AL-BID’AH: JENIS, MACAM DAN SEJARAH KEMUNCULANNYA

(Transkrip Ceramah AQI 280205)

AL-BID’AH: JENIS, MACAM  DAN SEJARAH  KEMUNCULANNYA, Bagian-14

Oleh : Ust. Achmad Rofi’i, Lc.

💻 = http://www.ustadzrofii.com / http://www.ustadzrofii.wordpress.com

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allõh سبحانه وتعالى,

TANYA JAWAB

Pertanyaan:

Apakah partai politik, demokrasi, Pemilu dan Parlementer masuk jenis  Bid’ah? Jika Bid’ah, apa hukumnya?

Jawaban:

Kalau ada orang yang MEYAKINI selain Allõh  سبحانه وتعالى ada yang berkuasa, maka itu bukan urusan Bid’ah, melainkan urusan syirik (kemusyrikan). Itu berbahaya, bisa menjadi  kufur.

Misalnya, ada orang BERKEYAKINAN bahwa yang berkuasa itu adalah rakyat, maka itu sudah tidak sesuai dengan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamã’ah. Karena menurut ‘aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamã’ah, Penguasa adalah Allõh سبحانه وتعالى, bukan Rakyat.

Kalau penguasanya rakyat, maka rakyat lah yang menetapkan hukum. Kalau rakyat yang menetapkan hukum, maka menjadi relatif, karena mereka tidak berhukum pada hukum Allõh سبحانه وتعالى.

Dan apabila ada orang yang MEYAKINI bahwa mereka boleh berhukum dengan selain Hukum Allõh سبحانه وتعالى, maka ini sangat berbahaya, dapat terancam menjadi murtad, keluar dari Al Islam.

Pertanyaan:

Bagaimana i’tikaf itu dilaksanakan, bila i’tikaf-nya adalah pada hari  Jum’at  dimana kami juga mesti  sholat Jum’at?

Jawaban:

Melakukan i’tikaf itu harus lah di masjid, tidak boleh dimushola atau di surau  atau di rumah. I’tikaf itu harus di masjid, dimana  masjid itu juga untuk  sholat Jum’at (–Masjid Jãmi’ –).

Jadi orang yang i’tikaf bisa mengikuti sholat Jum’at  di masjid tersebut, tidak harus keluar dari tempat ia i’tikaf.

Sebab kalau ia keluar dari tempat i’tikaf, berarti ia batal i’tikaf-nya.

Pertanyaan:

Bagaimana jika dalam sebuah masjid ada kuburannya? Lalu bagaimana sholat di masjid yang ada kuburannya tersebut?

Jawaban:

Dalam pertemuan terdahulu pernah dijawab masalah tersebut. Bahwa sholat didalam masjid yang ada kuburan / (makam) itu tidak boleh.

Hal itu sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imãm At Turmudzy no: 317, Al Imãm Ibnu Mãjah no: 745, Al Imãm Ad Dãrimi no: 1390, dan Al Imãm Ahmad (3/83), dan Syaikh Nashiruddin Al Albãny mengatakan bahwa Hadits ini Shohĩh, dari Shohabat Abu Sã’id Al Khudri رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda,

الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ

Artinya:
“Seluruh bumi adalah masjid (boleh digunakan untuk shalat), kecuali kuburan dan tempat pemandian.”

Berarti sholat di masjid yang ada kuburannya itu, Sholat-nya tidak sah dan harus diulang.

Termasuk bila di halaman depan atau samping masjid itu ada kuburan. Karena itu masih termasuk areal masjid.

Seandainya tanah masjid itu menyambung dengan tanah orang yang ada kuburannya, tidak ada batas, itu pun tidak sah sholat di masjid tersebut. Bila ada pagarnya atau berseberangan jalan dengan kuburan, itu pun  makruh.

Sebaiknya tidak sholat  di masjid yang demikian itu. Carilah masjid yang lain.

Kecuali Masjid Nabawy  di Madinah. Itu  pengecualian.

Masjid Nabawy sekarang menampung tidak kurang dari satu juta orang  jama’ah. Mula-mula  makam Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم di luar areal masjid. Tetapi karena perkembangan zaman, masjid semakin diperluas, sehingga makam Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم menjadi masuk dalam areal masjid.

Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imãm Muslim no: 3434 dan Al Imãm Al Bukhõry no: 1195, dari ‘Abdullõh bin Zaid Al Mãziniy رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَا بَيْنَ بَيْتِى وَمِنْبَرِى رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ

Artinya:
“Antara mimbarku dan kamar tidurku ada taman surga (Raudhoh).”

Jadi pada waktu itu  terpisah. Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم wafat di kamar ‘Ã’isyah رضي الله عنها dan dikubur di kamar tersebut. Hal itu sebagaimana yang diterangkan dalam Hadits Riwayat Al Imãm At Turmudzy, didalam “Sunnan At Turmudzy” Jilid 3 halaman 338, no: 1018, di-shohĩh-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albãny sebagai berikut:

عن عائشة قالت : لما قبض رسول الله صلى الله عليه و سلم اختلفوا في دفنه فقال أبو بكر سمعت من رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا ما نسيته قال ما قبض الله نبيا إلا في الموضع الذي يحب أن يدفن فيه أدفنوه في موضع فراشه

Artinya:
Dari ‘Ã’isyah رضي الله عنها, beliau berkata, “Pada saat Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم wafat, para Shohabat berselisih tentang dimana beliau akan dikuburkan.
Maka Abu Bakar Ash Shiddiq رضي الله عنه berkata, “Aku mendengar Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda sesuatu yang tidak kulupakan, yaitu, “Tidaklah Allõh mewafatkan seorang Nabi, kecuali dikuburkan ditempat yang dia suka untuk dikuburkan disana, maka kuburkanlah beliau di tempat tidurnya.”
Kemudian para Shohabat memakamkannya di tempat tidurnya.”

Karena Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم wafat di kamar ‘Ã’isyah رضي الله عنها, maka beliau صلى الله عليه وسلم dikubur di kamar itu.  Sekarang makam itu dibatasi oleh batas yang tinggi sehingga tertutup. Sebelum dibatasi, orang-orang Syi’ah sering thawaf di tempat itu mengelilingi  kuburan Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم.

Pertanyaan:

Bagaimana menjawab secara dalil kalau ada seorang Ustadz yang bila ditanya tentang masalah  Bid’ah, lalu ia malah memberi jawaban yang bersifat “menghibur”, misalnya seperti ini, “Itu tidak mengapa, itu kan Sunnah, bukan Wajib. Dikerjakan saja sudah Alhamdulillah.”

Jawaban:

Ustadz yang demikian bukan menghibur, melainkan ia mengajari  Bid’ah. Kalau ada Ustadz  yang menjawab seperti itu, mestinya ia jangan menjadi  Ustadz, melainkan hendaknya belajar / menuntut ‘ilmu syar’i terlebih dahulu.

Pertanyaan:

Bagaimana hukum dari  mengusap wajah sesudah  salam, selesai sholat?

Jawaban:

Mengusap wajah selesai sholat tidak ada dalam Sunnah Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم yang shohĩh.

Pertanyaan:

Tentang pendapatnya Al Imãm Mãlik bin Anas رحمه الله bahwa perlunya dalil untuk mempertahankan kemurnian dĩn dan menghindari Bid’ah.

Nah, sekarang ini banyak orang atau majlis ta’lim  yang meng-klaim dirinya sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamã’ah, tetapi mereka itu mempergunakan dalil yang berbeda-beda. Padahal apa yang mereka dakwahkan itu banyak yang tergolong  Bid’ah dan Khurofat. Yang demikian itu berlangsung sampai saat ini. Bagaimana sikap kita dalam menghadapi hal yang demikian tersebut?

Jawaban:

Untuk perkara selamat atau celaka (dunia dan akhirat) itu harus kita tumbuhkan sikap kritis.

Dalam menyikapi Islam, kita harus dengan tiga fase.

Setiap keterangan yang masuk ke telinga kita, haruslah kita tanyakan dalam tiga fase berikut:

Fase Pertama, apakah ada dalil-nya.

Kalau tidak ada dalil-nya, maka tidak perlu didengar. Karena :

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا قِيلَ وَقَالَ

Artinya:
“Sesungguhnya Allõh  سبحانه وتعالى membenci tiga perkara, yaitu: Perkara yang berasal dari ‘Katanya, katanya…’.”
(Hadits Riwayat Al Imãm Al Bukhõry no: 1477 dan Al Imãm Muslim no: 4582, dari Shohabat Al Mughĩroh bin Syu’bah رضي الله عنه)

Jadi yang demikian itu berarti keterangan itu hanya bualan saja.

Kedua, yang juga dibenci adalah menyia-nyiakan harta benda, dan Ketiga adalah orang yang banyak bertanya.

Jadi, kalau ada dalilnya, barulah boleh didengar.

Tetapi dalil itu masih ada yang “Maqbul (Diterima)”  dan ada yang “Marduud (Tertolak)”.

Dalil yang “Marduud” ada dua: Dho’ĩf (Lemah) dan Maudhũ’ (Palsu).

Dalil yang “Maqbul” juga ada dua, yaitu: Ma’mũl (Diamalkan) dan Tidak Ma’mũl (Tidak Diamalkan).

Mengapa ada hadits  Maqbul tetapi tidak diamalkan? Karena hadits tersebut sudah di-mansukh.

Hadits mansukh itu tidak diamalkan, walaupun itu hadits shohĩh.

Fase Kedua, bukan hanya sekedar ada dalil, tetapi hendaknya dalil yang shohĩh.

Fase Ketiga, tanyakan dengan pemahaman siapakah anda memahami hadits yang dimaksud tersebut.

Disinilah perlunya pemahaman Salafush Shõlih, yaitu pemahaman berdasarkan pahamnya para Shohabat, Tabi’ĩn, Tabi’ut Tabi’ĩn dan para  Imãm yang mu’tabar. Karena mereka adalah manusia yang paling ‘alim. Mereka lebih taqwa, lebih  hakim dan lebih bijaksana dibandingkan kita. Mereka adalah manusia-manusia kualitas tinggi, yang jaminannya pun datang dari Hadits Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم.

Karena memahami dalil itu bukanlah sesuai hawa nafsu diri kita sendiri.

Meskipun ada seseorang yang mengatakan bahwa ia sudah mempelajari bahasa Arab dan sudah hafal seribu bait dalam Nahwu, itu pun tidaklah cukup.

Karena bahasa Arab bukan menjadi penentu dari paham dalam hal dĩn (Islam).

Bahasa Arab adalah alat untuk memahami dĩn, bukan merupakan penentu  paham dalam urusan  dĩn.

Paham dĩn itu ditentukan dengan Fiqh para ‘Ulama. Karena tidak setiap yang diterjemahkan secara  bahasa, tepat persis seperti yang dikehendaki oleh Syar’i.

Jadi ada tiga fase yang harus dikritisi: Tanyakan ada dalilnya atau tidak, shohĩh atau tidak, dan pemahaman siapa.

Ada aliran yang mengatakan: “Ini dari Al Qur’an dan Sunnah, mankul lagi.”
(“Mankul” itu artinya riwayat dari gurunya ke muridnya, dari muridnya ke muridnya yang lain, dstnya)

Maka aliran tersebut menamakan dirinya “Jama’ah Mankul”.
Mereka itu dari kelompok LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia).

Mereka mengatakan “Mankul”. Tetapi “Mankul” dari siapa?
Ternyata setelah dirunut, “Mankul”-nya adalah pada dirinya sendiri.

Mereka mengatakan bahwa  semua muslim itu najis kecuali LDII.

Maka mankul mereka itu dari pemahaman dirinya sendiri, bukan dari para  ‘Ulama Ahlus Sunnah.  Karena itu mereka menjadi  sesat.

Jadi betapa pentingnya pemahaman terhadap dĩn (Islam) ini dengan  pemahaman yang benar.

Hendaknya pemahaman kita sesuai dengan pemahaman dĩn dari para  Shohabat, Tabi’ĩn, Tabi’ut Tabi’ĩn dan para Imãm yang mu’tabar.

Pemahaman dĩn (Islam)  kita hendaknya sesuai dengan pemahaman Al Imãm Asy Syãfi’iy رحمه الله, sesuai dengan ‘Abdullõh bin Mubãrok رحمه الله, sesuai denganAbu Bakar As Siddĩq رضي الله عنه, sesuai dengan Ali bin Abi Thõlib  رضي الله عنه, sesuai dengan ‘Abdullõh bin Mas’ũd, Jabir bin ‘Abdillah  رضي الله عنهم, dstnya.

Begitu contoh semestinya rujukan kita, bukan menggunakan pemahaman orang-orang orientalis, orang kãfir, ataupun orang  ahlul bid’ah.

Memahami dĩn (Islam)  haruslah dari mereka, orang-orang yang jelas terjamin ke-shohĩh-annya, jelas ke-taqwa-annya, jelas ke-waro’-annya.

Pertanyaan:

Bila dalam suatu ruangan kantor yang besar, karena disekitarnya tidak ada  masjid lalu ruangan tersebut dijadikan tempat untuk sholat Jum’at, apakah itu dibolehkan? Apakah sholat Jum’at-nya sah?

Jawaban:

Sah. Boleh saja, karena untuk meringankan keberatan umatnya. Karena bangunan kantor itu sekian puluh tingkat, lalu harus mencari masjid dulu, sehingga menjadikan perkara yang memberatkan bagi muslimin yang ada di gedung tersebut, maka yang demikian itu boleh.

Pertanyaan:

Bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwa ia berdakwah dengan nyanyian, misalnya dengan judul: “Nada dan Dakwah.”

Jawaban:

Itu jahil. Silahkan anda membuka kitab Hadits Shohĩh Riwayat Al Imãm Al Bukhõry bahwa nyanyian, musik dan sejenisnya adalah harom. Perhatikan hadits berikut:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

Artinya:
“Sungguh, benar-benar sebagian dari ummatku akan muncul beberapa kaum yang menghalalkan (menjadikan-nya halal) zina, sutra (bagi laki-laki), khomr (minuman keras) dan alat musik.” (Hadits Riwayat Al Imãm Al Bukhõry no: 5590, dari Abu Mãlik Al Asy’ãry رضي الله عنه)

Sedangkan menurut para ‘Ulama antara lain Al Imãm Al Qurthuby, menukil dari Al Jauhary bahwa “Al Mã’azif” itu adalah “nyanyian”.

Dan ‘Ulama yang lain mengartikan Rebana dan  apa saja yang dipukul.

Dan didalam “Al Qõmus Al Muhĩth” adalah perkara-perkara yang melalaikan seperti guitar, gendang, dan nyanyian.

Jadi Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم yang mengharomkannya.

Tetapi nyanyian dan musik  itu malah dijadikan sebagai wasĩlah dakwah.
Itu tidak benar, karena  ibadah itu tidak boleh menggunakan wasĩlah (media) yang harom.

Paradigma itu muncul karena pelakunya kurang wawasannya dalam hal dĩn (Islam). Juga karena unsur lain, misalnya hawa nafsu, popularitas, dll. Pelakunya tidak paham benar dalam hal dĩn (agama).

Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri denganDo’a Kafaratul Majlis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, Senin malam, 20 Muharrom 1426 H – 28 Februari 2005 M.