#AuditEKTPtercecer

  1. Bismillah, saya dari Wakil Ketua Komisi II @DPR_RI juga prihatin mengenai banyaknya EKTP yg ditemukan tercecer di jalan di daerah Bogor. #AuditEKTPtercecer

  2. Pertama, ini teledor. Saat masyarakat banyak kesulitan dapat E-ktp tiba2 ada banyak e-ktp berserakan dijalan raya di Bogor. Kemendagri perlu merapihkan SOP pengiriman e-ktp ini. #AuditEKTPtercecer

  3. Kedua sudah ada penjelasan dari Dirjen Dukcapil bahwa itu katanya E-ktp rusak. Tapi setahu saya alat perekam dan pencetaknya ada di Kelurahan atau kecamatan. Kenapa ada di Jabar? #AuditEKTPtercecer

  4. E-ktp itu beralamat Sumatera Selatan, perlu diaudit bagaimana E-ktp rusak punya Sumsel adanya di Jabar. Bukankah kalau ada kesalahan mestinya dihancurkan di tempat. Utk apa e-ktp rusak dikumpulkan? #AuditEKTPtercecer

  5. Ketiga, dalam situasi yang mendekati pilkada serentak, kasus ini menimbulkan prasangka di kalangan masyarakat. Harus dilakukan investigasi dan audit menyeluruh. Ini bukan masalah kecil. #AuditEKTPtercecer

  6. Dan Kemendagri tidak dapat menganggap ini masalah sepele yang selesai dengan penjelasan melalui rilis (WA) dari Dirjen Dukcapil. Ini menyepelekan masalah. #AuditEKTPtercecer

  7. Segera lakukan penyelidikan fokus di audit dan transparan, karena seperti diketahui fungsi EKTP sangat vital jelang pilkada/pemilu. #AuditEKTPtercecer

  8. Harus ada keseriusan bagian terkait mengenai E-ktp dan SOP yang tidak terpakai, bukan di tumpuk digudang, krn saat bisa disalahgunakan. #AuditEKTPtercecer

  9. Jika tidak ada keseriusan menyelesaikan temuan masalah E-ktp ini, jangan salahkan masyarakat akan menilai Kemendagri gagal menangangi bukti tercecernya EKTP. #AuditEKTPtercecer

  10. Musnahkan segera semua EKTP rusak, audit segera. Bukan dimusnahkan setelah rame. Dan harusnya dimusnahkan di tempat EKTP itu dibuat. Bukan dibawa ke Jabar atau daerah lain. #AuditEKTPtercecer

Lihat Tweet @MardaniAliSera: https://twitter.com/MardaniAliSera/status/1000669121355239424?s=08

Advertisements

Mereka Adalah TimSesnya DILAN

“Mereka Adalah TimSesnya DILAN”

Ada paradigma yang harus diubah di benak Ummat Islâm tentang GPK Kokohiyyun…

Apa itu?

Yaitu paradigma bahwa GPK Kokohiyyun adalah pendukung atau setidaknya simpatisan si DILAN.

Ternyata kita semua salah tentang itu…

Iya, salah!

Kok?

Begini, GPK Kokohiyyun itu bukan cuma pendukung, tapi merekalah TimSes (Tim Sukses) si DILAN itu…!

Iya, TimSes…!!!

Apa buktinya?

Buktinya adalah:

1⃣ Memaksakan konsep Ulil Amri secara syar‘i terhadap si DILAN.

Padahal, konsep “Ulil Amri” secara syar‘i itu jelas, yaitu seorang penguasa muslim yang:
(a). menegakkan urusan agama Islâm, dan
(b). mengatur urusan Dunia dengan syari‘at agama Islâm.

Kemudian apabila ada perselisihan, maka mengembalikannya kepada agama Islâm.

Itu syarat seorang penguasa dikatakan sebagai “Ulil Amri”. Itu yang wajib diberikan keta’atan dalam suka dan duka, susah maupun senang, ridhô maupun terpaksa.

Kalau tidak memenuhi ketiga syarat tersebut, ya bukan Ulil Amri namanya, tapi penguasa saja.

Tidak mengulilamrikan itu bukan berarti bughôt (berontak), karena tidak ada urusannya dengan bughôt. Sebab, keta’atan kepada manusia itu batasannya adalah selama itu dalam hal yang tidak menyelisihi الله dan Rosûl-Nya.

Analoginya, mobil Mercy dengan sepeda onthel. Keduanya adalah moda transportasi, di mana mengendarai keduanya di jalan raya harus mematuhi UU LaLin. Memaksa mengatakan sepeda onthel sebagai mobil Mercy itu adalah kekonyolan, bahkan gila! Walaupun keduanya bisa dipakai untuk ke pergi ke Masjid setiap waktu sholât fardhu 5, tetapi kalau mau ngebut à la Italian Tune-up di toll Jagorawi, ya harus pakai mobil Mercy dong? Nekad mau pakai sepeda onthel ke Jagorawi, itu beresiko disambit oleh petugas keamanan jalan toll.

2⃣ Memaksa harus mendo’akan kebaikan bagi si DILAN.

Padahal, berapa banyak do’a keburukan terhadap penguasa yang zhôlim, baik dalam al-Qur-ân maupun di dalam al-Hadîts?

Sementara GPK Kokohiyyun itu mendakwa orang yang mendo’akan keburukan bagi penguasa yang zhôlim adalah ahlul hawa’, bahkan khowârij.

Innâlillâhi…!

Entah dari mana pemahaman rusak yang seperti itu, karena artinya mereka itu dengan lancangnya telah menuduh para Nabiyullôh yang mendo’akan keburukan bagi penguasa zhôlim itu adalah berpemahaman khowârij…!!!

Mushibah… mushibah… mushibah…

3⃣ Berandai-andai bahwa DILAN digantipun, maka penggantinya belum tentu akan lebih baik.

Ini pemikiran yang rusak…!

Iya rusak, karena kalau mau mengubah nasib, ya harus melakukan ikhtiyar. Karena bukankah telah jelas bahwa الله takkan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak berusaha untuk mengubah nasibnya sendiri?

Ingat, ikhtiyar dan do’a itu adalah dua hal yang berbeda.

Hanya berdo’a tanpa ikhtiyar lalu berharap الله memberikan sesuatu, maka itu penghinaan terhadap الله.

Iyalah!

Kalau lapar ya harus makan. Makan itu usaha. Mau makan ya harus masak atau jajan, di mana itu keduanya usaha. Kalau masak, maka harus punya bahan yang mau dimasak, entah dari mengumpulkan di ladang / hutan / air, atau beli di pasar. Semuanya itu usaha. Kalau urusannya beli, maka harus punya uang. Mau punya uang ya kerja. Kerja itu usaha, alias ikhtiyar.

Tak mungkin kan lapar terus do’a, lantas -criiiiing- turun makanan dari langit terhidang di meja makan kita. Memangnya kita ini siapa…???

Begitu juga ketika punya aspirasi memilih person baru sebagai pengganti DILAN, maka harus ikhtiyar. Ikhtiyarnya bukan cuma mencoblos di bilik suara.

Tentunya, karena ikhtiyar itu ada caranya, mulai dari:
(a). melihat track record,
(b). melihat siapa orang-orang yang di sekelilingnya,
(c). melihat apa program-program yang ditawarkannya, feasible kah atau hanya lip service belaka, dlsb.

Jangan termakan pencitraan, gombal, dan janji palsu, apalagi gimmick dan kado palsu.

Ingat ya, harus ikhtiyar!

Sedangkan do’a, maka do’a itu wajib mengiringi setiap usaha. Agar usaha itu diridhôi الله, sehingga terbimbing dan terjaga dan mudah-mudahan diberikan hasil yang terbaik.

Adapun soal hasil, maka itu bukanlah urusan kita. Soal hasil adalah urusannya الله Subhânahu wa Ta‘âlâ. Itulah yang dinamakan rezeki.

Adapun pahala, maka pahala itu ada pada proses, yaitu ketika kita menjalani ikhtiyar kita tersebut.

Demikian, semoga dapat dipahami.

Sekali lagi, point pentingnya adalah bahwa GPK Kokohiyyun itu adalah TimSes si DILAN, bukan cuma sekedar pendukung.

نسأل الله السلامة والعافية