Islam Tidak Akan Jadi Hina dengan Hinaan, Tapi Kita yang Jadi Hina Ketika Diam Islam Dinistakan

Islam Tidak Akan Jadi Hina dengan Hinaan, Tapi Kita yang Jadi Hina Ketika Diam Islam Dinistakan

Oleh: Ust. Jauhar Ridloni Marzuq

Memang agama kita tidak akan jadi hina dengan hinaan. Tapi, justru kita yang jadi hina ketika diam saja melihat agama kita dinistakan. Islam itu agama mulia, pemeluknya juga mesti mulia. Islam itu agama agung, maka pemeluknya harus punya harga diri. Di mana harga diri kaum Muslimin ketika agamanya dicabik-cabik tapi dia diam saja? Tidak cocok agama yang agung dan mulia ini memiliki pemeluk yang pengecut dan hina. Inilah yang disebut izzah.

Nusron Wahid saja marah ketika dipanggil Nusron Purnomo. Itu karena dia merasa punya harga diri terhadap namanya. Padahal sama saja dia dipanggil Nusron Wahid atau Nusron Purnomo, tidak akan membuat dia jadi tampan kayak Justin Beiber atau jadi jelek seperti Gollum. Nusron, dipanggil dengan panggilan apapun akan tetap seperti itu. Kenapa harus marah?

Masa hanya Nusron saja yang boleh marah? Orang yang marah itu bukan berarti anarkis, dan orang yang ramah bukan berarti tak pernah marah. Nabi Musa AS, ketika pulang dari Tur Sina dan mendapatkan umatnya menyembah patung sapi, beliau marahnya minta ampun. Sampai-sampai Nabi Harun ditarik kepala dan janggutnya. Taurat yang ada di tangan Nabi Musa pun dilempar. Beliau tidak terima agamanya dirusak oleh Samiri.

Siapa yang meragukan kelembutan Rasulullah SAW? Tapi ketika mendapatkan Ka’ab bin Asyraf, penyair yang menghujat Allah dan RasulullahNya (bukan pribadi Nabi tapi kerosulannya) dengan syair-syairnya, Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat beliau, “Siapa yang akan membunuh untukku Ka’b bin Asyraf? Sesungguhnya dia telah menghina Allah dan Rasul-Nya.” Para sahabat dari Aus pun langsung mengeksekusiya.

Ketika mendengar ada seorang wanita Muslimah dilecehkan oleh gerombolan Yahudi Bani Qainuqa, Rasulullah SAW pun langsung menggalang pasukan untuk menyerang perkampungan Yahudi itu. Mereka pun diusir dari Madinah.

Ketika Zaid menghadap ke Rasulullah SAW minta grasi (pengampunan hukum) untuk seorang pencuri dari kalangan Bani Mahzum yang merupakan golongan kelas atas, Rasullah SAW marah besar kepada Zaid, “Apakah kamu minta grasi untuk hukuman yang telah ditetapkan oleh Allah (had)?!!”

Ketika mendapatkan kabar bahwa surat beliau dirobek oleh Kisra, pemimpin Persia, Rasulullah SAW marah lalu berdoa: “Semoga Allah merobek-robek kerajaannya.”

Abu Bakar pun begitu. Ketika tahu Musailimah si Nabi Palsu dan kaumnya tidak mengindahkan kewajiban zakat, Abu Bakar berkata: “Kalau mereka tidak mau membayar zakat seperti mereka membayarnya di zaman Rasul, maka akan aku perangi mereka!”

Umar jangan ditanya. Umar adalah sahabat Rasul yang paling tidak suka kalau syiar-syiar agama dilecehkan atau diabaikan. Ketika Zaid bin Sa’nah -sebelum masuk islam- mencengkeram leher Nabi untuk menagih utang beliau kepadanya, Umar langsung menghunuskan pedang di kepalanya. Untung Rasulullah melarangnya.

Muawiyah, ketika sedang berselisih dengan Ali, lalu kerajaan Romawi mau ikut campur sok-sokan memberi solusi, dikirimkanlah oleh Muawiyah surat kepada Kaisar Romawi. “Apa masalahmu dengan dua orang saudara yang saling berselisih? Kalau kamu tidak diam, akan aku kirimkan tentara yang barisan depannya ada di tempatmu dan barisan belakangnya ada di tempatku. Mereka akan mengambil kepalamu dan membawanya kepadaku.”

Di Indonesia kita ini, izzah lah yang membuat kita terlepas dari cengkeraman penjajah. Andai kita tidak punya izzah, diam saja diinjak-injak oleh penjajah, maka kita tidak akan pernah merdeka. Kita merdeka karena kita sadar bahwa kita ini orang-orang yang mulia dan bukan hamba sahaya.

Rasullah SAW dan para sahabat tidak pernah main-main ketika syiar-syiar agama dinistakan. Syiar-syiar itu adalah harga diri, lambang kehormatan. Agama ini sangat berharga, maka Allah dan Rasulullah menginginkan umatnya agar punya harga diri, kehormatan, dan izzah. Kalau umat ini tidak punya harga diri lagi, tidak mampu menjaga dan membela agama yang mulia ini, maka Allah siap menggantinya dengan umat lain yang layak mengemban misi mulia ini.

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِى ٱللَّهُ بِقَوۡمٍ۬ يُحِبُّہُمۡ وَيُحِبُّونَهُ ۥۤ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِينَ يُجَـٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآٮِٕمٍ۬‌ۚ ذَٲلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُ‌ۚ وَٱللَّهُ وَٲسِعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman! Siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya maka Allah akan MENDATANGKAN suatu kaum yang dicintai oleh Allah dan mereka pun mencintai-Nya. Mereka LEMAH LEMBUT terhadap ORANG-ORANG MUKMIN dan TEGAS (MEMILIKI HARGA DIRI) atas ORANG-ORANG KAFIR. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut akan celaan orang yang suka mencela. Demikian itu adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Maidah: 54).