya di bawah pohon. Mereka hanya memasang semacam terpal agar tidak terkena panas dan hujan,” ucap Abah memaparkan.

Pria berdarah Arab-Betawi ini berkata, pelanggan tukang cukur DPR tidak hanya rakyat biasa, beberapa tokoh masyarakat juga kerap menggunakan jasa mereka. “Belum ada namanya gengsi.”

Selain dari Garut, masih kata Abah, orang Betawi juga banyak yang menjadi tukang cukur. Sedangkan tempat cukur yang dibangun orang Cina biasanya lebih lux (mewah). “Bedanya, orang Cina alat-alatnya lebih bagus,” ucap pria kelahiran 31 Agustus 1936 ini. “Biaya cukur di bawah pohon rindang seperak. dan di tempat orang-orang Cina lebih mahal. Sebab mereka ada yang menyediakan biskuit dan air. Strategi bisnis.”

Bicara model rambut, wartawan senior Republika ini berkata, waktu itu para pelanggan minta rambutnya dicukur seperti model bintang-bintang film. “Seperti Roy Marten, Tony Curtis, bintang film Amerika. Rambutnya begini, begini,” kata Abah sembari menggambarkan model rambut bintang film dengan tangannya.

Perempuan-perempuan banyak yang mencukur di tukang cukur DPR. Mereka merasa tidak turun derajat. Apalagi dulu belum banyak salon seperti sekarang. “Di kampung saya, seperti Kwitang ada. Di Senen juga banyak perempuan yang cukur.”

Lain kisah Abah Alwi, lain lagi cerita Ridwan Saidi, budayawan Betawi. Guna menyempurnakan rangkaian cerita para penata mahkota, saya mengikat janji dengan pria yang akrab disapa Babe itu di kediamannya di daerah Bintaro, Jakarta Selatan, Selasa, 11 April 2017.

Saat saya temui, Ridwan Saidi menceritakan sebelum kemerdekaan Indonesia, para tukang cukur yang biasa memangkal di bawah pohon kebanyakan orang Betawi. “Kami memang dulu orang Betawi terjun juga ke jasa pelayanan polka, sebelum kemerdekaan banyak orang Betawi yang di bawah puun (DPR),” kata Saidi. Hingga setelah kemerdekaan, bermunculan orang-orang daerah yang datang ke Jakarta untuk menjadi tukang cukur rambut.

Dikutip dari buku Muh Syamsudin bertajuk Agama, Migrasi dan Orang Madura, profesi tukang cukur banyak juga ditekuni orang Madura. Selain kuatnya tradisi migrasi orang Madura, ditambah kondisi ekologis pulau Madura yang gersang dan tandus sehingga orang-orang Madura banyak yang memilih mencari nafkah di sektor informal seperti tukang satai, dan tukang cukur. Dalam buku tersebut juga dijelaskan, orang Madura memulai perjalanan migrasi terjadi sejak konflik Trunojoyo dan Amangkurat II pada 1677.

Selain itu, profesi tukang cukur juga belakangan identik dengan Kota Garut, yang juga dikenal karena dodol dan domba khas Garut. Seperti halnya penuturan Ridwan Saidi, orang-orang Garut berdatangan ke Jakarta setelah kemerdekaan, tepatnya saat terjadi pemberontakan Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia (DI/TII) akhir 1940-an.

Warga kecamatan Banyuresmi, Garut, tidak luput mendapat imbas dari pemberontakan DI/TII tersebut. Menyebabkan warga, khususnya laki-laki memilih untuk mengungsi ke kota lain yang dinilai lebih aman. Sejak itulah, banyak orang Garut yang datang ke Jakarta, dan meneruskan pekerjaan sebagai tukang cukur keliling.

Nah, orang Garut, istilahnya nguriling atau keliling. Beda sama yang tukang cukur DPR. Sekarang banyak yang sudah punya kios, ada pangkalannya,” tutur Ridwan Saidi. Saidi mengaku hingga kini masih suka melihat ada tukang cukur yang berkeliling. Walaupun, tidak sebanyak dulu.

Pria yang hampir seluruh rambutnya sudah memutih tersebut juga bercerita tentang tukang cukur keturunan Cina yang mempunyai service plus-plus. Maksudnya, tukang cukur Cina juga ada layanan untuk cabut bulu hidung dan korek kuping. “Nah kalau tukang cukur Garut, ya ada service-lah saya kira, pijit dikit,” kata Saidi.

Pria yang rambutnya sudah memutih tersebut menyatakan, zaman sekarang yang serba modern, jasa cukur rambut pindah dan beralih ke salon-salon. “Laki-laki juga sekarang banyak yang pada ke salon kan? Heh, nggak suka saya,” celoteh Saidi di sela perbincangan.

Menurut Saidi, kehidupan Ibu Kota hari ini dan dahulu, sangat jauh berbeda. Tentunya, lebih nyaman dan tentram pada zaman dahulu. Termasuk dengan berbagai keunikan, para penjemput rezeki, seperti tukang cukur rambut tempo dulu. “Saya kira menarik lah dulu itu, karena ketentraman dan kenyamanan,” kata Saidi menutup pembicaraan.

sisi lain prabowo yang paling dimusuhi

http://kabarpengamat.blogspot.com/2014/12/sisi-lain-prabowo-yang-paling-dimusuhi.html?m=1

Selasa, Desember 09, 2014
di 3:17 PM Sisi Lain Prabowo Yang Paling Dimusuhi Banyak Jenderal
Kisah tentang Jokowi sudah banyak kita published , sekarang kita share sisi lain Prabowo Subianto yang tidak pernah terungkap ( untold story ).
Sedikit orang yang tahu bahwa perkawinan Prabowo Subianto dengan Titiek Soeharto di TMII pada tanggal 8 Mei 1983, adalah berkat jasa Jenderal LB Moerdani (LBM). Prabowo, yang pada tahun 1982-1985 berpangkat Mayor adalah staf khusus Menhankam/Pangab LB Moerdani. Moerdani sudah lama mengamati Prabowo. Sejak lulus Akmil berpangkat Letda, Moerdani serius mencermati dan menilai perilaku, karakter dan kinerja Prabowo. Kesimpulannya: Luar Biasa.
Disamping memiliki kejeniusan (IQ 152), Prabowo sangat berani, patriotik, dan sangat cinta tanah air. Dalam cerita-cerita Jawa, disebut sebagai Senopati Wirang . Saat itu, Menhankam/Pangab LB Moerdani tahu persis bahwa Prabowo sudah dijodohkan dengan putri seorang jenderal yang juga seorang dokter, namun Moerdani diam-diam tidak setuju.
Pada tahun 1982-1985 itu, LB Moerdani adalah tokoh yang sangat dipercayai oleh Presiden Soeharto. Saran-sarannya didengar dan sering diterima oleh Pak Harto. Besarnya Kepercayaan Soeharto kepada Moerdani adalah karena dia selalu menunjukkan loyalitasnya terhadap Soeharto. Jadi LBM adalah pengaman bagi kekuasaan Soeharto dan Orba.
LB Moerdani kebetulan adalah penganut Katolik, agama yang sama dengan Ibu Tien saat itu. Sedangkan Pak Harto adalah penganut Islam Abangan, lebih ke Kejawen ( Bhirawa). Moerdani melobi Ibu Tien agar setuju mengambil Mayor Prabowo menjadi menantu, dan menjodohkannya dengan Titiek (Siti Hediati Harijadi) Soeharto. Bu Tien akhirnya setuju dan Pak Harto pun menyetujuinya. Mereka (Pak Harto dan Bu Tien) tidak tahu bahwa Prabowo sebenarnya sudah bertunangan. Akhirnya tunangan dibatalkan, dan Prabowo menikahi Titiek.
Semula LB Moerdani berharap Prabowo akan menjadi mata dan telinganya di Cendana. Menjadi tangan kanan Moerdani dalam menggapai cita-citanya. LB Moerdani tidak menyangka Mayor Prabowo setelah jadi menantu Soeharto ternyata malah mengkhianati Moerdani, karena Prabowo lebih berpihak kepada Pak Harto dan keluarga Cendana.
Moerdani salah menganalisa dan menilai Prabowo sebagai penganut Islam Abangan, karena berayahkan sosialis sekuler, ibu dan saudara-saudaranya banyak yang Kristen atau non muslim. Moerdani merasa tidak berisiko ketika dia memaparkan rencananya selaku Menhankam/Pangab untuk menghancurkan Islam di Indonesia secara sistematis. Termasuk rencana Moerdani untuk merekayasa stigma negatip pada umat Islam Indonesia sebagai “ancaman” terhadap NKRI dan kekuasaan Soeharto.
Contohnya adalah ketika ABRI membantai ratusan umat Islam pada peristiwa Tanjung Priok. Moerdani melakukan pengkondisian agar Islam menjadi “musuh” Negara! Sehingga Islam sama dengan “musuh” Negara!
Moerdani memaparkan bagaimana caranya ABRI menciptakan “terorisme Islam”, “pembangkangan Islam”, atau “ Islamophobia” dan seterusnya. Lalu menumpasnya secara keji. Moerdani menapaki karier di ABRI dengan cara menciptakan Islam sebagai “musuh” Negara dan kemudian ditumpasnya. Penghargaan dan pujian Soeharto didapatkannya karena prestasinya itu.
Ketika Prabowo tahu rencana besar dan rekayasa-rekayasa yang dilakukan Moerdani dalam rangka membenturkan Islam dengan Pak Harto, dia lalu membocorkannya. Prabowo melaporkan rencana keji Moerdani terhadap umat Islam Indonesia kepada Soeharto, mertuanya. Pak Harto kaget, marah dan menyesalkan.
Sebelumnya, Pak Harto sudah lama mendengar adanya rekayasa petinggi ABRI terhadap sejumlah peristiwa terkait “makar” kelompok Islam, tapi Pak Harto abaikan. Ia nilai itu hanyalah ekses rivalitas di internal ABRI. Namun kali ini informasi itu datang dari Prabowo, menantunya sendiri.
Prabowo menilai Moerdani punya agenda lebih besar dengan merekayasa benturan antara umat Islam dengan Soeharto karena Moerdani ingin menjadi Presiden. Cita-cita Moerdani menjadi Presiden setelah Pak Harto lengser sangat besar, namun hanya bisa terwujud jika Islam dan Pak Harto bermusuhan.
Karena jika hubungan umat Islam dan Pak Harto baik dan normal, maka akan sulit bagi Moerdani yang beragama Katolik menjadi wapres pada tahun 1988. Pak Harto pasti lebih memperhatikan aspirasi umat Islam saat penetapan wapresnya pada 1988. Oleh sebab itu hubungan Soeharto dengan Islam harus dirusak. Selanjutnya, Moerdani berharap, setelah menjabat wapres pada 1988, kemungkinan besar Pak Harto akan mundur pada 1993. Saat itulah otomatis Moerdani akan menjadi RI-1.
Rencana keji Moerdani terhadap umat Islam Indonesia ini dinilai Prabowo sangat membahayakan posisi Pak Harto. Karena Islam adalah agama mayoritas di Republik Indonesia. Akan lebih kecil risikonya bagi Soeharto bila membina hubungan baik dengan umat Islam yang mayoritas daripada menjadikan Islam sebagai musuh negara.
Setelah mendapat laporan dari Prabowo mengenai rencana keji ABRI yang diotaki Menhankam/Pangab LB Moerdani, Soeharto tidak langsung bertindak. Dia mengamati secara diam-diam.
Pak Harto diam-diam mencegah rencana keji LB Moerdani dengan menempatkan dan mempromosikan sejumlah perwira tinggi ABRI yang kuat keislamannya. Selain mempromosikan perwira-perwira ABRI yang Islam, Pak Harto juga mempromosikan perwira-perwira dari kesatuan lain yang tidak berhubungan dengan jaringan Moerdani. Akibatnya Menhankam/Pangab Moerdani tidak lagi bisa bergerak bebas karena dikelilingi oleh jenderal-jenderal Islam (TNI Hijau). Dia akhirnya terjepit, tak bisa berkutik.
Puncak kekesalan Moerdani terjadi ketika Pak Harto mencopot LB Moerdani dari jabatan Panglima ABRI pada tahun 1988 dan menunjuk Jenderal Try Soetrisno menjadi penggantinya. Try Soetrisno tidak berasal dari Akmil tapi dari Atekad (Akademi Teknik Angkatan Darat). Bukan pula perwira intelijen, sehingga tidak ada sentuhan dari Moerdani sama sekali.
Moerdani yang marah dan kecewa terhadap Soeharto kemudian merencanakan balas dendam besar-besaran dengan rencana untuk menjatuhkan Soeharto. Sebelum itu, pada tahun 1984, Moerdani berhasil mengompori umat Islam agar marah kepada Soeharto dengan cara mendorong Soeharto agar menerapkan kewajiban Azas Tunggal kepada seluruh organisasi politik maupun ormas.
Seluruh ormas dan partai di Indonesia harus mencantumkan Pancasila sebagai satu-satunya azas. Tidak boleh ada azas Islam atau azas-azas yang lain. Semua harus berazas Pancasila. Tidak boleh ada yang lain!
Munculnya reaksi keras umat Islam terhadap penerapan Azas Tunggal Pancasila memang diharapkan sekali oleh Moerdani. Bahkan Moerdani berupaya mengkondisikan agar umat Islam mau berontak. Jaringan intelijen Moerdani disusupkan ke ormas-ormas Islam dan ditugaskan untuk mengipas-ngipasi tokoh-tokoh Islam agar memberontak terhadap Soeharto. Tujuannya agar Soeharto marah kepada umat Islam dan Islam dinilai sebagai ancaman terhadap Negara dan Soeharto, dengan demikian ABRI lalu diperintahkan untuk membantai “musuh” Negara tersebut.
Rencana Benny Moerdani itu kandas, bahkan gagal total, karena ormas-ormas Islam juga didekati orang-orang Soeharto dan diberi pengertian perihal kondisi sebenarnya. Moerdani kemudian tahu bahwa penyebab kegagalan rencana besarnya men-stigmatisasi Islam sebagai “musuh” Negara dikarenakan laporan Prabowo.
Prabowo sempat “dibuang” oleh Moerdani dengan memutasikannya menjadi Kasdim (Kepala Staf Kodim), namun beberapa waktu kemudian oleh Kasad Jenderal Rudini, Prabowo akhirnya dipulihkan. Sejak itu, dalam otak Moerdani hanya ada 2 musuh besar yang harus dihancurkan yakni Prabowo Subianto dan Soeharto.
Moerdani menyusun rencana strategis
Karena puluhan tahun menjadi “dewa” di kalangan ABRI dan di lingkungan intelijen, antek-antek Moerdani masih banyak tersebar. Dua orang yang menonjol adalah Luhut Panjaitan dan AM Hendropriyono. Meski LB Moerdani sudah tidak jadi Panglima ABRI dan Menhankam, namun dia masih bisa memerintahkan Hendropriyono untuk mem- back up PDI Megawati atau yang sekarang populer sebagai PDI Perjuangan alias PDI-P.
Saat itu Megawati adalah simbol perlawanan terhadap Presiden Soeharto, khususnya melalui PDI. Kongres PDI terpecah menghasilkan PDI kembar. Keberadaan PDI kembar, yang satu diketuai Soerjadi dan satu lagi dipimpin Megawati, bisa terjadi karena ada dukungan jenderal-jenderal yang pro-Moerdani.
Keberhasilan Prabowo meyakinkan Pak Harto dan Ibu Tien terhadap bahaya besar yang sedang direncanakan Moerdani, menyebabkan Pak Harto dapat menerima dan mempercayai Prabowo sepenuhnya, termasuk saran Prabowo agar Pak Harto membina hubungan lebih mesra lagi dengan umat Islam.
Penerapan Azas Tunggal Pancasila yang menimbulkan reaksi keras umat Islam, akhirnya tidak meletus menjadi bencana nasional karena perubahan sikap Pak Harto ini. Pak Harto mulai mendekati Islam. Akhirnya Ibu Tien pun memeluk agama Islam dan menjadi mualaf, disusul kemudian dengan Pak Harto sekeluarga menunaikan Ibadah Haji di Mekah. Pak Harto akhirnya berhasil membangun hubungan yang harmonis dengan umat Islam. Suatu hubungan baik yang belum pernah terjalin selama 24 tahun Soeharto berkuasa.
Tahun 1990 merupakan tahun kemerdekaan umat Islam Indonesia setelah “dijajah” dan “ditindas” selama 24 tahun oleh Orde Baru, Soeharto. Puncaknya, pada tanggal 7 Desember 1990, organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) didirikan di Universitas Brawijaya, Malang. Dan dari hasil Pemilu tahun 1993, menteri-menteri kabinet dan petinggi-petinggi ABRI mulai dijabat para tokoh dan perwira Muslim.
Namun Benny Moerdani dan kelompoknya masih terus mencari jalan bagaimana menghancurkan Soeharto dan Prabowo. Akhirnya ditemukan cara, yakni penculikan! Maka terjadilah penculikan dan pembunuhan sejumlah warga pada tahun 1997 menjelang Pemilu dan kemudian diikuti dengan penculikan dan pembunuhan setelah Sidang Umum MPR 1998.
Saat terjadi penculikan dan pembunuhan menjelang Pemilu 1997, sama sekali belum ada tuduhan kepada Kopassus sebagai terduga pelakunya. Namun ketika Tim Mawar melakukan penculikan aktivis pada tanggal 2-4 Februari 1998 dan 12-13 Maret 1998 terjadi kebocoran operasi.
Kebocoran informasi mengenai operasi Tim Mawar dalam rangka pengamanan Sidang Umum MPR terjadi karena ada 1 target, yakni Andi Arief, belum bisa diringkus. Andi Arief sempat kabur, dicari kemana-mana, akhirnya ditemukan di persembunyiannya di Lampung, Pulau Sumatera. Lalu dibawa ke Jakarta lewat jalur darat via Bakauheni.
Saat Tim Mawar menaiki kapal feri di Bakauheni, petugas polisi menghentikan Tim Mawar yang membawa Andi Arief dalam keadaan mata tertutup kain. Meski Tim Mawar kemudian diizinkan masuk feri setelah menunjukkan kartu pengenal Kopassus, kejadian ini tetap dilaporkan polisi ke Den Pom Lampung.
Komandan Den Pom Lampung meneruskan info ini ke Dan Puspom TNI di Jakarta. Saat itulah info bocor, lalu ditunggangilah kasus ini oleh oknum-oknum TNI binaan Moerdani. Peristiwa penangkapan Andi Arief di Lampung yang kemudian dibawa ke Jakarta pada tgl 28 Maret 1998 ini akhirnya ditunggangi dengan terjadinya kasus penculikan lain.
Penculikan lain atau susulan terjadi pada tanggal 30 Maret 1998 dengan korban Petrus Bima Anugrah, yang dilakukan oleh tim lain yang bukan Tim Mawar. Sebelumnya tim lain juga sudah menunggangi penculikan Herman Hendrawan pada tanggal 12 Maret 1998. Para korban ini hilang atau mati dibunuh.
Korban penculikan dari tim lain semuanya mati dibunuh, mayoritas non-Muslim, agar menimbulkan kesan bahwa penculikan dan pembunuhan itu dilakukan oleh Kopassus pimpinan Prabowo, jenderal pembela umat Islam Indonesia.
Fitnah terhadap Prabowo dan Kopassus melalui penculikan dan pembunuhan warga dan aktifis adalah untuk tujuan akhir melemahkan Soeharto. Kenapa? Karena untuk menghancurkan Soeharto harus dihancurkan terlebih dahulu penopang utama kekuasaan Soeharto yakni TNI. Dan kekuatan inti TNI berada di Kopassus sebagai kesatuan elit yang paling dibanggakan oleh TNI.
Moerdani cs hancurkan Soeharto dengan cara hancurkan TNI
Pemilihan target korban yang umumnya non-Muslim atau Katolik dimaksudkan untuk “menghilangkan jejak pelaku” sekaligus memancing perhatian Dunia. Seolah-olah di Indonesia sedang berkuasa rezim Soeharto yang anti Katolik dan anti Kristen. Media-media yang dimiliki umat Katolik dan Kristen pun bersuara sangat keras.
Akibatnya, Prabowo, Kopassus, TNI, dan Soeharto babak belur dihajar dan difitnah oleh Moerdani cs melalui penunggangan operasi Tim Mawar ini. Namun Pak Harto masih tetap bertahan. Sampai akhirnya terjadi peristiwa kerusuhan Mei 1998, yang diawali dengan penembakan terhadap Mahasiswa Trisakti. Peristiwa Trisakti ini, jelas ditunggangi oleh kelompok Benny Moerdani dengan memfitnah Polres Jakarta Barat, Brimob dan Kopassus sebagai pelakunya.
Sementara itu, krisis Moneter yang sedang terjadi saat itu, diperburuk dengan perampokan fasilitas dana BLBI oleh para bankir China melalui rekayasa kredit dan tagihan pihak ketiga yang macet dll. Sampai hari ini, Negara kita masih terbebani utang BLBI sebesar lebih dari Rp 600 triliun, dan baru akan lunas dibayar melalui APBN hingga tahun 2032 yang akan datang.
Krisis moneter, rekayasa opini, fitnah, dan kerusuhan Mei 1998 menjadi penyebab utama kejatuhan Soeharto pada tanggal 20 Mei 1998. Pada saat terjadinya kerusuhan Mei 1998, kembali TNI, Kopassus dan Prabowo dijadikan kambing hitam oleh kelompok Moerdani cs yang berkolaborasi dengan konspirasi global (KG).
Situasi kacau dan tak terkendali tersebut dimanfaatkan para perusuh yang patut diduga merupakan kesatuan dari loyalis Moerdani cs untuk membakar kota dan mengeruhkan situasi. Kehadiran sekelompok orang tidak dikenal yang membuat rusuh dan terkordinir inilah yang dibaca Prabowo sebagai faktor dominan yang membahayakan negara.
Paska kerusuhan, dikembangkan opini sampai ke seluruh dunia, seolah-olah telah terjadi pemerkosaan terhadap wanita-wanita China. Tuduhan itu tidak terbukti sama sekali. Secara teori pun mustahil ada orang yang sempat dan masih berhasrat melakukan pemerkosaan di tengah-tengah kerusuhan. Bahkan katanya dalam melampiaskan nafsu bejat itu mereka sambil meneriakkan takbir. Sungguh fitnah keji yang tak masuk akal!
Tuduhan itu memang ditargetkan untuk mengebiri TNI, menjatuhkan Soeharto dan menghancurkan Prabowo. Fitnah itu sukses besar. Soeharto pun termakan fitnah tersebut. Laporan beberapa jenderal yang langsung kepada Pak Harto menghasilkan pengusiran Prabowo oleh keluarga Cendana karena dianggap sebagai pengkhianat. Prabowo tidak diberi kesempatan menjelaskan fakta sebenarnya kepada Soeharto. Operasi intelijen, penyesatan fakta dan informasi Moerdani cs, terbukti sukses. Operasi itu sangat rapi, cermat dan dibantu oleh media-media kolaborator Moerdani seperti harian Kompas Grup dll. Prabowo dicap pengkhianat Soeharto.
Peran KG (konspirasi global) sangat dominan. Sejak Pak Harto dan Ibu Tien menjadi mualaf dan mesra dengan umat Islam, Soeharto tidak lagi jadi “hadiah terbesar” bagi Amerika Serikat. Kebangkitan Islam Indonesia di era 1990-an dinilai menjadi ancaman serius oleh AS, Barat seumumnya, Australia dan juga Singapura.
Sejalan dengan teori pasca perang dingin, tulisan Samuel P. Huntington dalam “The Clash of Civilization” (benturan peradaban) terus-menerus dikembangkan oleh negara-negara Barat terutama AS. Melalui opini di segala lini, Islam dikembangkan sebagai musuh baru bagi dunia Barat pasca kejatuhan Komunis Uni Soviet dan Eropa Timur. Islam di negeri ini juga dinilai sebagai bagian dari ancaman internasional itu.
Upaya penjatuhan Soeharto yang sedang mendorong kebangkitan kembali Islam di Indonesia setelah 24 tahun “dijajah” bangsa sendiri, telah dijadikan agenda utama oleh KG. Penjatuhan Soeharto itu sekaligus digunakan pula untuk sarana melakukan imperialisme baru atas Indonesia melalui LOI antara IMF dan RI yang telah terbukti menghancurkan kedaulatan NKRI.
Plus dengan menerapkan demokrasi liberal yang sejatinya tidak sesuai dengan demokrasi Pancasila, menyebabkan para kapitalis dengan amat mudah menjadi penguasa-penguasa baru Indonesia. Dan senjatanya hanya satu, yakni money (uang). Inilah cikal-bakal meruyaknya money politics di negeri ini.
Era 1998-2004, Indonesia mengalami gonjang-ganjing tanpa henti. Gangguan keamanan dan kerusuhan terjadi dimana-mana. Ekonomi morat-marit dan pers menjadi sangat liberal tak terkendali. Dan akhirnya, Pers menjadi penguasa baru yang dominan. Pers, baik media cetak maupun elektronik, membentuk opini, mengarahkan persepsi rakyat sesuka hati dan sesuai agenda kapitalis liberal. Selera hedonis menurut masing-masing individu menjadi sangat marak. Bahkan negeri ini menjadi negeri yang paling liberal di atas panggung dunia.
Dalam suatu kesempatan, kami (TrioMacan) pernah ditegur keras oleh Mayjen Haryadi Darmawan, mantan Ketua ILUNI (Ikatan Alumni UI). “ Saya jamin dengan jiwa raga saya tentang patriotisme Prabowo !!! Orang seperti Prabowo tidak akan mungkin melakukan tindakan sekecil apapun yang dapat membahayakan negara! ” Itu pesan Haryadi pada kami.
Jadi kesimpulan kami, tokoh seperti Prabowo-lah yang dibutuhkan bangsa ini. Tokoh yang sepanjang hidupnya hanya memikirkan nasib bangsa dan negaranya. Untuk itu ia telah mengorbankan pangkat dan jabatannya, harga dirinya, dan bahkan telah mengorbankan rumah tangganya.
Tokoh seperti Prabowo-lah yang dibutuhkan rakyat Indonesia saat ini. Tokoh yang akan jadikan Indonesia kembali menjadi “Macan Asia”. Bukan sekedar kuli dan jongos dari bangsa asing!

MERDEKA
[ Like & Share ]

Sejarah Singkat PKI

Sejarah Singkat PKI…. Berikut ini kiriman WA dari pak Ginanjar Kartasasmita ttg PKI:
Assalamu alaikum wr wb.. Bpk/Ibu/Adik2 yg lahir setelah th.1965.
Sejarah masa lalu mdh2an tdk terulang lagi. Agak panjang ceritanya, ttp menarik utk disimak :
“JASMERAH”
(JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN/
MENINGGALKAN SEJARAH)
Data kronologis melengkapi tulisan ttg PKI
PKI: TAHUN 1945 s/d 1965
Bismillaah Wal Hamdulillaah…
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah…
A. KRONOLOGIS
1. Tanggal 8 Oktober 1945: Gerakan Bawah Tanah PKI membentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia).
2. Medio Oktober 1945: AMRI Slawi pimpinan Sakirman dan AMRI Talang pimpinan Kutil meneror, menangkap, dan membunuh sejumlah Pejabat Pemerintah di Tegal.
3. Tanggal 17 Oktober 1945: Tokoh Komunis Banten Ce’ Mamat yg terpilih sebagai Ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) membentuk DPRS (Dewan Pemerintahan Rakyat Serang) dan merebut pemerintahan Keresidenan Banten melalui teror dengan kekuatan massanya.
4. Tanggal 18 Oktober 1945: Badan Direktorium Dewan Pusat yg dipimpin Tokoh Komunis Tangerang, Ahmad Khoirun, membentuk laskar yg diberi nama Ubel-Ubel dan mengambil alih kekuasaan pemerintahan Tangerang dari Bupati Agus Padmanegara.
5. Tanggal 21 Oktober 1945: PKI dibangun kembali secara terbuka.
6. Tanggal 4 November 1945: API dan AMRI menyerbu Kantor Pemda Tegal dan Markas TKR, tapi gagal. Lalu membentuk Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah untuk merebut kekuasaan di Keresidenan Pekalongan yg meliputi Brebes, Tegal, dan Pemalang.
7. Tanggal 9 Desember 1945: PKI Banten pimpinan Ce’ Mamat menculik dan membunuh Bupati Lebak R. Hardiwinangun di Jembatan Sungai Cimancak.
8. Tanggal 12 Desember 1945: Ubel-Ubel Mauk yg dinamakan Laskar Hitam di bawah pimpinan Usman membunuh Tokoh Nasional Otto Iskandar Dinata.
9. Tanggal 12 Februari 1946: PKI Cirebon di bawah pimpinan Mr.Yoesoef dan Mr.Soeprapto membentuk Laskar Merah merebut kekuasaan Kota Cirebon dan melucuti TRI.
10. Tanggal 14 Februari 1946: TRI merebut kembali Kota Cirebon dari PKI.
11. Tanggal 3 – 9 Maret 1946: PKI Langkat – Sumatera di bawah pimpinan Usman Parinduri dan Marwan dengan gerakan massa atas nama revolusi sosial menyerbu Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura, membunuh Sultan bersama keluarganya, dan menjarah harta kekayaannya.
12. Tahun 1947: Kader PKI Amir Syarifuddin Harahap berhasil jadi PM Republik Indonesia dan membentuk kabinet.
13. Tanggal 17 Januari 1948: PM Amir Syarifuddin Harahap menggelar Perjanjian Renville dengan Belanda.
14. Tanggal 23 Januari 1948: Presiden Soekarno membubarkan Kabinet PM Amir Syarifuddin Harahap dan menunjuk Wapres M Hatta untuk membentuk Kabinet baru.
15. Bulan Januari 1948: PKI membentuk FDR (Front Demokrasi Rakyat) yg dipimpin oleh Amir Syarifuddin untuk beroposisi terhadap Kabinet Hatta.
16. Tanggal 29 Mei 1948: M. Hatta melakukan ReRa (Reorganisasi dan Rasionalisasi) terhadap TNI dan PNS untuk dibersihkan dari unsur-unsur PKI.
17. Bulan Mei 1948: Muso pulang kembali dari Moskow – Rusia setelah 12 (dua belas) tahun tinggal disana.
18. Tanggal 23 Juni – 18 Juli 1948: PKI Klaten melalui SARBUPRI (Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia) melakukan pemogokan massal untuk merongrong Pemerintah RI.
19. Tanggal 11 Agustus 1948: Muso memimpin FDR / PKI dan merekonstruksi Politbiro PKI, termasuk DN Aidit, MH Lukman, dan Nyoto.
20. Tanggal 13 Agustus 1948: Muso yg bertemu Presiden Soekarno diminta untuk memperkuat Perjuangan Revolusi. Namun dijawab bahwa dia pulang untuk menertibkan keadaan, yaitu untuk membangun dan memajukan FDR / PKI.
21. Tanggal 19 Agustus 1948: PKI Surakarta membuat KERUSUHAN membakar pameran HUT RI ke-3 di Sriwedari – Surakarta, Jawa Tengah.
22. Tanggal 26 – 27 Agustus 1948: Konferensi PKI
23. Tanggal 31 Agustus 1948: FDR dibubarkan, lalu Partai Buruh dan Partai Sosialis berfusi ke PKI.
24. Tanggal 5 September 1948: Muso dan PKI-nya menyerukan RI agar berkiblat ke UNI SOVIET.
25. Tanggal 10 September 1948: Gubernur Jawa Timur RM Ario Soerjo dan dua perwira polisi dicegat massa PKI di Kedunggalar – Ngawi dan dibunuh, serta jenazahnya dibuang di dalam hutan.
26. Medio September 1948: Dr. Moewardi yang bertugas di Rumah Sakit Solo dan sering menentang PKI diculik dan dibunuh oleh PKI, begitu juga Kol. Marhadi diculik dan dibunuh oleh PKI di Madiun, kini namanya jadi nama Monumen di alun-alun Kota Madiun.
27. Tanggal 13 September 1948: Bentrok antara TNI pro pemerintah dengan unsur TNI pro PKI di Solo.
28. Tanggal 17 September 1948: PKI menculik para Kyai Pesantren Takeran di Magetan. KH Sulaiman Zuhdi Affandi digelandang secara keji oleh PKI dan dikubur hidup-hidup di sumur pembantaian Desa Koco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Di sumur tersebut ditemukan 108 (seratus delapan) kerangka jenazah korban kebiadaban PKI. Selain itu, ratusan orang ditangkap dan dibantai PKI di Pabrik Gula Gorang Gareng.
29. Tanggal 18 September 1948: Kolonel Djokosujono dan Sumarsono mendeklarasikan NEGARA REPUBLIK SOVIET INDONESIA dengan Muso sebagai Presiden dan Amir Syarifuddin Harahap sebagai Perdana Menteri.
30. Tanggal 19 September 1948: Soekarno menyerukan rakyat Indonesia untuk memilih Muso atau Soekarno – Hatta. Akhirnya, pecah perang di Madiun: Divisi I Siliwangi pimpinan Kol. Soengkono menyerang PKI dari Timur dan Divisi II pimpinan Kol. Gatot Soebroto menyerang PKI dari Barat
31. Tanggal 19 September 1948: PKI merebut Madiun, lalu menguasai Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Purwantoro, Sukoharjo, Wonogiri, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang, dan Cepu, serta kota-kota lainnya.
32. Tanggal 20 September 1948: PKI Madiun menangkap 20 orang polisi dan menyiksa serta membantainya.
33. Tanggal 21 September 1948: PKI Blitar menculik dan menyembelih Bupati Blora Mr.Iskandar dan Camat Margorojo – Pati Oetoro, bersama tiga orang lainnya, yaitu Dr.Susanto, Abu Umar, dan Gunandar, lalu jenazahnya dibuang ke sumur di Dukuh Pohrendeng Desa Kedungringin Kecamatan Tujungan Kabupaten Blora.
34. Tanggal 18 – 21 September 1948: PKI menciptakan 2 (dua) Ladang Pembantaian / Killing Fields dan 7 (tujuh) Sumur Neraka di MAGETAN untuk membuang semua jenazah korban yang mereka siksa dan bantai:
a. Ladang Pembantaian Pabrik Gula Gorang Gareng di Desa Geni Langit.
b. Ladang Pembantaian Alas Tuwa di Desa Geni Langit.
c. Sumur Neraka Desa Dijenan Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Magetan.
d. Sumur Neraka Desa Soco I Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan.
e. Sumur Neraka Desa Soco II Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan.
f. Sumur Neraka Desa Cigrok Kecamatan Kenongomulyo Kabupaten Magetan.
g. Sumur Neraka Desa Pojok Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan.
h. Sumur Neraka Desa Bogem Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan
i. Sumur Neraka Desa Batokan Kecamatan Banjarejo Kabupaten Magetan.
35. Tanggal 30 September 1948: Panglima Besar Jenderal Sudirman mengumumkan bahwa tentara Pemerintah RI berhasil merebut dan menguasai kembali Madiun. Namun Tentara PKI yg lari dari Madiun memasuki Desa Kresek Kecamatan Wungu Kabupaten Dungus dan membantai semua tawanan yg terdiri dari TNI, Polisi, Pejabat Pemerintah, Tokoh Masyarakat dan Ulama, serta Santri.
36. Tanggal 4 Oktober 1948: PKI membantai sedikitnya 212 tawanan di ruangan bekas Laboratorium dan gudang dinamit di Tirtomulyo Kabupaten Wonogiri – Jawa Tengah.
37. Tanggal 30 Oktober 1948: Para pimpinan Pemberontakan PKI di Madiun ditangkap dan dihukum mati, adalah Muso, Amir Syarifuddin, Suripno, Djokosujono, Maruto Darusman, Sajogo, dan lainnya.
38. Tanggal 31 Oktober 1948: Muso dieksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumorejo Kabupaten Ponorogo. Sedang MH Lukman dan Nyoto pergi ke pengasingan di Republik Rakyat China (RRC).
39. Akhir November 1948: Seluruh pimpinan PKI Muso berhasil dibunuh atau ditangkap, dan seluruh daerah yg semula dikuasai PKI berhasil direbut, antara lain: Ponorogo, Magetan, Pacitan, Purwodadi, Cepu, Blora, Pati, Kudus, dan lainnya.
40. Tanggal 19 Desember 1948: Agresi Militer Belanda II ke Yogyakarta.
41. Tahun 1949: PKI tetap tidak dilarang; sehingga tahun 1949 dilakukan rekonstruksi PKI, dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.
42. Awal Januari 1950: Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat yg datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan pembongkaran 7 (tujuh) Sumur Neraka PKI dan mengidentifikasi para korban. Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 kerangka mayat yg 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 kerangka mayat yg semuanya berhasil diidentifikasi. Para korban berasal dari berbagai kalangan Ulama dan Umara serta Tokoh Masyarakat.
43. Tahun 1950: PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang Merah.
44. Tanggal 6 Agustus 1951: Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di Tanjung Priok dan merampas semua senjata api yang ada.
45. Tahun 1951: Dipa Nusantara Aidit memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yg sepenuhnya mendukung Presiden Soekarno; sehingga disukai Soekarno, lalu Lukman dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun kembali PKI.
46. Tahun 1955: PKI ikut Pemilu pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat Besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.
47. Tanggal 8 – 11 September 1957: Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang – Sumatera Selatan mengharamkan ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua mantel organisasinya, tapi ditolak oleh Soekarno.
48. Tahun 1958: Kedekatan Soekarno dengan PKI mendorong Kelompok Anti PKI di Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan pemberontakan terhadap Soekarno. Saat itu MASYUMI dituduh terlibat; karena Masyumi merupakan MUSUH BESAR PKI
49. Tanggal 15 Februari 1958: Para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun pemberontakkan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.
50. Tanggal 11 Juli 1958: DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai Persatuan Sosialis Jerman di Berlin.
51. Bulan Agustus 1959: TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun kongres tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.
52. Tahun 1960: Soekarno meluncurkan slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yg didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.
53. Tanggal 17 Agustus 1960: Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustus 1960 tentang PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.
54. Pertengahan Tahun 1960: Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai 2 (dua) juta orang.
55. Bulan Maret 1962: PKI resmi masuk dalam pemerintahan Soekarno. DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.
56. Bulan April 1962: Kongres PKI.
57. Tahun 1963: PKI memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yg terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela negara” melawan Malaysia.
58. Tanggal 10 Juli 1963: Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.
59. Tahun 1963: Atas desakan dan tekanan PKI terjadi Penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain: KH. Buya Hamka, KH. Yunan Helmi Nasution, KH. Isa Anshari, KH. Mukhtar Ghazali, KH. EZ. Muttaqien, KH. Soleh Iskandar, KH. Ghazali Sahlan dan KH. Dalari Umar.
60. Bulan Desember 1964: Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yg didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.
61. Tanggal 6 Januari 1965: Atas desakan dan tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1 / KOTI / 1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah memfitnah PKI
62. Tanggal 13 Januari 1965: Dua
sayap PKI, yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) menyerang dan menyiksa peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan pelajar wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mushaf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.
63. Awal Tahun 1965: PKI dengan 3 juta anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain: SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat), dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).
64. Tanggal 14 Mei 1965: Tiga sayap organisasi PKI yaitu PR, BTI, dan GERWANI merebut perkebunan negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dengan menangkap dan menyiksa serta membunuh Pelda Sodjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.
65. Bulan Juli 1965: PKI menggelar pelatihan militer untuk 2000 anggotanya di Pangkalan Udara Halim dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela negara”, dan dibantu oleh unsur TNI Angkatan Udara.
66. Tanggal 21 September 1965: Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.
67. Tanggal 30 September 1965 pagi: Ormas PKI Pemuda Rakjat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.
68. Tanggal 30 September 1965 malam: Terjadi Gerakan G30S / PKI atau disebut juga GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh):
a. PKI menculik dan membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayatnya ke dalam sumur di LUBANG BUAYA – Halim, mereka adalah : Jenderal Ahmad Yani, Letjen R.Suprapto, Letjen MT Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen Panjaitan, dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo.
b. PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution.
c. PKI pun membunuh AIP KS Tubun seorang Ajun Inspektur Polisi yang sedang bertugas menjaga rumah kediaman Wakil PM Dr. J. Leimena yang bersebelahan dengan rumah Jenderal AH Nasution.
d. PKI juga menembak putri bungsu Jenderal AH Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, Ade Irma Suryani Nasution, yg berusaha menjadi perisai ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.
e. G30S / PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yg membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu: Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi.
f. Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah perwira ABRI / TNI dari berbagai angkatan, antara lain:
– Angkatan Darat: Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, Brigjen TNI Soepardjo, dan Kolonel A. Latief
– Angkatan Laut: Mayor KKO Pramuko Sudarno, Letkol Laut Ranu Sunardi, dan Komodor Laut Soenardi
– Angakatan Udara: Men / Pangau Laksdya Udara Omar Dhani, Letkol Udara Heru Atmodjo, dan Mayor Udara Sujono
– Kepolisian: Brigjen Pol. Soetarto, Kombes Pol. Imam Supoyo dan AKBP Anwas Tanuamidjaja.
69. Tanggal 1 Oktober 1965: PKI di Yogyakarta juga membunuh Brigjen Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiono. Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya DEWAN REVOLUSI baru yg telah mengambil alih kekuasaan.
70. Tanggal 2 Oktober 1965: Soeharto mnegambil alih kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal, dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut pangkalan udara Halim dari PKI.
71. Tanggal 6 Oktober 1965: Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.
72. Tanggal 13 Oktober 1965: Ormas Anshor NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di seluruh Jawa.
73. Tanggal 18 Oktober 1965: PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar untuk pengajian. Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yg menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah keracunan mereka dibantai oleh PKI dan jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa / Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshor yg dibantai, dan ada beberapa pemuda yg selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi saksi mata peristiwa. Peristiwa tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.
74. Tanggal 19 Oktober 1965: Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa.
75. Tanggal 11 November 1965: PNI dan PKI bentrok di Bali.
76. Tanggal 22 November 1965: DN Aidit ditangkap dan diadili serta dihukum mati.
77. Bulan Desember 1965: Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.
78. Tanggal 11 Maret 1966: Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yg memberi wewenang penuh kepada Soeharto untuk mengambil langkah pengamanan Negara RI.
79. Tanggal 12 Maret 1966: Soeharto melarang secara resmi PKI.
80. Bulan April 1966: Soeharto melarang Serikat Buruh pro PKI yaitu SOBSI.
81. Tanggal 13 Februari 1966: Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan, ”Di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI…”
82. Tanggal 5 Juli 1966: Terbit TAP MPRS No.XXV th.1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS RI Jenderal TNI AH Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran paham Komunisme, Marxisme, dan Leninisme.
83. Bulan Desember 1966: Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1967.
84. Tahun 1967: Sejumlah kader PKI seperti Rewang, Oloan , dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di wilayah terpencil di selatan Blitar bersama kaum Tani PKI.
85. Bulan Maret 1968: Kaum Tani PKI di selatan Blitar menyerang para pemimpin dan kader NU, sehingga 60 (enam puluh) orang NU tewas dibunuh.
86. Pertengahan 1968: TNI menyerang Blitar dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI.
87. Dari tahun 1968 s/d 1998: Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasinya dilarang di seluruh Indonesia dengan dasar TAP MPRS No.XXV th.1966.
88. Dari tahun 1998 s/d 2015: Pasca Reformasi 1998 pimpinan dan anggota PKI yg dibebaskan dari penjara, beserta keluarga dan simpatisannya yg masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka merajalela melakukan aneka gerakan pemutarbalikan fakta sejarah dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN.
Semoga kita semua Waspada terhadap kebangkitan PKI. Aamiin yaa robbal ‘alamien.

Inilah Kode-kode Penting dan Rahasia Meteran Listrik Prabayar (Token) PLN

Listrik sudah menjadi kebutuhan pokok. Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang kita lakukan dengan menggunakan listrik ini. Semua semakin dimudahkan dengan adanya listrik.

Bisa dibilang sistem kelistrikan di Indonesia telah mengalami banyak kemajuan yang cukup signifikan. Selain sistem administrasi yang terpusat dan online saat ini kita sudah menggunakan meteran listrik dengan sistem prabayar/token.Keuntungan dari meteran listrik prabayar/token ini adalah, pengguna bisa mengontrol penggunaan listrik sendiri dan tidak bergantung kepada petugas yang mengecek ke lapangan sehingga bisa menghindari penipuan ataupun tagihan listrik yang membengkak tanpa alasan jelas.

Sementara dari sisi PLN sebagai penyedia listrik juga diuntungkan dengan tidak ada lagi resiko pengguna listrik yang melakukan tunggakan pembayaran.

Namun tahukah Anda, bahwa mesin penghitung listrik mungil yang ada dirumah kita itu sebenarnya memiliki banyak kode penting dan rahasia? Semua itu bisa Anda manfaatkan untuk kepentingan pengelolaan pemakaian listrik Anda sendiri lho.

Baca Juga: Akibat Kesalahan Petugas Pencatatan Meter, Orang ini Tetap Diwajibkan Bayar Tagihan Listrik Sebesar Rp 3.2 Juta

Berikut Kode-kode Penting dan Rahasia Meteran Listrik Prabayar (Token) PLN berdasarkan merknya masing-masing:

Meter Digital Merk ITRON
00 Enter = Restart Meter [jika ada GAGAL/Periksa] 03 Enter = Total kWH listrik yang telah lalu
07 Enter = Batas kWH
09 Enter = Daya yang digunakan
41 Enter = Voltase listrik
44 Enter = Ampere yang sedang terpakai
47 Enter = Daya yang sedang terpakai
54 Enter = Kode TOKEN terakhir
59 Enter = Jumlah kWH pengisian terakhir
69 Enter = Counter jumlah berapa kali mati
75 Enter = Cek ID Meter PLN Prabayar
79 Enter = Cek batas minimal alarm
456xx Enter = Merubah batas minimal alarm contohnya 45605 untuk 5kWH
78 Enter = Cek delay alarm dalam menit
123xx Enter = Merubah delay alarm contohnya 12310 untuk 10 menit
90 Enter = Mematikan lampu LED

Meter Digital merk CONLOG
#1# = Daya rata-rata yang digunakan
#2# = Jumlah kWH pemakaian terakhir
#6# = Jumlah kWH yang dimasukkan terakhir
#11# = Cek Token terakhir

Meter Digital merk STAR
07 Enter = Cek sisa kWH
12 Enter = Cek batas minimal alarm
37 Enter = Cek delay alarm dalam menit
65 Enter = Cek ID Meter Listrik Prabayar
76 Enter = Jumlah kWH pengisian terakhir

Meter Digital merk HEXING
800 Accept = Restart Meter [jika ada CANCEL / STL] 851 Accept = Total kWH listrik yang telah lalu
807 Accept = Voltase listrik
808 Accept = Ampere yang sedang terpakai
814 Accept = Daya yang sedang terpakai
852 Accept = Kode TOKEN terakhir

817 Accept = Jumlah kWH pengisian terakhir
809 Accept = Counter jumlah berapa kali mati
804 Accept = Cek ID Meter PLN Prabayar
812 Accept = Mematikan alarm batas kWH
801 Accept = Cek sisa kWH
815 Accept = Tanggal pengisian terakhir

Meter Digital merk GLOMET
37 Enter = Cek sisa kWH
38 Enter = Total kWH listrik yang telah lalu
41 Enter = Voltase listrik
47 Enter = Daya yang sedang terpakai
54 Enter = Kode
TOKEN terakhir
59 Enter = Jumlah kWH pengisian terakhir
75 Enter = Cek ID Meter PLN Prabayar
79 Enter = Cek batas minimal alarm

Bagi yang masih bingung cara menggunakannya, saya akan jelaskan lebih lanjut disini. Kita ambil contoh, meteran yang Anda miliki bermerk Glomet. Maka:

Untuk melakukan pengecekan sisa kWH Anda adalah dengan cara menekan angka 3 lalu angka 7 diikuti menekan tombol ENTER. Angka yang muncul di layar meteran adalah sisa dari STROOM yang terdapat pada meter Anda.

Untuk melakukan pengecekan total kWH yang telah terpakai selama ini adalah dengan cara menekan angka 3 lalu angka 8 diikuti menekan tombol ENTER. Angka yang muncul di layar meteran adalah total kWH yang telah Anda habiskan selama ini.

Mudah bukan? Barangkali ada yang bertanya bagaimana merubah batas minimal KWh agar alarm tak berbunyi sewaktu listrik dirasa masih cukup. Namun merknya berbeda dari yang diatas.